Selasa, Juni 27, 2017
Home > Opini > Pondasi Mimpi Tak Bertuan

Pondasi Mimpi Tak Bertuan

Sepritus Tangaru Mahamu

“Apakah kau masih sanggup tersenyum tak kala kau dihantui ancaman nilai di tangga terbawa?” tanya seorang sahabat yang sudah lama kukenal, seakan-akan saya sedang memupuk kebodohan di dalam diri saya. Akan tetapi kesadaranku mampu meredamnya dengan sebuah pernyataan sederhana “menjadi diri sendiri itu penting karena sebuah kesuksesan saat ini tidak hanya dilihat dari seberapa besar indeks prestasi yang kau peroleh tapi seberapa sanggup kau memahami, mengaplikasikan, dan menyampaikan sesuatu dengan baik melalui organisasi”.

Hal unik yang ada di Sumba saat ini adalah dimana kaum intelek/mahasiswa selalu berpikir bagaimana meraih nilai sempurna agar memperoleh pekerjaan dengan mudah. Hal ini menyebabkan mahasiswa selalu ingin berada dalam zona nyaman dan akhirnya memilih untuk fokus pada perkuliahan dan mengesampingkan hal yang sama pentingnya dengan itu yakni berorganisasi dan pada akhirnya mengurung diri dalam paradigma yang salah.

Baru-baru ini saya menemui seorang rekan mahasiswa yang menjelaskan pada saya tentang sebuah mimpi besar memajukan Sumba Timur dari segi pembangunan ekonomi masyarakat dengan tidak memperpanjang kata semua ide yang ada dikepalanya adalah ide yang brilian yang kemudian saya tindaklanjuti dengan mengundangnya pada sebuah forum diskusi resmi dan sayangnya tak sepatah katapun yang sanggup ia lontarkan, inikah profil mahasiswa Sumba Timur sesungguhnya?

Mahasiswa adalah agen perubahan yang dituntut harus mampu untuk menjadi sosok yang memiliki jiwa kepemimpinan dalam dirinya namun sayangnya saat ini mahasiswa mengurung dirinya dalam sebuah pradigma yang salah “jika berorganisasi hanya akan membuat nilai menurun” maka banyak mahasiswa yang enggan untuk berorganisasi karena telah menyimpulkan sebuah tujuan yaitu berkuliah lalu wisuda dengan IP tinggi dan bekerja. Yang sebenarnya sekarang ini berkuliah bukan untuk bekerja melainkan untuk berpengetahuan, jika ini yang dijadikan asas perjuangan mahasiswa maka akan melahirkan generasi Sumba Timur yang berwawasan luas dan memiliki koneksi yang baik dengan Pemerintah, Polri, TNI dan Publik Figur yang ada di Sumba Timur untuk mulai berpikir tentang kemajuan dan tantangan keamanan di Sumba Timur itu sendiri.

Jika kita menggali kembali historis materialisme perjuangan bangsa Indonesia maka kita akan menyadari bahwa perjuangan bangsa ini didominasi oleh kaum muda melalui organisasi-organisasi pemuda yang mulai muncul mulai dari 20 Mei 1908 (Budi Utomo), ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 hingga perjuangan pemuda saat ini, sayangnya yang terjadi di Sumba Timur saat ini hanya sedikit mahasiswa yang mau berorganisasi sehingga ide-ide yang ingin disampaikan sebagai aspirasi masyarakat tidak terorganisir dengan baik. Serta gebrakan pembangunan terasa tidak menjamah masyarakat karena kaum intelektual kita yang harusnya paling tahu kondisi real dilapangan sedang dininabobokan oleh perolehan IP yang tinggi dan memilih zona nyaman dari pada menyuarakan keadilan dan kebenaran yang harusnya sampai ke telinga oknum-oknum yang mencoba melengkungkan tujuan dari kewajiban dan wewenang yang diembannya.

Mahasiswa sebagai pengawal negara ini harus sanggup menjadi kaum yang kritis, memahami metode analisis dengan pisau analitis yang tajam, sanggup menyampaikan aspirasi masyarakat dan menjaga keutuhan NKRI, bukan mahasiswa yang berdiri paling depan mengupdate status tak beretika serta kegalauan tak jelas karena dinamika percintaan panas yang tak direstui TUHAN atau hanya sekedar menjadi penerus mimpi tak bertuan yang entah pondasinya dibangun oleh siapa.

Mari hari ini kita menjadi mahasiswa yang siap membangun Sumba Timur dengan menyadari keberadaan organisasi yang mampu mengasah kemampuan kita dan ikut serta dalam organisasi mahasiswa nasional yang sudah ada di Sumba Timur seperti GMNI dan GMKI.

Pilihan ada ditanganmu. Mau menjadi mahasiswa sebagai agen perubahan atau mahasisa spesialis sisa-sisa. Bung Karno pernah berkata “Apabila didalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat sebuah kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkahpun”.[*]

Penulis:
SEPRITUS TANGARU MAHAMU
KETUA BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA PDD SUMBA TIMUR tinggal di Kawangu
HP: 082237298287
FB: Sep
IG: sep_1101

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *