Home > Lingkungan Hidup > Bupati Sumtim: “Lebih dari 100 Desa Terdampak Kekeringan”

Bupati Sumtim: “Lebih dari 100 Desa Terdampak Kekeringan”

Waingapu.Com – Kekeringan sebagai dampak kemarau panjang yang berimbas pada ancaman kelaparan (rawan pangan) terus mendera sejumlah wilayah di Kabupaten

Sumba Timur (Sumtim), NTT. “Hari ini akan disalurkan bantuan dalam bentuk beras cadangan pemerintah pada sejumlah desa di Kecamatan Pandawai dan Kecamatan Matawai La Pawu,” jelasnya ketika dihubungi via fasilitas Black Berry Massenger (BBM), Selasa (21/10) pagi.

Pernyataan Gidion itu kian mempertegas penjelasannya, Senin (20/10) siang kemarin ketika dikonfirmasi wartawan terkait ancaman rawan pangan sebagai dampak kekeringan dan kemarau panjang di sela-sela seremoni Hari Pangan Sedunia di Arena Taman Wisata Sweemback, Matawai.

“Benar ada kekeringan sebagai dampak kemarau panjang dan rendahnya curah hujan sejak tahun lalu juga tahun ini. Terkait kondisi itu kami telah siapkan untuk intervensi dalam bentuk bantuan beras cadangan pemerintah yang menjadi kewenangan Bupati sebanyak 100 ton dan 76 ton beras yang didanai APBD II. Kalau nanti masih kurang sangat dimungkinkan meminta bantuan ke Pemerintah Propinsi,” jelasnya seraya lebih dari 100 desa yang tersebar pada 18 Kecamatan mengalami dampak paling parah dari kekeringan dan kemarau panjang.

“Untuk pembagiannya tentu akan diprioritaskan pada sjumlah desa yang sesuai dengan pendataan dan pemetaan masuk kategori merah atau rawan,” timpalnya.

”Cari iwi itu sebenarnya tradisi sejak lama yang diwariskan leluhur. Itu tradisi diversifikasi yang sejak orde baru mulai luntur karena ada penyegaraman beras sebagai makanan pokok. Sehingga ada orang yang beranggapan bahwa jika belum makan nasi artinya belum makan,” papar Palulu P. Ndima, Ketua sementara DPRD setempat, menanggapi realita di sejumlah wilayah adanya warga yang mengaku karena kehabisan stok beras dan jagung, akhirnya harus ke hutan dan menyusuri padang sabana untuk mencari ubi beracun guna di olah menjadi makanan sehari-hari.

Palulu tegas menjelaskan mencari atau mengkonsums iwi tidaklah berkorelasi langsung dengan kelaparan ataupun gizi kurang dan gizi buruk yang terjadi. ”Sejak masa silam bulan September hingga November memang merupakan bulan yang ideal untuk warga memanen atau mencari ubi hutan atau iwi untuk dijadikan makanan tambahan juga cadangan pangan. Kalau sudah hujan ya tidak bisa lagi dipanen itu iwi karena sudah tumbuh lagi. Jadi memang panennya bulan-bulan gini,” timpal Palulu.

Ramai dberitakan sebelumnya oleh sejumlah media massa, beberapa wilayah di Sumtim dilanda kekeringan dan terancam rawan pangan atau kelaparan. Menyiasati kehabisan stok beras dan jagung sebagian warga terpaksa harus mencari ubi-ubian di hutan dan di padang. Ubi-ubian yang disebut warga dengan ‘iwi’ itu masih harus diolah dengan telaten terlebih dahulu. Juga memakan waktu lebih dari olahan bahan pangan lainya barulah bisa di konsumsi, pasalnya mengandung bahaya racun mematikan.(ion)

Komentar

komentar