Home > Berita > Warga Kritisi Proyek DiPesisir Pantai Kampung Bugis

Warga Kritisi Proyek DiPesisir Pantai Kampung Bugis

iklan budi indah

Waingapu.Com – Beragam cara bisadilakukan warga untuk menyatakan kepeduliannya menyikapi proyek-proyek pembangunan di wilayahnya. Salah satunya adalah dengan cara mengamati proses pekerjaan bahkan merekam video dan mengambil foto. Seperti halnya yang terjadi pada proyek penataan pemukiman dalam bentuk pembangunan drainase, trotoar dan jalan yang tersebar di Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT. Kali ini wilayah pesisir Kampung Bugis yang disoroti warga.

Video dan foto yang diterima awak media menunjukan indikasi pembangunan drainase dan trotoas menggunakan campuran semen dan pasir yang rendah kualitasnya. Dalam foto yang diterima menunjukan ciri-ciri campuran yang tidak seperti layaknya campuran yang lazim ditemui. Tidak heran jika kemudian ada warga yang beseloroh bahwa ada ‘temuan baru’ campuran menggunakan semen dan tanah merah.

Video dan foto yang diambil warga yang enggan untuk identitasnya terungkap lebih jauh itu, boleh jadi menjadi bentuk partisipasinya melakukan kontrol dan juga menunjukan sikap kritisnya. Identitasnya boleh saja belum mau terexpose namun paling tidak tujuannya jelas, yakni proyek yang dikerjakan bisa lebih berkualitasdan berumur panjang.

Terkait hal itu, wartawan kemudian mendatangi proyek dimaksud. Di lokasi diperoleh pengakuan dari para pekerja, bahwa mereka hanya bekerja dengan material yang memang telah disiapkan, pekerja juga menunjukan pasir yang digunakan sebagai campuran semen untuk proyek ini. “Ini pasirnya, kami pakai pasir gunung untuk campur dengan semen,” jelas salah seorang pekerja.

Adapun proyek Dirjen Cipta Karya Propinsi NTT untuk penataan pemukian dan infrastruktur itu menelan dana lebih dari Rp. 18,4 miliar yang bersumber dari APBN murni, dikerjakan oleh kontraktor PT.Alam Flores KSO PT.Erom.

Proyek ini pula yang beberapa waktu lalu sempat diberitakan. Dan pihak kontraktor pelaksana melalui General Superintendentnya kala ditemui beberapa waktu lalu menegaskan, pekerjaan yang dilakukan tidak menyimpang dari spesifikasi.

“Memang benar ini pasir gunung yang digunakan, namun tidak semua pasir gunung itu jelek, apalagi kami telah lakukan uji lab sebelum dipakai. Dan telah memenuhi persyaratan spek,” tandas Yarit Ello, General Superintendent proyek yang didampingi Manager umur Julius N. Ludjiwara serta Stefanus Pandu selaku pelaksana proyek ketika ditemui dilokasi proyek.(ion)

Komentar

komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.