Home > Opini > Kampung Tarung Berduka, Objek Wisata Hilang atau Masyarakat Kehilangan Rumah?

Kampung Tarung Berduka, Objek Wisata Hilang atau Masyarakat Kehilangan Rumah?

Sepritus Tangaru Mahamu

Waikabubak kota dingin tidak lagi sedingin kemarin. Disenja tua yang indah kopi panas Waikabubak menjadi keruh menghantar malam 07 Oktober yang kelam dan menjadi sebuah duka mendalam bagi budaya dan wisata di Pulau Sumba. Sabar dan berdoalah tanah marapu dalam keringat yang pernah bersemayam di tubuh yang menggapai ujung-ujung ilalang yang dihantar pada menara tertinggi Kampung Tarung, tentunya.

Berita mengejutkan yang datang dari sebuah kampung adat di jantung kota Waikabubak dimana asap-asap bekas kebakaran Kampung Tarung masih mengepul ke udara menyampaikan doa kepada leluhur ini melahirkan duka yang besar di pulau Sumba, benar tapi yang disayangkan adalah banyak orang berduka karena kehilangan objek wisata bukan karena banyak korban yang meringis tanpa rumah, tanpa sandang, dan stok pangan mereka yang lapuk bersama api yang mengutuk. Banyak yang menyesal karena belum sempat bersafari ke Kampung Tarung, aduh sayang mari kita ubah persepsi dan bersemangat ke Kampung Tarung untuk sekedar berbagi dinginnya malam, dan sekedar menyodorkan tangan mengangkat mereka yang jatuh.

Mengapa terbakar?

Fakta di lapangan

Menurut saksi di sekitar lokasi mengatakan bahwa kebakaran dimulai dari rumah di tengah kampung yang memiliki letak yang paling tinggi sehingga puing-puing api begitu gampang menjamah rumah-rumah lain yang berjejer ramah. Kronologisnya saat selesai hujan lebat muncul asap dari rumah di tengah yang sumber apinya belum jelas, lalu saat gerimis dan angin berhembus cepat, api membesar dan menghanguskan 28 rumah dan 2 tempat sembhayang.

Perspektif Budaya

Menurut para Rato di Kampung Tarung bahwa kebakaran di Kampung Tarung ini terjadi bukan sebagai musibah semata melainkan karena terjadi sebuah penyimpangan adat yang mungkin saja dilakukan oleh salah satu Rato atau masyarakat di Kampung Tarung.

Maka pada akhirnya saya pribadi menyampaikan sebuah keprihatinan dan turut berduka atas kejadian yang tragis ini, “Semalam(07/20/17) saya kaget karena di ujung kegiatan Ana Humba Life Style ada kelompok pemuda dari Sumba Barat menyumbang lagu yang dipersembahkan untuk kampung Tarung yakni lagu Rumah Kita dan hari ini (08/10/17) saya tidak sengaja ke SBD dan memperoleh cerita langsung dari salah satu masyarakat di Kampung Tarung yakni kak Umbu Sairo”.

“Kami sedang berduka karena kehilangan kampung kami. Kami butuh uluran tangan dari teman-teman terutama bagi anak-anak sekolah yang kehilangan segala perlengkapan sekolah mereka dan semoga kami bisa mendapatkan kayu (dipermudah oleh Dinas Kehutanan) untuk membangun kampung kami lagi, dan tolong jangan berspekulasi tentang kejadian ini karena kami sangat berduka sebab ini bisa menyulut kemarahan dari pihak kami, jadi mari kita jaga stabilitas kenyamanan dan toleransi,” tutur Umbu Sairo yang  juga adalah generasi keenam suku Wanokalada.

“Kepanikan terjadi saat kami berusaha memadamkan api yang berkobar sekitar dua jam dalam kondisi gerimis ,itu terjadi berkisar dari jam 16.00-18.00 Wita saya sempat terguling dalam api,“ jelas Kristian D. Uba yang berada di lokasi kejadian dan sempat menunjukkan bagian badannya yang melepuh.[*]

Penulis: SepritusTangaru Mahamu, Koordinator Ana Tana Community, Ketua BEM AKN Sumba Timur, Aktivis Stube Hemat Sumba, Anggota GMNI Waingapu

Komentar

komentar