Sabtu, Juni 24, 2017
Home > Budaya > Umbu Lili Pekuwali: “Petik Pelajaran Keselarasan Dari Ritual Marapu”

Umbu Lili Pekuwali: “Petik Pelajaran Keselarasan Dari Ritual Marapu”

ritual marapu

Waingapu.Com – “Agama apapun mengajarkan hal positif dalam hubungan antara manusia, maupun hubungan dengan alam tentunya juga pada Sang Khalik semesta alam. Demikian pula halnya Kepercayaan Marapu ini, sangat menghormati dan menjaga keselarasan alam dengan manusia sebagai bentuk penghormatan pada leluhur juga sang Pencipta. Petik pelajaran keselarasan dari ritual Marapu,” papar Umbu Lili Pekuwali, Wakil Bupati Sumba Timur (Sumtim), NTT, kala menghadiri prosesi/ritual Puru La Kataoda Iang, yang dilaksankan para penganut Marapu, di Kelurahan Kawangu, Kecamatan Pandawai, Jumat (09/06) siang tadi.

umbu llili pekuwali

Lebih jauh Umbu Lili menjelaskan, aneka ritual adat sesuai kepercayaan Marapu banyak megandung nilai-nilai luhur dan keselarasan antara alam dan manusia. Sayang, seiring perkembangan jaman dan modernisasi, perlahan hal-hal positif yang terkandung di dalamnya tergerus.

“Kondisi alam yang mulai rusak karena ekploitasi tanpa pertimbangan kelestarian bagi generasi mendatang, seperti turunnya ketersediaan air, kemarau berkepanjangan itu adalah dampak dari perilaku kita juga. Di Marapu, merusakan alam sangat dihindari, untuk itu warga yang berada dalam hiruk-pikuk modernisasi harus tetap memetik hal positif dari aneka ritual Marapu ini. Agama apapun juga mengajarkan hal serupa yakni mencintai alam dan sesama,” imbuhnya.

Adapun ritual Puru La kataoda Iang ini merupakan salah satu ritual penganut Marapu (kepercayaan asli Sumba, -red). Puru La Katoda Iang merupakan ritual doa penyerahan pada Sang Khalik dan permohonan restu leluhur, agar hasil laut bisa kembali baik dan berlimpah. Ritual ini dilaksanakan di pinggir pantai, dengan menyembelih puluhan ekor ayam dan seekor kambing, yang darahnya diteteskan pada Kataoda (mezbah batu) oleh tetua adat pemimpin ritual yang disebut Wunang.

Hadir pula dalam ritual yang dipimpin oleh Wunang Nggala P, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumtim, Umbu Maramba Meha dan Camat Pandawai, Dominggus N. Kaborang.(ion)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *