Home > Opini > Hidu Palai, Sejenis Penyakit yang Tabu dan Misteri di Sumba

Hidu Palai, Sejenis Penyakit yang Tabu dan Misteri di Sumba

Frans Wora Hebi

Dulu saya mengira hanya Sumba Timur yang mengidap penyakit seperti ini. Di Kodi, Sumba Barat Daya memang disebut juga jenis penyakit yang maknanya sama dengan hidu palai, yang menurut bahasa sana disebut hadu tama. Namun tidak pernah saya mendengar orang Kodi meninggal karena diserang penyakit tersebut.

iklan budi indah

Menurut seorang bapak dari Kaburu yang tidak mau disebut namanya, seperti halnya di Sumba Timur, pasti di Sumba Barat ada juga penyakit hidu palai. “Coba perhatikan”, katanya. “Kalau ada orang mati mendadak meski tadinya sehat-sehat saja, tidak ada penyakit jantung atau semacam, sangat mungkin orang itu diserang penyakit hidu palai.” Penyakit ini, lanjutnya, tidak mengenal usia dan jenis kelamin.

Gejala penyakit hidu palai, pinggang terasa nyeri, kaki tangan kesemutan dan dingin seperti es. Jika penderita dalam posisi berbaring kedua lutut akan bertemu dengan dagu karena urat-urat tertarik. Halnya sama saat penderita dalam posisi duduk. Bersamaan dengan itu penis yang laki-laki perlahan-lahan mengerut dan masuk ke dalam hanya dalam hitungan menit. Jika seluruh penis sudah masuk ke dalam, penderita meninggal dunia terutama kalau tidak ada orang lain yang melihat dan memahami gejala seperti ini dan segera memberikan pertolongan. Biasanya penderita merahasiakan penyakitnya karena dianggap tabu atau lebih tepat karena malu, terutama di Sumba Barat sehingga tidak pernah dikhabarkan seseorang meninggal karena diserang penyakit seperti ini. Di Sumba Timur penyakit ini nampaknya agak terbuka sehingga beberapa orang yang tidak merahasiakan penyakitnya bisa tertolong.

Bagaimana bisa menolong orang yang merahasiakan penyakitnya? Karena dokter pun kewalahan menghadapi penyakit yang disebut hidu palai. Orang lain atau keluarga yang paham gejala penyakit ini segera memanggil tukang urut spesial yang tahu caranya. Jika tidak, penyakit hidu palai hanya hitung menit penderita akan meninggal saat seluruh penisnya masuk ke dalam. Bapak yang kita sebutkan tadi salah seorang yang tahu bagaimana menangani orang yang terserang hidu palai. Dia sudah banyak menolong orang termasuk beberapa tetangga.

Orang yang sedang dihinggapi hidu palai segera dibaringkan terlentang. Kedua kakinya diluruskan rapat-rapat, diusahakan agar tidak mengendor, kalau perlu anak kecil boleh duduk di atas kaki. Sementara itu tukang urut mengaitkan jari telunjuk dan jari tengah di sela kedua ibu jari kaki dengan jari kaki terdekat (pada jari tangan disebut telunjuk). Jangan di sela jari kaki selain yang tadi agar urat yang kejang atau mengerut bisa dihambat. Mengaitkan kedua jari tangan harus sekuat mungkin mengarah ke atas/ke jantung seturut aliran darah. Bersamaan dengan itu pembantu tukang urut mengurut urat-urat dari tumit arah ke lutut dengan sekuat tenaga. Urutnya juga mengarah ke jantung.

Selain mengaitkkan kedua jari tangan, tangan yang satu memegang penis (untuk yang laki-laki) yang sedang mengerut masuk. Jika penis tinggal sedikit yang di luar biasanya diikat dengan benang sebagai alat bantu untuk pegang. Dalam beberapa saat tubuh, kaki-tangan penderita menjadi hangat kembali sebagai pertanda penisnya sudah kembali seperti semula sehingga kegiatan mengurut bisa dihentikan.

Halnya sama dengan yang perempuan meski tidak ada penis yang mengerut tapi urat-urat yang berhubungan dengan alat kelamin juga mengerut sehingga perlu diurut dengan cara yang sama dengan laki-laki kecuali tidak perlu memegang alat kelamin.

Untuk diketahui, penyakit hidu palai ini tidak ada obatnya baik medis maupun ramuan tradisional. Hanya urut dengan teknik urut yang benar sipenderita bisa diselamatkan dengan memperhatikan pantangan-pantangan sebelum pulih benar.

Sementara kumat atau baru saja diurut jangan dulu mandi dengan air dingin apa lagi berendam di sungai. Karena ini akan merangsang kembali urat-urat untuk mengerut. Kecuali itu tidak boleh makan lombok, daun pepaya. Dan yang paling fatal jangan makan daging kuda.

Ditanya apa hubungan daging kuda dengan hidu palai sedangkan daging lain-lain boleh, bapak tadi menjelaskan. “Saya berani bertaruh dengan anda, kalau potong kuda dan belah isi perutnya, tidak akan pernah anda menemukan batang kemaluan kuda kecuali buah zakarnya.” Tuturnya tanpa menjelaskan lebih jauh karena ini merupakan sebuah misteri. Entahlah kalau dokter manusia dan dokter hewan mengadakan penelitian terhadap gejala ini. Karena faktor penyebabnya juga tidak diketahui, mungkin faktor kelelahan atau faktor keturunan, katanya.***

Penulis : Frans W. Hebi, Wartawan Senior, Budayawan.

Komentar

komentar