Home > Budaya > Catatan Dari Tarung 04: Loja Dangu Manu

Catatan Dari Tarung 04: Loja Dangu Manu

Kampung Tarung Terbakar

“Ada 78 anak semuanya di Kampung Tarung. Mereka terbagi dalam tiga kelompok umur, jadi kita mengikuti apa yang mereka inginkan untuk bermain,” kata Beny, dari Save The Children. Ini hari Senen, hari ketiga setelah kebakaran. Dua Beny dan satu Lina (?) dari STC datang ke tenda darurat, meminta pertimbangan Rato, dimana sebaiknya mereka melakukan pendampingan anak.

Saya duduk disamping Rato sejak siang itu, mendengarkan saran, keluhan, pertimbangan, ungkap belasungkawa, rasa kasihan, marah dan frustasi dari berbagai pihak. Sepanjang hari ia harus menampungnya, dan bertindak sebagai hulu maupun muaranya. Dalam suasana berduka, ia harus menerima semua masukan tanpa rasa marah dan kesal. Ia punya kemampuan mendengarkan yang menakjubkan.

Tenda Darurat di Kampung Tarung Terbakar

STC melakukan tanggap yang cepat. Hari kedua mereka telah membuat posko sementara untuk anak anak, di pintu gerbang selatan. Persoalannya, mereka masih ragu apakah melakukannya pada saat dan tempat yang tepat? Bagi Kampung Tarung STC adalah kawan lama.

“Sebaiknya, dilakukan di Posko Pasar Lama saja. Masih dalam proses, belum jadi, tapi akan segera disiapkan. Memang banyak orang tua yang enggan untuk pindah, karena mereka masih berduka. Anak anak juga yang akan membawa mereka nanti. Mereka perlu dipisahkan dengan tempat yang membuat mereka sedih. Kedukaan orang tua, berbeda dengan kedukaan anak anak,” saran Rato. Dua Beny merasa memperoleh dukungan.

“Situasi kedukaan ini berbeda dengan yang biasanya. Kalau ada kematian atau kemalangan satu keluarga, setelah upacara, mungkin gak apa ada nyanyi-nyanyi. Tapi soalnya, ini seluruh keluarga satu kampung. Kalau ada yang gembira, jadi sensitif dan emosional. Biarkan dulu situasi mengendap, bersamaan dengan padamnya api”.

“Kalau di posko Pasar Lama, anak-anak dipisahkan dari tempat yang membuatnya sedih. Dan orang tua bisa bekerja tanpa terganggu. Mungkin kegembiraan anak-anak ini, akan menjalar pada kami. Terima kasih STC, mendampingi kami,” sambung Rato, menutup pembicaraan panjang tentang anak anak Tarung.

Setelah relawan Save The Children pergi, saya masih tertegun mendengar percakapan mereka, meski saya tak mengeluarkan komentar apapun. Tertegun karena alasan pribadi.

Pertama kali saya mengenal Rato ketika ia masih seorang anak berumur 11 tahun. Tiga puluh tahun lalu, 1987, ia membimbing saya menembus kegelapan turun dari Kampung Tarung. Menggunakan ranting patah, kami masing menggenggam ujungnya, dan ia memandu melalui jalan licin, yang sedikitpun saya tak melihat apapun melalui kacamata minus tiga. Bulan mati, merayap di bibir jurang tanpa berkas cahaya. Selalu saya ingat sebagai pengalaman yang mencemaskan.

Selama perjalanan kita berbicara banyak hal, untuk mengusir kegelapan. Saya bertanya, dimana sekolah dan kelas berapa sekarang? Ia tak menjawabnya atau saya lupa mendengarnya. Saya hanya ingat, bagaimana ibunya, Mama Lida, dengan penuh harga diri namun sendu mengatakan, bahwa semua anaknya putus sekolah karena tetap Marapu. Ia tak bisa menunjukan surat agama agar bisa bersekolah. Sejak itu, saya tak pernah menanyakannya.

Bagaimana mungkin, anak kecil tak bersekolah dulu, tiba-tiba bertransformasi menjadi pemimpin komunitas, dan membicarakan tentang anak-anak dan segala hal dengan anggun?

Siang itu, saya tertegun dan menelan airmata.

*Dibagikan di group WA KSBN oleh Taufik Razen (Budayawan & Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Kebudayaan)

Komentar

komentar