Home > Budaya > Catatan Dari Tarung 03: Loja Dangu Manu

Catatan Dari Tarung 03: Loja Dangu Manu

Taufiq Razen bersama Buapti dan Wakil Bupati Sumba Barat

Pagi ini, Senen 9 Okt, berusaha menemui Bupati Sumba Barat, Pak Niga, sepagi mungkin, sebelum aktivitas kerja berlangsung. Rato menitipkan beberapa hal, yang perlu disampaikan pada Pak Niga, yang kebetulan rumpun keluargannya berasal dari Tarung Waitabar. Berkepribadian hangat, responsif, ramah; adalah seorang kepala daerah yang kariernya dibangun dari bawah, memiliki kepekaan tulus. Ia segera menyapa saya di tengah lapang kantor bupati. Upacara senen baru selesai, dan saya diperkenalkan pada siapapun yang masih tertinggal di sana. Didampingi pak Tony, Wabup, kami duduk bertiga membicarakan Tarung.

“Kami sudah mempersiapkan penampungan sementara di pasar lama. Kini sedang dibersihkan, sekaligus dijadikan posko. Orang tua, ibu dan anak-anak bisa aman di sana. Kehidupan sehari-hari, harus segera berjalan normal. Karena pembangunan kembali Kampung Tarung akan berlangsung lama. Kita memanfaatkan apa yang sudah ada dulu. Tentara, Polisi, Brimob sudah dikerahkan untuk membersihkan. Segera dimanfaatkan.” Pak Niga membuka pembicaraan. “Tentu saja, sudah dibicarakan dengan warga Tarung. Kita berharap bisa cepat”, sambungnya.

Pasar Lama

“Membangun Tarung membutuhkan waktu, bukan saja karena masalah dana. Tapi juga, tahap-tahap pembangunan yang harus dilalui. Ada jenis kayu yang dijadikan tiang utama, yang kini sudah langka, yang harus dipenuhi.” Sambung Pak Tony, wakil bupati. Itulah yang dititipkan Rato pada saya, tentang kayu Masela, yang mungkin hanya tumbuh di Taman Nasional.

“Kami akan menulis surat ke Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, untuk mempertimbangkan hal ini. Dibutuhkan sekitar 10 batang pohon. Tolong dibantu ya.” harapan Pak Niga.

Pemda Sumba Barat melakukan semaksimal mungkin, apa yang bisa dilakukan untuk menanggulangi kebakaran kampung ini.

Di pasar lama, saya berjumpa dengan pak Manuel, Kadis Sosial, sedang mengarahkan pekerja membuat ruang darurat semi permanen. Bahkan ia menceritakan, ada duapuluhan alat tenun yang belum digunakan, untuk bisa dimanfaatkan segera. “Jadi ibu dan nona bisa langsung menenun di sini. Karena ini atbm, perlu ada pelatihan sebentar. Ibu-ibu bisa langsung bekerja. Saya tahu di Dinas Koperasi, ada puluhan alat tenun yang belum terpakai.” Kata Manuel dengan semangat.

Pasar lama ini adalah pasar inpres, terletak di kaki bukit Kampung Tarung. Baru tiga bulan dikosongkan, karena pasar yang baru dipindahkan sebagai perluasan kita. Arsitektur pasar lama indah dan klasik, sangat cocok digunakan sebagai pasar seni. Saya membayangkan, pasar lama ini, akan menjadi destinasi pariwisata yang ikonik karena dibangun oleh warga Tarung yang penuh kepekaan.

*Dibagikan di group WA KSBN oleh Taufik Razen (Budayawan & Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Kebudayaan)

Komentar

komentar