Home > Berita > Tolak Radikalisme, Ribuan Warga Sumba Turun Ke Jalan

Tolak Radikalisme, Ribuan Warga Sumba Turun Ke Jalan

Waingapu.Com – Ribuan warga dari aneka latar belakang profesi, usia, suku dan agama turun ke jalan di kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT, Sabtu (13/05) sore hingga malam harinya. Ribuan warga itu ambil bagian dalam aksi long march untuk solidaritas tegaknya NKRI dan satu suara menolak radikalisme. Jalanan protokol yang dilalui massa sempat ditutup sekira empat jam.

iklan budi indah

Dengan membawa aneka spanduk dan poster berisi seruan persatuan dan keperihatinan, warga memulai aksinya dari lapangan Rihi Eti Prailiu dan berakhir di jalan Soeharto depan kantor DPRD dan Bupati Sumtim.

Tak hanya berjalan kaki, warga yang menggunakan kendaraan bermotor juga berjubel dan menyuarakan hal senada, yakni menolak radikalisme dan mengecam ketidakadilan hingga menuntut pembebasan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok, yang oleh warga dinilai sebagai sosok pemimpim yang berani melawan ketidakadilan dan perilaku koruptor.

Aksi sempat terhenti di Mapolres Sumtim, kala perwakilan peserta aksi berorasi dan memberikan krans bunga duka akan matinya keadilan. Hal serupa juga dilakukan di sepuatan taman kota Matawai dan kantor Pengadilan Negeri.

Aksi berakhir di halaman depan DPRD dan selanjutnya bersama para anggota DPRD pasca penyerahan karangan bunga, warga yang berpadu dalam Forum Masyarakat Sumba Peduli NKRI melakukan penyalaan lilin di sepanjang jalan Soeharto. Beberapa lilin juga ditata dan dinyalakan dalam bentuk tulisan “Save NKRI”.

“Ahok hanya menjadi contoh korban radikalisme dan intoleransi, namun aksi ini bukan hanya untuk pribadi Ahok namun aksi ini juga untuk keadilan dan kesejahteraan masa depan anak bangsa, putera dan puteri Sumba Timur. Kita tolak radikalisme, kita dukung keutuhan NKRI dalam semangat Kebhinekaan. Tetap kita gelorakan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 agar kita tidak digilas oleh radikalisme dan diinjak-injak imprealisme,” tandas Naftali Djoru, orator dan juga salah satu korlap aksi solidaritas ini.

Orasi dan pembacaan puisi hingga menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan kebangsaan mengiringi aksi penyalaan lilin.Warga kemudian membubarkan diri dengan damai.(ion)

Komentar

komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.