Home > Opini > Hikmah Dibalik Banjir Bandang Yang Menimpa Desa Wanga & Desa Patawang

Hikmah Dibalik Banjir Bandang Yang Menimpa Desa Wanga & Desa Patawang

Deddy Febrianto Holo

Sejak awal tahun 2016 investasi besar-besaran dibidang perkebunan monukultur hadir di Desa Wanga dan Desa Patawang Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur. Perusahaan yang menamakan diri PT. Muria Sumba Manis (PT.MSM) telah beroperasi di Dua Desa tersebut dengan luasan ribuan hektar. Perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan tebu ini sebenarnya di tolak oleh warga pemilik ulayat di Wanga dan Patawang yaitu Kabihu Lamuru dan Kabihu Lukuwalu. Namun kekuatan yang dimiliki masyarakat tidak cukup memadai sehingga aktifitas perusahaan pun dilakukan secara paksa. Pihak pemilik ulayat setempat merasa dirampas haknya sebagai pemegang ulayat. Salah satu alasan penolakan warga di dua Desa ini yaitu tidak dilibatkannya dalam pengambilan keputusan terkait investasi tersebut. Sehingga setiap aktifitas yang dilakukan perusahaan warga di lokasi tersebut tidak tahu apa kegiatannya dan tujuannya serta batasan-batasan lokasi aktifitas perusahaan.

Aktifitas-aktifitas perusahaan tersebut telah menimbulkan bencana alam yang tidak dapat diduga masyarakat setempat. Tepatnya pada tanggal 3 April 2017 telah terjadi banjir bandang yang diduga disebabkan jebolnya embung yang dibangun PT.Muria Sumba Manis (MSM) dan telah merugikan banyak petani di Dua Desa tersebut. Beberapa hasil kebun yang telah siap di panen hilang dalam sekejap karena disapu banjir bandang. Tak hanya hasil kebun petani yang menjadi korban, beberapa ternak kecil yang dipelihara petani pun menjadi korban banjir tersebut seperti ayam dan babi. Jika dikalkulasikan kerugian ini mencapai ratusan juta rupiah.

Menurut pengakuan beberapa warga setempat, banjir bandang ini baru terjadi dalam tahun ini. Tahun-tahun sebelumnya tidak pernah terjadi. Kalaupun terjadi banjir tidak sampai naik kepermukaan sehingga terjadi peluapan.

Dari beberapa informasi yang dihimpun awalnya pemerintah daerah Sumba Timur maupun pihak PT.MSM mengelak penyebab banjir karena jebolnya embung milik perusahaan. Namun hasil analisa WALHI NTT dari dokumentasi lapangan ketika dikonfirmasi salah satu ahli pertanian dan konstruksi embung, penyebab utama banjir disebabkan jebolnya embung. Hasil analisa tersebut menunjukkan bahwa secara teknis konstruksi embung tidak memenuhi standar karena tidak memiliki saluran pembuang dan tidak melakukan perhitungan volume air maksimum. Atau dapat dikatakan pembangunan embung tidak melalui kajian yang mendalam.

Namun dibalik terjadinya banjir bandang ini, menjadi hikmah tersendiri bagi petani di dua Desa tersebut. Mengapa tidak, dampak dari jebolnya embung milik PT.MSM dengan leluasanya air yang menjadi sumber bagi sawah petani di dua desa kembali mengalir di saluran irigasi. Padahal sebelum jebolnya embung tersebut, saluran irigasi begitu kering, sehingga petani pun beralih dari bertani lahan basah (sawah) ke lahan kering (ladang).

Menurut pengakuan Bapak Bandaria Lamuru, dengan mengalir kembalinya air di saluran irigasi, petani dapat kembali mengolah sawah yang selama ini tidak berproduksi selama kurang lebih tiga tahun. Lanjut Bandaria, selaku ketua Forum Masyarakat Adat akan mendorong anggota masyarakat untuk kembali mengolah sawah-sawah tersebut.

Selain adanya peluang kembali mengolah sawah-sawah tersebut, kebutuhan air untuk keperluan mencuci dan mandi pun akan semakin mempermudah warga dua Desa ‘pungkasnya’. Bapak Bandaria sebagai ketua Forum masyarakat Adat Wanga Patawang berharap kepada pemerintah Kabupaten Sumba Timur dapat melihat ini sehingga tidak lagi memberikan kesempatan kepada pihak PT.MSM kembali dibendung. Pemerintah Kabupaten Sumba Timur harus mengutamakan kepentingan rakyatnya diatas kepentingan perusahaan, lanjutnya.[*]

IDENTITAS PENULIS
Nama : Deddy Febrianto Holo
Alamat : Jl. Kelapa gading Oesapa-penfui Kupang
Organisasi : Anggota SAHABAT ALAM WALHI NTT Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air
E-mail : deddyfebrianto@gmail.com
No Telepon : 081 246 093 579

Komentar

komentar