Home > Ekonomi > Kata Karyawan, PT. PAS Hadir Disaat Yang Pas

Kata Karyawan, PT. PAS Hadir Disaat Yang Pas

Waingapu.Com – PT. Palma Asri Sejahtera (PAS) yang melakukan investasi dalam bidang perkebunan dalam bentuk budidaya jarak kepyar, dinilai para karyawannya sangat

membantu perekonomian keluarga. Investasi PT. PAS yang berlokasi di Desa Napu dan desa-desa sekitarnya di wilayah Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT, itu dirasakan hadir pada saat yang pas atau tepat. Para karyawan berharap investasi ini bisa berlangsung dalam jangka panjang hingga merekapun bisa mendapatkan pengasilan tetap dalam jangka panjang pula.

“Kehadiran PT. PAS membawa perubahan berarti bagi saya dan keluarga, yang lalu saya nganggur di rumah, paling-paling urus satu dua ekor ternak kambing dan ayam, kalau stok makanan menipis kami jual ayam dan telur ayam di pasar. Sekarang ayam dan kambing kami bisa dipelihara lebih banyak lagi karena untuk beli makan dan minum sudah bisa kami pakai gaji kami tiap bulan setelah bekerja di PT. PAS. Bahkan tiap bulan kami bisa tabung sedikit gaji kami untuk masa depan dan kebutuhan mendadak,” jelas Yacobus Hambaora, karyawan PT. PAS yang ditemui pekan silam.

Lebih lanjut Hambaora mengaku, kini seiring banyaknya warga yang direkrut sebagai karyawan di perkebunan, keamanan dan kenyamanan lingkungan lebih terjaga.

“Ternak-ternak jauh lebih aman kami pelihara, banyak kami yang kerja di sini, dulunya kami banyak yang nganggur jadi gampang terhasut untuk berpikir pendek dengan melakukan perbuatan negatif, sekarang tidak lagi, pencuri tidak ada lagi kalaupun ada itu orrang dari luar desa kami,” timpalnya.

“Saya baru habis beli sirih pinang Pak, saya beli banyak karena mau bawa ke keluarga yang ada adat. Saya pakai sebagain uang gaji saya untuk beli sirih pinang, tahu sudah kita orang Sumba kalau makan sirih pinang. Kalau dulu saya harus jual ayam di paranggang atau papalele baru bisa sumbang sirih pinang, sekarang saya pakai uang gaji saya. Ayam bisa saya pelihara jadi lebih banyak, dan bisa dijual nanti kalau mau tambah-tambah beli buku anak sekolah,” kisah Meta Ndaku, karyawan lainnya yang ditemui.

Tak dipungkiri, investasi bidang perkebunan hingga kini masih menjadi polemik, seperti investasi disinyalir sebagai penyebab kekeringan hingga investasi yang tidak dilengkapi dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) namun telah gencar melakukan aktifitasnya.

Namun tak dapat pula dipungkiri, ratusan karyawan yang merupakan warga desa di wilayah yang merupakan sentra investasi perkebunan telah mulai menggantungkan harapan dan cita-cita untuk masa depan diri dan keluarganya dari investor lewat penghasilan tetap yang akan mereka terima.

“Kalau bisa ini PT bisa lama ada di sini. Biar kami bisa terus bekerja dan mendapatkan penghasilan tetap. Kami perlu biaya untuk hidup dan juga sekolah anak-anak. Kalau hanya harap kebun dan ternak satu dua ekor saja susah, apalagi disini memang sejak dulu daerah susah hujan,” imbuh Hambaora yang mengaku merupakan ayah tiga orang anak itu.(ion)

Komentar

komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.