Sabtu, Juni 24, 2017
Home > Lingkungan Hidup > Impikan Kampung Cendana, Warga Laimbaru Antusias Tanam Cendana

Impikan Kampung Cendana, Warga Laimbaru Antusias Tanam Cendana

anakan cendana

Waingapu.Com – Warga penghuni kawasan pemukiman Transmigrasi Lokal (Translok) Laimbaru – Desa Laindeha, Kecamatan Pandawai, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT, antusias untuk menanam dan mengembangkan tanaman cendana. Hampir semua lahan dan pekarangan milik warga di kawasan itu dapat ditemui tanaman cendana.

Antusiesme warga untuk mengembangkan tanaman cendana berangkat dari tuturan mulut kemulut para tokoh masyarakat dan tokoh adat bahwasanya wilayah desa Laindeha dan sekitarnya merupakan gudang cendana di masa lampau. Namun kemudian menipis bahkan cenderung habis karena dijarah tanpa memperhatikan kelestariannya oleh oknum dan institusi serta pengusaha tertentu di masa orde baru silam.

Stefanus Piter Kandi Praing

“Dulu Laindeha ini salah satu pusatnya atau sumbernya cendana di Sumba Timur. Itu cerita kami punya Apu dan Boku (Nenek dan Kakek, -red). Bahkan dulu mereka bilang, mereka punya apu dan boku dibeli cendananya untuk dibawa ke Yerusalem untuk menjadi salah satu bahan bangunan dan wangi-wangian di Bait Allah,” jelas Stefanus Piter Kandi Praing (56), seorang warga Translok yang ditemui beberapa hari lalu.

Pieter yang sebelum jadi penghuni Translok merupakan warga Kelurahan Wangga, Kecamatan Kambera itu juga menuturkan, niatnya untuk menanam cendana selain terbangun dari hatinya juga didukung penuh oleh masukan dan bantuan dari Yayasan Sumba Sejahtera dan spirit dari Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Sumtim.

“Saya jadi makin semangat karena dukungan dari Yayasan Sumba Sejahtera, cita-cita saya agar Laindeha ini bisa kembali menjadi pusat cendana di Sumba Timur jadi bisa terwujud. Dominan warga di sini juga antusias untuk tanam cendana. Di sini ada tiga ratus rumah, kalau satu rumah saja tanam cendana 20 pohon dan dirawat kedepannya kawasan ini bisa menjadi perkampungan cendana, itu mimpi saya,” papar Pieter.

Pieter yang menjadi pioner pengembangan cendana di kawasan itu juga menjelaskan, cendana yang diberikan oleh Yayasan, dibagikannya secara gratis kepada penghuni translok lainnya.

“Kalau mereka rajin mereka bisa ambil dan tanam anakan 40 koker. Tapi kalau malas yaa paling ambil 10 atau lebih. Yang saya catat, cendana yang hingga kini tumbuh bagus sejak dibagi sekitar lebih dari satu tahun lalu itu sebanyak 2614 pohon dari empat ribu anakan yang dibagi,” jelasnya.

Untuk gelombang kedua, demikian Pieter telah pula dibagi sekitar 3000 anakan. Hingga jika ditanam dan dirawat dengan baik, cendana akan ada ribuan pohon dan sekitar 15 atau 20 tahun mendatang bisa dipanen.

“Cendana bisa jadi investasi masa depan. Bayangkan saja sekarang harga cendana yang teras luar sudah 100 ribu rupiah perkilonya,” tandasnya di samping deretan pohon cendana berusia 1,2 tahun namun ketinggiannya sekira lebih dari dua meter itu depan rumahnya.

Sejumlah warga nampak menyiram dan merawat tanaman di pekarangan mereka kal itu. Dan sebagian diantara tanaman itu adalah anakan pohon cendana.

Yance Dundu Tay

“Saya punya cendana di sini ada 45 pohon. Saya tanam begitu dapat dari Om Pieter. Saya senang tanam cendana karena memang di sini katanya cocok sekali untuk cendana. Ini baru tiga bulan, tapi tumbuh tidak hadapi kendala berarti. Ini tingginya sudah sebetis,” ujar Yance Dundu Tay (31) didampingi Umbu Sem (30) dua warga yang ditemui terpisah di blok E kawasan pemukiman translok.(ion)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *