Home > Korupsi > Di Sumtim: Dana ’Aladin’ Kemenpera Munculkan Polemik

Di Sumtim: Dana ’Aladin’ Kemenpera Munculkan Polemik

waingapu

Waingapu.Com – Penyaluran dan realisasi dana rehabilitasi rumah masyarakat pada sejumlah Kecamatan di Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), Propinsi NTT berujung masalah. Pasalnya sejumlah warga yang terdata sejak tahun 2012 silam, justru saat direalisasikan bantuan itu pada tahun 2014 ini, justru tidak mendpatkan bantuan juga ada warga yang mendapatkan bantuan namun disinyalir jauh dari jumlah bantuan yang semestinya diterima atau dijanjikan. Tak ayal hal itu berdampak lahirnya kecurigaan warga dana tersebut ditilep untuk keuntungan sejumlah oknum.

Adapun dana rehab itu dikucurkasn oleh Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) melalui Dinas Pekerjaan Umum (Din-PU) Kabupaten Sumtim itu hingga kini terus menggulirkan kecurigaan dan rasa ketidakpuasan sejumlah warga yang ditemui.

”Kami dijanjikan terima dana 7,5 juta rupiah. Kami di suruh ke BRI, disana kami disuruh tandatangan untuk buka rekening karena ada dana buat kami 7,5 juta. Kami tandatnagan slip setoran juga slip penarikan tapi itu uang sama sekali tidak sempat kami lihat dan pegang,” jelas Kawau, salah seorang warga yang ditemui pekan lalu di Hambapraing, Kecamatan Kanatang.

Lebih lanjut Kawau yang ditemui di kediamannya yang berkontruksi panggung dengan bale-bale bambu yang mulai nampak keropos dan bolong-bolong menjelaskan, baru mendapatkan bantuan berupa pasir, paku, seng, dan semen. Yang kalau ditotalkan justru tidak mencapai nominal 7,5 juta rupiah.

“Saya sudah pergi mengadu di PU. Saya minta untuk ambil kembali ini barang dari pada mubazir. Masa saya dapat paku tapi tidsak dapat kayu, saya butuh semen 20 zak dapat 5 zak. Kan tidak mungkin saya paku ini paku-paku di lubang hidung. Waktu data lain, namun saat dibagikan lain,” paparnya seraya menambahkan di desa Hambapraing di data 20 kepala keluarga (KK) menerima bantuan. Namun dari 20 KK itu, masih terdapat 3 (tiga) Kepala Keluarga yang belum mendapatkannya sama sekali.

Keluhan yang hampir senada juga disuarakan Getrudis Kahi, tetangga Kawau yang ditemui ketika sedang sibuk bergelut dengan kepulan asap di dapurnya.”Saya sudah sempat di data dan didatangi pemerintah dari Waingapu yang pakai seragam dan mantan Kepala Desa. Bilang mau foto untuk dapat bantuan tapi sampai sekarang belum juga kami dapat,” jelasnya.

Sememtara Adrianus, warga desa Kuta yang ditemui di kediamannya menjelaskan, dirinya memang telah menerima bantuan namun jika dikalkulasi ternyata tidaklah sejumlah 7,5 juta rupiah.

“Yang saya herankan lagi pernah kami dipanggil ke kantor desa dua kali untuk tanda tangan berkas. Saya lihat itu bukan kwitansi tapi macam RAB atau LPJ. Saya tidak mau tanda tangan, karena ada barang dan jumlah barang yang belum dan tidak sesuai yang saya terima. Jadi saya tolak tanda tangan. Kalau sampai nanti ada tanda tangan saya di berkas itu, artinya ditiru atau dipalsukan,” timpal Adrianus.

Adapun pihak Din-PU khususnya bidang Cipta Karya, mengakui adanya keberatan warga. Pihak dinas hanya berjanji akan menelusuri masalah ini untuk selanjutnya dicarikan solusinya. “Yang kami tahu adalah ada sebanyak 204 unit rumah dengan bantuan stimulan yang diberikan perumah 7,5 juta rupiah. Dengan ketentuan bahwa Aladin atau diperuntukan dana itu bagi atap, lantai dan dinding. Kalau keluhan masyarakat itu kami tegaskan bahwa kalau ikut mekanisme atau petunjuknya setelah kita verikasi dan indentifikasi, rekeningnya dibuka oleh masyrakat langsung di bank. Dan sebenarnya lengkap dia terima. Namun kemudian sesuai rencana penggunaan dananya itu diputuskan oleh masyarakat sendiri dengan menunjukan supliernya. Jadi yang bisa kami lakukan adalah hanyalah sebatas membantu mempertanyakan kepada suplier. Kami juga tidak punya kewenangan sebenarnya untuk memanggil suplier karena bukan kami yang menentukan supliernya tapi masyarakat sendiri,” papar Yulius Ngenju, Kepala Bidang (Kabid) Cipta Karya ketika ditemui wartawan di ruang kerjanya pekan lalu.

Harapan warga terkait dana bantuan berformat ’Aladin’ ini sejatinya tak terlampau ribet. Yakni transparan dijelaskan penggunaan dan peruntukan dana yang dijanjikan dan dikucurkan. Asa warga adalah agar dana itu tidak semisteri ‘Jin’ yang muncul dan tiba-tiba menghilangpun tiba-tiba dari dalam lampu Aladin pada cerita dongeng 1001 malam.(ion)

Komentar

komentar