Home > Opini > Legalisasi Nafsu di Atas Lembaran Tugas Kuliah

Legalisasi Nafsu di Atas Lembaran Tugas Kuliah

Sepritus Tangaru Mahamu

Sejenak mari kita tertawa dalam lekat pekatnya kopi hitam ramuan perempuanku yang memesona, yang cantik, dan selalu menitipkan rindunya pada semesta seketika aku berada jauh dari sisinya. Kita terlalu banyak melalui hari dalam kalender kehidupan dengan materi-materi yang terlalu berat mulai dari berpikir tentang hak angket KPK, nobar film G30S dan terakhir kemarin sebuah monumental SANDLEWOOD yang digadang-gadang menjadi ikon pulau Sumba yang juga akan menjadi arena selfie mungkin karena di selatan pulau ini masih banyak hp senter yang tidak kebagian jaringan (sudalah kita setuju saja ikon sandelwood hidupkan sudah hampir punah hahahhahaha walau sumber anggarannya masih abu-abu).

Sudah saya katakan materi-materi dalam kehidupan nyata adalah materi yang terlalu berat, mari kita berpaling tapi bukan lari dari kenyataan, saya hanya mengajak kita berdongeng tentang sebuah negeri dongeng yang menceritakan sebuah kisah sebuah kampus yang memiliki dosen duta sex dan mahasiswanya yang bisa jadi hanya bungkam.

Disebuah negeri dongeng baru saja terjadi gebrakan tentang sebuah pemerataan gender yang meriah dilaksanakan dan suskes didukung oleh sebuah kampus, dikegiatan itu semua yang terlibat berbicara tentang nilai moralitas dan keadilan apalagi masalah perempuan.

Tapi, yang perlu disayangkan kampus yang mendukung kegiatan dinegeri dongeng itu memiliki seorang duta Sex yang haus sexsualitas dan melecehkan perempuan, namanya Pak Cari Hal.

Beliau memiliki strategi yang mumpuni dengan ilmu yang menunjang mulai dari sengaja membuat aturan pengumpulan tugas, minta tolong dipijit hingga akhirnya memamerkan kemaluan berfarfumnya dengan iming-iming nilai yang tak sedikit (artinya A) dan hanya perempuan yang diperlakukan seperti itu.

Hei.. Pak Cari Hal, tak taukah kau perempuan adalah pelahir generasi yang perlu kau jaga dan kau hargai? Bukankah mahasiswamu adalah anakmu? Ah, percuma kau tak lebih baik dari seonggok sampah.

Hal ini adalah kejahatan yang biasa dinegeri dongeng buktinya semua hanya diam tak ada yang berani mengangkat bicara, semua mahasiswa dinegeri dongeng lebih memprioritaskan nilai dan membiarkan ketikadilan terjadi. Mereka lupa saudari mereka ditindas dan dilecehkan jangan diam saja bangkit dan lawan.

Begitulah sebuah realita baru dari negeri dongeng semoga tidak terjadi dinegeri kita tercinta karena sesungguhnya hal ini adalah hal paling menjijikan yang akan kita tau.

“Bertanding dan kalah di atas pentas yang adil dari seorang perempuan adalah hal seribu kali lebih baik dari pada sekali saja melecehkan seorang perempuan”[*]

Penulis: Sepritus Tangaru Mahamu

Komentar

komentar