Home > Opini > PEDAS ALA CABE–CABEAN

PEDAS ALA CABE–CABEAN

Sepritus Tangaru Mahamu

Tentu belum hilang dalam ingatan masyarakat sumba Timur kunjungan kerja yang dilakukan oleh Anang Hermansyah sebagai anggota DPR-RI komisi X bersama rombongan tepatnya tanggal 1 agustus 2017 kemarin. Selain rombongan Anang Hermansyah juga datang bersama dengan sang istri tercinta Ibu Ashanty.

Dalam kunjungannya kali ini (berharap beliu berkujung lagi untuk merealisasikan apa yang telah beliu sampaikan) Anang Hermansyah bersama rombongan mengujungi kampung Raja Prailiu serta beberapa SD, SMP, dan SMA di Sumba Timur.

Dalam kunjungan rombongan anggota DPR-RI ini menemukan banyak sekali kekurangan semisalnya saja mulai dari masalah sertifikasi guru, rendahnya tunjangan tenaga honorer, tidak adanya beasiswa bagi murid berprestasi, tidak memadainya KIP sampai kekurangan ruangan kelas sehingga ada sekolah yang harus sekolah bergantian antara pagi dan siang.

Anggota Komisi X Anang Hermansyah dalam menanggapi kurangnya ruang kelas mengatakan bahwa pihaknya akan mendorong agar pemerintah pusat menyalurkan anggaran-anggaran pendidikan untuk membangun ruang kelas baru untuk sekolah-sekolah, terutama di daerah-daerah terpencil seperti dilansir dalam parlementaria terkini.

Namun hal yang menarik perhatian masyarakat bukanlah bahwa kunjungan ini dilakukan oleh aparatur Negara untuk memajukan Sumba, masyarakat justru lebih memilih untuk melihat ini sebagai kunjungan Artis Ibukota yang tingkah lakunya perlu diperhatikan ada yang mulai berperan sebagai pengidola dan juga tidak ketinggalan para haters alay yang sangat mengurangi makna kunjungan rombongan anggota DPR-RI Komisi X ini.

Seperti pada beberapa kunjungan dibeberapa sekolah salah satunya di SMA N 1 Umalulu banyak sekali beredar pose bersama Anang Hermansyah dan Ashanty bukan sebagai anggota DPR tapi sebagai artis ibukota dengan beragan caption disetiap fotonya.

Secara keseluruhan kunjungan kerja Anang Hermansyah bersama rombongan telah selesai di Sumba Timur dengan kesimpulan dan kesan yang baik.

Namun, siapa sangka tanggal 2 Agustus dalam agenda perjalanan pulang Anang Hermansyah melalui bandar udara Tambolaka beliu bersama rombongan mendapat undangan mendadak untuk berkunjung di kantor Bupati Sumba Barat saat mereka hendak melihat Hotel Nihiwatu, tapi bukan termasuk agenda kunjungan kerja. Untuk menghormati undangan itu rombonganpun akhirnya berkunjung ke Rumah Jabatan Bupati Sumba Barat, karena tidak diagendakan Anang Hermansyah dan Ashanty hanya berpakaian santai mengingat bahwa mereka juga berniat mengujungi Pantai Weekuri.

Masyarakat Sumba pada umumnya justru melihat ini sebagai pelanggaran etika dan tidak tahu tata krama. Memposting foto Bupati Sumba Barat bersama Anang Hermansyah yang berpakaian santai sebagai alat untuk menyerang dan merendahkan ada juga yang memaki dan sampai tulisan ini dibuat hal itupun masih terus berlanjut walaupun Humas Sumba Barat sudah melakukan klarisifikasi, walau sebenarnya mereka tahu Ashanty mengunyah sirih pinang dan walau mereka tahu kunjungan kerja ini dilakukan untuk tujuan yang baik bagi daerah tapi mereka lebih memilih untuk berkata pedis ala cabe-cabean mengomentari cara berpakaian bukan medukung program yang disampaikan.

Apa yang sebenarnya ada dikepala kita? Kita selalu memburu hal buruk untuk sekedar menjadi viral dan merusak cintra pemimpin kita sendiri? Padahal justru ada banyak hal positif yang bisa kita ambil dari Kunjungan kerja rombongan anggota DPR-RI komidi X ke Sumba Timur.

Siapa yang salah? Yang patut disalahkan adalah orang-orang yang mencari kesalahan, sangat disayangkan masih banyak yang berpikiran dangkal dan menilai sesuatu tanpa memahami lebih dulu.[*]

Penulis: Sepritus Tangaru Mahamu, mahasiswa, tinggal di Kawangu

Komentar

komentar