Home > Budaya > Di Desa Wahang, Warga Kembali Gelar Ritual Adat Karaki

Di Desa Wahang, Warga Kembali Gelar Ritual Adat Karaki

Waingapu.Com – Ritual adat Karaki kembali digelar di Desa Wahang, Kecamatan Pinu Waingapu.Com – Pahar, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT, Jumat hingga

Sabtu ( 14-15 Maret) lalu. Ritual yang dipimpin langsung oleh Ma Uratu (Rato) Lu Lakitara, itu rutin dilaksanakan saban tahun oleh warga penganut aliran kepercayaan Marapu itu dimaksudkan untuk mensyukuri hasil panen yang didapatkan sepanjang tahun juga untuk meramalkan hasil panen yang akan datang.

Ritual adat yang dilaksanakan setiap bulan Maret tepat pada saat bulan purnama itu diisi dengan Hamayang (Doa/Sembahyang) oleh Rato sebagai satu rangkaian upacara adat sebelum acara puncak Karaki. Yakni menangkap ikan dengan mengepung ikan di pinggir pantai dengan menggunakan tali kurang lebih 500 meter yang telah dianyam dengan daun pucuk kelapa (janur).

Seperti disaksikan kala itu, pesisir pantai tempat berlangsungnya upacara adat Karaki telah dipenuhi sekitar seribuan warga, baik yang berasal dari kecamatan Pinu Pahar maupun dari Kecamatan tetangga. Para pengunjung harus patuh pada arahan Rato, misalnya tidak boleh melanggar tali dan mendekati air sebelum ada perintah dari Rato.

Adapun ritual adat Karaki ini telah ditetapkan pemerintah sebagai warisan budaya leluhur dengan sebuah Surat Keputusan (SK) dari Pemerintah Daerah Sumtim. Hingga dalam setiap pelaksanaannya, pihak pemerintah setempat senantiasa terlibat dan hadir. Dalam ritual kali ini hadir Maramba Meha, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumtim.

Dalam sambutannya, Maramba Meha mengharapakan, ritual adat Karaki sebagai warisan budaya leluhur harus menjadi sebuah kebanggan daerah dan wajib dilestarikan. “Kita tidak mengaharapkan budaya ini punah, tapi harus dilestarikan karena merupakan salah satu ritual budaya bernilai tinggi dan bisa menjadi daya tarik wisata yang mana diwariskan oleh leluhur kita,” paparnya.

Lebih lanjut Maramba Meha mengatakan, sebagai bentuk pelestarian pariwisata di Sumtim, setiap tahun dinas yang dipimpinnya merekrut anak-anak muda yang punya potensi dibidang pariwisata untuk mengikuti pelatihan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat.

Sayangnya, minimnya promosi serta tidak diketahuinya secara luas ritual ini oleh warga juga para pelaku dan pegiat media massa, menjadikan ritual ini, setiap tahunnya hanya sebatas ritual wajib tanpa adanya terobosan promosi dan publikasi yang memadai.(und)

Komentar

komentar