Home > Hiburan > Poetoe Jogs: “Jempol Untuk Penikmat Tattoo Waingapu”

Poetoe Jogs: “Jempol Untuk Penikmat Tattoo Waingapu”

Waingapu.Com – “Melukis tubuh dengan tattoo adalah seni atau jalur untuk mengutarakan ekpresi dan menyalurkan inspirasi. Hal itu sudah sejak lama ada dalam hati saya,

sejak saya menjadi penikmat dan menjadi seniman tattoo,” jelas Poetoe Jogs, seniman tattoo asal Pulau Dewata, Bali, kala ditemui pertama kali di studio dadakannya di YHS Mart, Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT, beberapa hari lalu.

Pria berputera satu itu dengan ramah menceritakan kesannya pertama kali datang ke Kota Waingapu. ”Saya sempat gugup dalam penerbangan, soalnya pertama kali saya numpang pesawat yang pakai baling-baling. Saya sempat bertanya dalam hati, sampai Waingapu nggak saya? Namun akhirnya sampai juga, saya senang dan beri jempol pada penikmat tatto di Waingapu yang menghadirkan saya via Bang Yongky owner YHS Mart,” paparnya.

Rasa senang dan ingin tahu lebih banyak tentang Sumba, nampak dari wajahnya ketika ditemui berikutnya, usai beristirahat sejenak pasca menjalani aktifitas mentattoo pada tujuh orang penikmat tattoo.

“Oooo, ternyata di kampung-kampung banyak kakek dan nenek yang bertattoo. Semoga nanti saya bisa datang ke sini dan punya waktu untuk mengunjungi salah satu kampung adat. Siapa tahu saya bisa mendapat inspirasi disana,” timpalnya.

Yaaa, selama seminggu Poetoe Jogs, yang juga piawai memainkan gitar itu bahkan sempat menbentuk sebuah band di Kota Denpasar itu total telah melukis lebih dari 20 anggota tubuh ‘penikmat’ dan ‘penggila’ tattoo di kota Waingapu itu.

Poetoe pun tak menampik hingga kini belum semua orang bisa menerima tatto sebagai salah satu ekspresi seni. ”Memang belum semua orang bisa menerima tattoo adalah sebuah ekspresi seni. Namun demikian saya tetap pantang nyerah. Saya rela datang ke sini, bukan semata-mata untuk mengejar materi. Karena di Bali, saya sudah bisa hidup dengan tattoo, saya juga punya studio tatto, minimal sehari saya layani tiga orang, kadang-kadang saya dipanggil untuk tattoo di Ubud sesekali bantu rekan-rekan yang punya studio di Legian,” imbuhnya.

Menemukan studio tattoo dengan peralatan modern, tinta impor terbaru dan mengedepankan unsur steril, sulit untuk di temui di Kota Waingapu. ”Saya harap suatu waktu nanti, ada studio tatto modern dan steril di Waingapu. Tapi tentu itu hanya akan terwujud jika para penikmat dan pecinta tattoo mau memberikan apresiasi yang pantas pada hasil karya seniman tattoo,” timpalnya seraya menambahkan raungan mesin tattoo, aneka warna tinta dan ragam karakter manusia yang ditemui, justru menjadi pelecut semangat seniman tatto untuk memberikan hasil terbaik memuaskan penikmat seni yang masih sering dipandang sebelah mata itu.

Bagi para penggila tattoo, sekalipun rasa sakit tetap menjadi bagian mutlak dan tak bisa dihindari, justru rasa sakit itu dirindukan. “Sakit ya pasti sakit, bohong kalau tidak sakit, namun kalau sudah tekad dan niat ya jalani saja. Ibarat pacaran, walau kita tahu resikonya sakit kalau nanti diputusin toh tetap kita mau dan sulit untuk tidak pacaran lagi,” tandas Komang, seorang penikmat tattoo yang ditemui usai mentatto leher kiri dan leher depannya itu guna memperkaya aneka tattoo yang telah menghiasi beberapa bagian tubuhnya itu.

Kontroversi tattoo adalah seni boleh terus bergulir, namun tattoo tetaplah seni, paling tidak asumsi itu bagi para pelaku dan penikmatnya. Karena bagi mereka, melukis raga dengan tattoo adalah manifestasi riil dari pepatah ‘bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian’.

Anda tertarik melukis raga untuk eksitensi jati diri yang tak lagi sebatas mimpi? “Saya berharap suatu waktu bisa kembali ke kota Waingapu, untuk menemui penikmat tattoo,” asa Poetoe Jogs menjawab harapan pecinta tattoo.(ion)

Komentar

komentar