Home > Olahraga > Spirit Ala Sasana Blazer “Keterbatasan Yang Justru Memotivasi” (Bagian 3-Habis)

Spirit Ala Sasana Blazer “Keterbatasan Yang Justru Memotivasi” (Bagian 3-Habis)

iklan budi indah

Waingapu.Com – Lebih lanjut Ardi menjelaskan, saat berlatih di ruko memang tak seberapa nyaman, pasalnya selain hanya menggunakan halaman ruko, adakalanya ketika

berlatih, beberapa kali harus terhenti karena harus menghindar keluar masuk kendaraan yang melakukan aktifitas bongkar muat barang.

Minimnya peralatan latihan memang hingga kini masih menjadi kendala utama Ardi dalam membimbing anak-anaknya berlatih di Sasana itu. “Kalau alat-alat latihan ya sebisa mungkin kalau saya menabung sedikit demi sedikit dengan menyisikan gaji saya,juga dari menyisikan sebagian hadiah uang atau bonus para petinju yang mendapat juara. Jika sudah pas yaa bisa saya belikan alat semisal handskull (sarung tinju).Walaupun yang dibeli jauh dari standart namun mau bagaimana lagi, dari pada tidak ada sama sekali. Minimal 200 hingga 300 ribu sekali beli handskull, jadi bertahan sebisa mungkin agar sasana ini tetap hidup,” jelas Ardi.

Umumnya demikian lanjut Ardi, anak-anak dan pemuda Sumba secara fisik sangat potensial untuk dijadikan atlet tinju. Fisiknya bagus, karena memang bawaan alam, yang perlu ditambah dan diasah oleh pelatih adalah disiplin,skil atau teknik.

”Kalau dari sisi mental bertanding dan fisik secara umum anak- anak Sumba sudah memadai. Alam telah membentuk mereka. Tak perlu contoh jauh-jauh, saya dulu badan kecil mainnya di kelas 45 hingga 49 kilogram, tapi kenapa saya bisa menjadi petinju yang diperhitungkan, itu karena fisik saya sekalipun kecil namun punya daya tahan juga semangat tanding, skill saya baru kemudian diasah,” jelas Ardi.

Adapun di lokasi sasana Blazer ini yang tepat berada di samping rumah Ardi, memang sangat nyata keterbatasannya. Betapa tidak, lazimnya sasana tinju pastilah ada ring tinjunya namun tidak demikian halnya di Blazer. Lazimnya pula para petinju melatih atau menempa footwork (gerakan kaki) dengan menggunakan tali skiping, tapi di Blazer tidak semua atlet tinju di sini menggunakan skiping.

”Skiping memang ada, namun tidak menjadi satu-satunya alat untuk melatih kecepatan gerakan kaki atau footwork petinju. Mau diseragamkan penggunaan skiiping tapi perlu dana tambahan untuk membelinya. Daripada keluar uang lebih baik saya pikirkan solusi lain dan terapkan apa yang pernah saya pelajari dulu,” tandasnya.

Ya, Ardi secara jujur mengakui dirinya tidak bisa bermain tali skiping, juga sejumlah atlet binaannya alami hal serupa. Ardi mengaku, dulu untuk melatih kecepatan kaki, ia menggunakan ban bekas truk. Caranya adalah dengan melompat-lompat di atas ban bekas, karena berbahan karet tentu akan menciptakan daya lenting/lontar.

”Ini ban bekas truk dan juga mobil lainnya. Saya dapatkan ini gratis dari teman-teman juga saya ambil dari gudang pemda. Kan kalau ban sudah gundul ya di ganti. Jadi yang gundul saya ambil. Saya dulu pakai ban juga untuk latih footwork, hasilnya malah saya bisa lebih bagus dan bahkan bisa mengalahkan petinju yang menggunakan skiping. Intinya, tak ada rotan akarpun jadi,” jelas Ardi.

Sansak untuk tinju juga hanya satu, untuk itu disiasati satu sansak dibuat dari ban dalam bekas mobil dan direkatkan dengan paku di sebuah tiang. Ini salah satu bukti lain, bahwa peralatan minim tak lantas membuat patah semangat.

“Saya latih dengan hati, tidak ada iuran layaknya tempat latihan bela diri lainnya. Di sini kalau memang mau belatih silakan datang, tidak datang juga tidak saya paksa, saya latih dengan hati tentunya saya juga mencari petinju yang memang karena panggilan hatinya mau berlatih. Bukan karena tekanan keluarga atau pihak lain,” tegasnya.

Dari seringnya membawa para atlit dan anak sumba bertanding keluar daerah baik di tingkat propinsi bahkan nasional menjadikan Ardi kenal dengan sejumlah pelatih dari pulau Jawa dan Bali. Dari pertemuan-pertemuan itulah komunikasi dibangun Ardi.

”Kalau bawa petinju keluar daerah ikut kejuaraan nasional jadinya kita ketemu dengan para pelatih dari pulau Jawa dan Bali. Mereka kagum dengan para petinju asuhan saya, hingga kalau nanti petinju saya ingin lebih maju dan berlatih di sasasan dengan peralatan yang lebih memadai ya saya lepas dan tawarkan ke teman-teman pelatih yang memang sangat ingin merekrut dan melatih petinju Sumba khususnya dan NTT umumnya. Kalau di daerah lain mereka lebih diperhatikan dan juga dihargai lebih pantas keringat dan prestasinya, ya saya ikhls dan sarankan mereka untuk merantau dan berlatih lebih serius di Bali dan di Jawa. Dari situ mereka bisa mengangkat harkat ekonomi mereka bahkan keluarganya. Chornez Kwangu, atau Kornelis yang baru-baru ini mewakili Indonesia dalam Asian Games itu dulu pernah saya poles di sini, juga Apniel Daniel yang pernah mendapat juara kelas bulu di kejurnas Sarung Tinju Emas  pernah saya latih, kini menjadi atlet PON Jawa Timur. Kalau untuk petinju professional ya Defry Palulu juga pernah saya poles dan latih disini, itu sebagian dari puluhan petinju yang pernah berlatih di sini,” paparnya.

Jika ada petinju yang sudah dilatih dengan aneka cara dan formula latihan namun tak jua menunjukan perkembangan, Ardi punya cara tersendiri yakni berbicara empat mata dan membuka hati.

”Saya ajak bicara empat mata dan buka hati. Saya jelaskan bahwa memang yang bersangkutan tidak bisa menjadi petinju yang baik. Mungkin di olahraga atau di bidang lain bisa menunjukan prestasi,” timpal Ardi yang mengaku mengucap syukur yang tak terkira kepada Tuhan yang Maha Kuasa karena sejak ia melatih sekalipun dengan peralatan seadanya tidak pernah ada anak asuhnya mengalami inseiden kecelakan yang fatal.(ion)

Komentar

komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.