Home > Pendidikan > Pencerita Ulung

Pencerita Ulung

Waingapu.Com – Ruang tamu kurang lebih berukuran 3 x 6 m hampir saban hari terdengar bunyi “tik” serta bunyi gesekan antar “gear” mesin yang sesekali mengalun

lembut. Pada sudut ruangan bagian barat terdapat lemari kaca yang berhimpitan dengan meja pada sisi barat berjejal buku-buku hampir setinggi 50 cm. Ruangan ini menjadi ruanga kerja Penulis Generalis Frans Wora Hebi yang tanggal 31 Desember 2015 genap berusia 70 tahun.

Pensiunan guru swasta tahun 2011 lalu, menjadi pengajar sejak tahun 1968. Ia juga aktif sebagai jurnalis hingga kini dengan memberikan tulisan ke beberapa majalah. Total sudah 35 majalah dan surat kabar yang telah memuat beberapa tulisan dan beritanya. Tulisannya lebih banyak tentang cerita rakyat sumba yang mengandung pesan moral yang sangat kental. Cerita rakyat yang ditulis pak Frans biasanya dalam bentuk legenda, mithe, fable dan sage, seperti cerita tentang mengapa ubi gadung beracun, dewi atau bidadari Rambu Kahi Maranongu yang turun ke bumi mengajari orang untuk menggunakan api, serta cerita monyet dan musang atau Bhuti dangu Lambaku.

Untuk bisa dibagiakan kepada sesama pak Frans bekerja sama radio swasta setempat dan berbagi ceritanya kepada seluruh pendengar sekali dalam seminggu dalam acara Bengkel Bahasa.

Setengah abad lebih dilalui dengan tulis menulis sambil diteminani isteri tercintanya Elisabeth Rendi yang selalu sibuk dengan mesin jahitnya. Jadi ketika menulis selain teman kesayangannya “laptop” yang dulunya “mesin tik” yang sudah dipensiunkan 5 tahun lalu, sang isteri juga berfungsi ganda yang sekali-kali bisa menjadi nara sumber dalam tulisannya karena latar belakang isterinya adalah seorang Wunang atau tokoh adat.

“Cerita rakyat sesungguhnya adalah gambaran pendukung dari budaya itu, sehingga orang bisa mengetahui budaya orang sumba lewat cerita rakyat. Bila saya tidak memulai menulis tentang budaya lewat cerita rakyat maka dengan sendirinya maka budaya akan hilang karena sangat sedikit sekali penulis yang mau menulis tentang budaya. Sekarang ini yang ada justru penulis dari luar negeri seperti Amerika, Australia, Belanda,” katanya.

“Sebenarnya untuk mencintai bangsa dan menciptakan bangsa yang cerdas itu harus dimulai ketika anak belum memasuki usia sekolah, jadi tak perlu harus perang-perangan, omong kosong dalam dunia politik, cukup dengan mulai bercerita kepada anak-anak kita sebelum memasuki usia sekolah tentang cerita-cerita rakyat di sekitar kita yang kental dengan kearifan lokal, sesungguhnya kita sudah membangun generasi yang cerdas dan cinta tanah air,” jelasnya.[*]

Penulis: Ignas Inyas Kunda

Komentar

komentar