Home > Lingkungan Hidup > Hallo Telkomsel, Berani Jawab ‘Tantangan’ Warga Prai Salura?

Hallo Telkomsel, Berani Jawab ‘Tantangan’ Warga Prai Salura?

Tanpa komunikasi di pulau salura

Waingapu.Com – Warga desa Prai Salura, di Kecamatan Karera, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT, bak ‘menantang’ Telkomsel, perusahaan telekomunikasi terkemuka di NKRI, untuk membuktikan diri sebagai penyedia jaringan telekomunikasi seluler nomer wahid. Aroma tantangan itu menyeruak dalam keluhan berbalut harapan yang dikemukakan warga desa yang wilayah lautnya berbatasan langsung dengan Australia itu.

“Dua tahun yang lalu, ada warga nelayan di Salura sini yang menyeberang ke Nggongi (Ibukota Kecamatan Karera, -red), dia punya HP namun saat menyeberang diduga dia terkena masalah di laut, lama tidak juga ada khabar, dia tentu yakin kami berusaha menghubungi keluarganya juga keluarganya berusaha hubungi dia, namun karena tidak ada jaringan, dia hilang khabar dan tidak tahu keberadaannya sampai sekarang,” urai Ahmad Salim, warga Prai Salura berkisah pada wartawan yang menemuinya pekan lalu di Pulau Mengkudu.

Ahmad yang didampingi rekannya Ahyar Muhajir, seorang anggota Linmas itu lebih mengharapkan perusahaan provider membangun tower Base Transceiver Station (BTS) di desa Prai Salura.

“Kalau pemerintah dari pusat bisa membantu adanya tower selularnya di sini, atau Telkomsel dan perusahan telekomunikasi lainnya mau bangun tentu kami sangat berterimakasih sekali,” timpal Ahmad.

Tanpa komunikasi di pulau salura

Hal senada juga dikemukan oleh Muhamad Saleh, tokoh muda Desa Prai Salura pasca gelaran upacara HUT Proklamasi, Kamis (17/08) lalu di Pulau Salura. “Tidak usah untuk kita komunikasi dengan keluarga di luar Kabupaten Sumba Timur, untuk komunikasi dengan keluarga di Kecamatan Karera saja tidak bisa. Jadi kami di era sekarang ini sudah sangan membutuhkan jaringan telekomunikasi yang memadai. Biar kami bisa berusaha lebih baik lagi. Kami dominan di sini nelayan jadi kalau kami ada kesulitan atau masalah di laut kami bisa hubungi saudara, teman atau keluarga di daratan Pak,” papar Muhamad yang kesehariannya bersama dominan warga Prai Salura lainnya berprofesi sebagai nelayan penangkap cumi-cumi dan pemancing ikan itu.

Adapula asa yang sama walau tak terucap dari para aparat Polisi penjaga Pos Perbatasan di desa yang wilayahnya mencakup tiga buah pulau itu (Pulau Salura, Mengkudu dan Kotak) kala ditemui terpisah. Terungkap dari upaya anggota Korps Tribrata itu bersama warga lainnya meletakan handphone mereka pada sudut yang sama di atas sebuah meja kerja depan Pos yang berhadapan langusng dengan Lautan Hindia itu.

Sekelumit gambaran itu namun tebal akan asa pada pemerintah juga penyedia jasa selular untuk membuktikan kepedulian, eksistensi hingga jargon-jargon yang kencang terhembus setiap hari via media massa bahkan selebaran dan iklan-iklan dalam berbagai bentuk dan posisi.(ion)

Komentar

komentar