Home > Opini > ‘Pesta’ Anak: Sebuah Catatan Menjelang HAN 2014

‘Pesta’ Anak: Sebuah Catatan Menjelang HAN 2014

Bulan Juni dan Juli 2014 ini perhatian publik tersita dengan banyak event besar. Debat capres, Piala Dunia 2014, bulan Ramadhan, pemilihan Presiden, Hari Anak Nasional (HAN) serta beberapa kegiatan lainnya. HAN ditetapkan pemerintah pada tanggal 23 Juli untuk mengingatkan kita akan pentingnya kalangan manusia yang berumur dari nol sampai dengan delapan belas tahun ini. Sebagai salah satu kabupaten yang ramai dengan lembaga-lembaga pemerhati keberadaan anak, Sumba Timur tidak pernah sepi setiap menyongsong HAN. Tahun ini sepertinya tidak akan jauh berbeda, meski banyak kegiatan lain seperti yang disebutkan di atas. Setidaknya untuk para institusi penggiat aktivitas anak, yang sudah wajib hukumnya untuk menggelontorkan sejumlah uang demi kelancaran perayaan HAN setiap tahun. HAN biasanya diperingati dengan serangkaian kegiatan sebelum tanggal 23 Juli untuk kemudian ditutup dengan seremonial masif pada hari H. Pertanyaan besarnya adalah apakah perayaan tahun ini sudah benar-benar menyasar target utamanya yaitu anak? Atau akankah peringatan tersebut menjadi ajang pemuasan ego dari para orang dewasa?

Sebagai salah satu aktivis anak yang pernah melewatkan masa di Sumba Timur, penulis pernah melewati satu kali perayaan HAN di Sumba Timur, yaitu pada tahun 2013. Pada saat itu penulis terlibat dalam beberapa kegiatan seperti Na Anamu yang diadakan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) serta Gebyar PAUD yang dimotori oleh Bidang Pendidikan Luar Sekolah (PLS) dari dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Sumba Timur. Dua kegiatan ini telah beberapa kali diadakan di Sumba Timur dan besar kemungkinan akan berlangsung kembali pada tahun 2014 ini. Beberapa catatan muncul dari rentetan kegiatan yang total budgetnya mencapai 9 digit tersebut. Pertama, anak sudah terlibat dalam pelaksanaan kegiatan walau masih berfungsi sebagai boneka tangan yang kreasinya dibatasi oleh ‘aktor’ sesungguhnya. Anak tidak terlibat dalam penyusunan konsep-konsep acara, hanya dipersilahkan untuk memfasilitasi kegiatan seperti MC dan pengisi acara (paduan suara, drama, dll). Alhasil pada hari H, pelaksanaan kegiatan terlihat tidak terkoordinir dengan baik. Anak-anak sebagai fasilitator terkesan kurang menjiwai konsep acara yang bukan lahir dari benak mereka. Ego sang ‘aktor’ di balik layar yang gemar mengganti-ganti konsep sesuka hati sendiri dalam waktu yang mepet memperburuk suasana. Hal ini dipercaya penulis akan membatasi keberlangsungan (sustainability) dari kegiatan semacam ini. Ketika institusi memutuskan tidak lagi menyelenggarakan kegiatan, maka anak-anak pun akan berhenti berkreasi. Ibarat anak yang terbiasa disuap, ketika suapan terhenti, anak enggan makan sendiri.

Catatan kedua adalah mengenai lomba tarik tambang anak usia dini (AUD). Lomba ini secara teori mungkin meyakinkan, justifikasinya datang dari stimulasi perkembangan gerakan motorik kasar anak. AUD yang berlomba mendapatkan kesempatan untuk memperkuat gerakan motorik kasarnya sekaligus pengalaman bermain sebagai satu tim dengan teman-temannya. Namun pada penerapannya, penulis melihat kegiatan ini lebih diramaikan oleh ego orang tua dan/atau guru. Orang tua dan guru lebih berambisi untuk menang ketimbang melihat anaknya senang. Anak-anak diteriaki saat sedang menarik seutas tali. Ketika menang, orang tua sibuk memuji diri sendiri. Jika kalah, tidak jarang anak menerima bonus maki. Sebuah ironi yang menyayat hati jika kita benar-benar menginginkan yang terbaik bagi sang buah hati.

Kedua hal di atas hanya beberapa dari banyak peristiwa saat kegiatan HAN yang menyiratkan kebesaran ego sang orang dewasa, yang acap kali menutup makna dari tema peringatan HAN yang sebenarnya (tema berbeda setiap tahun). Pelaksana kegiatan baiknya mempersiapkan lebih baik lagi untuk melangsungkan kegiatan yang benar-benar membawa manfaat jangka panjang untuk anak. Dana kegiatan HAN yang sangat besarjuga bisa dirampingkan untuk kemudian disalurkan ke pos lain yang lebih membutuhkan. Pemberdayaan dan pemenuhan hak-hak anak kita akan lebih berguna dari sekedar ‘pesta’ tahunan yang menyenangkan hati semua orang lalu kemudian tidak memberi keuntungan untuk masa depan anak.[*]

*] Indra Yohanes Kiling, Dosen Psikologi Universitas Nusa Cendana

Komentar

komentar