Sabtu, Juni 24, 2017
Home > Pendidikan > Refleksi Hardiknas Di Sumba: Spirit Anak Mehang Mata, Pantang Dipandang Sebelah Mata

Refleksi Hardiknas Di Sumba: Spirit Anak Mehang Mata, Pantang Dipandang Sebelah Mata

Waingapu.Com – Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), merupakan Kabupaten dengan wilayah terluas di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), seakan tak pernah habis melahirkan pribadi-pribadi tangguh. Mulai dari anak-anak, remaja bahkan dewasa dengan cerita ketangguhannya sudah sering diangkat pelbagai media untuk menginspirsi juga sebagai bahan refleksi. Kali ini semangat dua siswa asal dusun Bundu Wuya, Kampung La Jarik, Desa Mehang Mata, yang dalam keterbatasan sarana dan prasarana, keduanya tetap optimis menimba ilmu untuk menggapai cita-cita dan masa depan lebih cerah. Spirit putera Mehang Mata yang pantang untuk dipandang sebelah mata.

Cerita seputar spirit anak Mehang Mata ini mulai nampak jelas saat malam menampakan kepekatannya, Selasa (25/04) malam lalu. Marthen Umbu Ranja (16) dan sahabatnya Sius Randa (16) dengan penerangan seadanya dari sebuah pelita dari kaleng bekas, belajar bersama untuk mempersiapkan diri menghadapi ulangan IPS keesokan harinya.

Dua siswa SMP Negeri Satu Atap (SMPN Satap) Kaloka, Kecamatan Kamanggi ini, tetap serius belajar walau sesekali mengucdek mata mereka juga terbatuh akibat kondisi pelita bercahaya temaram berbareng asap yang mengepul.

“Mereka memang belajar seperti ini sudah Pak. Dari dulu saya masih kecil sampai sekarang saya punta anak bahkan cucu, kami di sini pakai lampu pelita begini. Mata sakit dan batuk mau bilang apa lagi, paling esok pagi sembuh juga,” jelas Tunggu Tubuk (67), ayahanda Marthen yang kala itu mendampingi anaknya belajar bersama Sius sahabatnya.

Itu baru satu gambaran spirit mereka. Usai belajar mereka beristirahat dan harus bangun Rabu (26/04) sekira pukul 03:00 subuh. Kediaman dan perkampungan mereka yang jauh dari sekolah, hingga mencapai 15 kilometer, mengharuskan mereka bangun dan berangkat sekolah lebih cepat dari rekan-rekan mereka yang lain.

“Kami harus tidur paling lambat jam sepuluh, karena nanti jam tiga atau jam empat pagi kami bangun untuk berangkat ke sekolah. Kalau tidak kami bisa lambat sekali ke sekolah,” jelas Marthen.

Penulis yang diberikan tempat untuk menginap malam itu, guna mengetahui seluk-beluk, lika dan liku spirit anak-anak ini menimba ilmu, akhirnya dibangunkan sekitar pukul 03:00. Selanjutnya Marthen dan Sius menuruni rumah panggung menuju ke halaman depan, melongok dan menyorongkan tangan ke bawah tangga pijakan ke bale-bale depan rumah, yang ternyata setelah diangkat barulah diketahui itu di genggamannya terdapat sekumpulan daun kelapa kering.

Daun kelapa kering inilah yang kemudian dibakar dan dijadikan penerang mereka menyusuri jalan setapak keluar dari kampungnya, hingga nanti mentari mulai menunjukan sinarnya dari ufuk timur.

“Kadang kalau terlalu gelap kita pakai ini daun kelapa jadi obor, tapi kalau tidak terlalu gelap yaaa tidak pakai daun kelapa, kita jalan saja,” imbuh Marthen.

Bak rute lintas alam, kondisi jalan setapak yang harus dilalui Marthen dan Sius, hamparan padang sabana, semak dan belukar, juga ilalang, berpadu turunan licin dan mendaki, ternyata menjadi menjadi rute keseharian keduanya. Bahkan keduanya harus menyusuri hutan dan sungai, yang disebut mereka jalan pintas menuju sekolah.

 

“Ini sudah jalan pintas Pak, kalau tidak bisa lebih lama kita sampai ke sekolah. Jalan lain bisa lebih lama satu atau dua jam dibanding dengan ini jalan,” urai Marthen, yang di sekolahnya menjabat ketua kelas dan ketua Osis itu.

Hutan dan jalur sungai memang menyejukan dan menyajikan pemandangan yang indah. Kadang sejumlah air terjun dilewati dan bahkan di susuri sisinya dengan titian-titian seadanya, hingga untuk mendaki perlu pula menggunakan tangan. Agar sepatu dan bukunya tidak basah, sejumlah peralatan atau kelengkapan sekolah itu diletakan di dalam tas yang dipanggul.

Saat mencapai air terjun yang ketujuh, demikian penulis menghitung air terjun yang dilewati, barulah keduanya beristirahat. “Di sini sudah sungai dan air terjun terakhir yang kita lewat. Jadi sampai disini baru kami mandi, baru lanjut kesekolah,” jelas Sius seraya menambahkan bahwa jarak dari air terjun itu ke sekolah masih tersisa sekira tujuk kilometer lagi berjalan kaki.

Sesusai mandi dan mengenakan seragam sekolah, keduanya kemudian melanjutkan perjalanan. Jelang lima kilometer sebelum sekolah, sampailah di sebuah perkampungan. Di perkampungan ini Marthen dan Sius kesehariannya akan bertemu rekan-rekan siswa dan siswi SMPN Satap Kaloka. Bersama rekan-rekannya kembali hamparan padang dan perbukitan sabana disusuri, didaki dan dituruni.

Rasa letih sudah pasti mendera mereka, namun seakan sirna begitu saja kala mata mereka bercahaya melihat sekolah yang terletak di lembah. Saat memasuki jarak sekitar 20 meter dari sekolah, sapaan rekan-rekan dan canda tawa para siswa lainnyapun terdengar.

Suasana sekolah yang dirindukan akhirnya bisa dirasakan, ilmu yang hendak ditimbapun di nampak jelas di pelupuk mata.

Adapun SMPN Satap Kaloka ini berada di wilayah Kecamatan Kahaungu Eti. Di sekolah yang baru berdiri tahun 2012 banyak siswanya yang rumahnya jauh dari sekolah.

Diakui Rovilus Petrus A. Dimu, Kepala SMPN Satap Kaloka, Sius dan Marthen adalah dua siswa yang harus berjalan belasan kilometer dari kecamatan berbeda untuk menuntut ilmu. Terlambat datang sekolah, sering terjadi, namun pihak sekolah bisa memahaminya.

“Di sini banyak siswa yang rumahnya jauh dari sekolah. Karena itu kami memulai kegiatan belajar dan mengajar jam delapan dan selesai jam dua siang. Jadi benar ada siswa kami yang harus berangkat dari rumahnya jam tiga atau empat pagi. Kalau pulang sekolah bisa sampai sore jelang malam ke rumahnya. Beruntung mereka masih bisa mampir di keluarga untuk sekedar minum air atau bisa pula diberi makan seadanya. Ada juga yang bawa bekal ke sekolah, tapi jarang sekali,” jelas Rovilus seraya menambahkan apresiasinya untuk semangat sebagian siswanya yang tetap terjaga dan terpelihara walau keterbatasan dalam pelbagai hal menjadi keseharian siswa dan keluarganya.

Marthen dan Sius serta rekan-rekannya, adalah potret anak-anak negeri yang tetap punya spirit walau dikungkung aneka keterbatasan. Sebuah refleksi untuk semua pihak, bahwasanya keterbatasan tidak lantas bisa mematikan tekad atau spirit yang telah menyatu dan berkobar dalam hati.

Marthen dan Sius dan rekan-rekannya yang lain terlambat bukan karena tidak mendapatkan bus ataupun karena sepeda motor yang macet. Mereka terlambat karena berupaya sekuat tenaga dan sepenuh hati menjinakan alam yang mereka jaga dan cintai sejak leluhur mereka.(ion)