Home > Opini > Gerakan PAUDisasi: Upaya bersama demi masa depan anak-anak Sumba

Gerakan PAUDisasi: Upaya bersama demi masa depan anak-anak Sumba

Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals) yang akan berakhir pada tahun 2015 merupakan salah satu batu pijakan negara kita untuk merefleksikan semua usaha pengentasan kemiskinan yang telah dilakukan. Salah satu usaha untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan meningkatkan APK (Angka Partisipasi Kasar) PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). APK PAUD sama dengan jumlah anak didik yang duduk di bangku PAUD dibagi dengan jumlah penduduk kelompok usia 0 sampai dengan 6 tahun. APK PAUD di Indonesia sendiri dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2004, APK PAUD masih 24,75%, pada awal 2014 naik menjadi 67,6%. Tahun 2015 sendiri Ditjen (Direktorat Jenderal) PAUDNI (PAUD Non-Formal dan Informal) menargetkan APK PAUD untuk bisa mencapai 75% (diakses dari www.paudni.kemdikbud.go.id).

iklan budi indah

Sumba Timur sampai saat ini belum memperoleh APK PAUD-nya karena sulitnya memperoleh data-data yang dibutuhkan. Hal ini tidak menyurutkan semangat setiap pihak yang peduli anak untuk memperluas akses PAUD di Sumba Timur. Salah satu upaya yang dilakukan adalah gerakan PAUDisasi, satu gerakan yang bercita-cita supaya setiap desa di Sumba Timur memiliki minimal 1 pos PAUD. Gerakan ini diinisiasi oleh Tim Penggerak PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) beserta Bunda PAUD Kabupaten dan Bunda-bunda PAUD Kecamatan dan didukung oleh Dinas PPO (Pendidikan, Pemuda dan Olahraga) dan WVI (Wahana Visi Indonesia). Demi memperluas pengaruh serta memperkuat integrasi kegiatan, gerakan ini juga berencana melibatkan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa, Komunitas Pelita Kasih, ChildFund serta yayasan Adjarmanu. Mengintegrasikan posyandu, gereja serta yayasan-yayasan sosial di dalam gerakan ini dipercaya akan mempercepat pencapaian yang diharapkan.

Pada bulan Maret 2014, pihak-pihak terkait dalam gerakan PAUDisasi akan dipertemukan dalam sebuah diskusi untuk membicarakan peran dan tugas masing-masing pihak untuk mencapai target gerakan PAUDisasi pada deadline yang disepakati. Bulan September 2014 ditetapkan sebagai bulan akhir dari gerakan PAUDisasi dimana harapannya setiap desa akan sudah memiliki minimal 1 pos PAUD. Pertemuan tersebut juga akan membahas mengenai persyaratan-persyaratan administrasi bagi PAUD yang ingin memperoleh surat ijin operasional dari dinas PPO Sumba Timur. Jika perluasan akses PAUD di Sumba Timur ini berhasil, berikutnya akan disusul dengan peningkatan kapasitas serta kualitas dari pos-pos PAUD. Usaha semua pihak tentunya akan lebih berdampak jika setiap orang tua mau memberikan jerih dan payahnya dalam mendidik anak-anak dan mendorong mereka untuk mengikuti PAUD di dalam usia emasnya.

Pikiran yang sering muncul di benak orang tua mengenai pendidikan adalah menabung sebanyak-banyaknya harta agar anaknya kelak bisa duduk di perguruan tinggi yang ternama. Hal ini tidak sepenuhnya salah, asalkan ketika dalam upaya menabung untuk hari esok, anak tidak kehilangan jatah makanan bergizinya pada hari ini. Sayangnya, praktik semacam ini banyak ditemukan di keluarga-keluarga Sumba Timur yang memiliki anak usia dini. Prinsip makan nasi dengan garam hari ini demi makan nasi dengan daging, sayur, buah dan susu pada kemudian hari akan sangat merugikan tumbuh-kembang anak. Para ahli pendidikan anak usia dini berpendapat bahwa (diakses dari www.arnec.net) lebih baik menginvestasikan harta orang tua demi anaknya yang berusia 0-6 tahun (salah satu caranya dengan memasukkan ke PAUD) daripada untuk  anaknya yang sedang duduk di bangku kuliah, yang sudah berusia 18-24 tahun. Hal ini dikarenakan 50% pertumbuhan jaringan-jaringan otak anak  terjadi pada usia emas ini. Sedangkan pada bangku kuliah, jaringan-jaringan otak sudah selesai terbentuk. Bukankah lebih baik memiliki anak yang optimal tumbuh kembangnya sehingga kelak bisa mendapatkan beasiswa sendiri daripada memiliki anak yang duduk di bangku universitas bergengsi namun prestasi pas-pasan? Semoga orang tua Sumba Timur dapat menentukan pilihannya dengan bijak.[*]

*] Indra Yohanes Kiling, Psikolog Komunitas & Staf Wahana Visi Indonesia Sumba Timur

Komentar

komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.