Home > Humaniora > Bayi Vito dan Cengkeraman Prahara Gizi Buruk

Bayi Vito dan Cengkeraman Prahara Gizi Buruk

Waingapu.Com – Kalau saja kehidupan ekonominya jauh lebih baik, tidak semata berharap pada hasil panen pada lahan kering yang ditanami palawija dan jagung, juga

pada hasil laut disekitar wilayah pantai Mondu, tentu prahara yang menimpa Vito Marcello, bayi berusia 11 bulan buah cinta pasangan Nicolina May dan Stefanus Nggiku boleh jadi tak menjadi kisah miris rumah tangga miskin yang tinggal di wilayah Hambuang, Desa Rambangaru, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT.

Betapa tidak, Vito yang lahir normal dan menjanjikan sukacita bagi kedua orang tuanya, justru kemudian harus diperhadapkan dengan kondisi sakit yang tak mampu dihadapi kedua orang tuanya. Sakit yang kemudian membawa dampak kondisi bobot tubuh Vito tidak layaknya bayi-bayi lain seusianya.

“Lahirnya normal di Puskesmas, tapi beberapa hari kemudian dia punya badan kuning, Bidan bilang kurang cahaya, jadi kami disuruh jemur kena matahari pagi. Tapi kemudian dia punya badan panas lalu dikasih obat sama perawat, sejak itu sudah dia kemudian gatal-gatal badannya kemudian badannya tidak naik bahkan kelihatan kurus begini,” jelas Nicolina May ketika ditemui wartawan di kediamannya pekan silam.

Puskesmas Rambangaru, seperti dijelaskan lebih lanjut Nicolina menaruh perhatian serius pada perkembangan Vito. Petugas dari Puskesmas secara periodik datang memantau perkembangan Vito dan menyalurkan PMT (Pemberian Makanan Tambahan). Namun hingga kini kondisi Vito belum sepenuhnya pulih.

“Bidan sering ke sini pantau perkembangan Vito, kami juga pernah pergi Puskesmas. Tapi ya seperti ini sudah dia, badanya masih kurus, batuk-batuk juga gatal-gatal dibadannya belum hilang,” tutur Nicolina melawan tangisan lirih Vito yang tersiksa dengan gatal-gatal yang dialaminya yang mana nampak dari tangan dan kakinya bergerak menggaruk dan menggosok beberapa bagian tubuhnya yang gatal.

“Idealnya Vito berbobot 10 hingga 11 kilogram, namun sayang bobotnya hingga kini hanya 6,6 kilogram, ditambah lagi ada penyakit penyerta seperti anemia dan gatal-gatal di beberapa bagian tubuhnya, itu yang membuat perkembangan Vito terhambat,” jelas Solvina Y. Danga, petugas Pelayan Gizi dan Bidan yang mendampingi Kepala Puskesmas Rambangaru, Tjokorda G.A. Dhanuja, ketika ditemui di ruang kerjanya pekan silam.

Anak dan bayi yang didera gizi kurang dan gizi buruk, menjadi problema klasik sebongkah bumi yang bertekad mewujudkan kesejahteraan warganya dalam bingkai Matawai Amahu Pada Njara Hamu ini. Cengkeraman kemiskinan justru masih sangat kuat terasa hingga ke pelosok, sebuah pose miris yang layak menjadi permenungan para petinggi dan politisi, jika memang masih mau pintu hatinya terketuk.(ion)

Komentar

komentar