Home > Opini > CAMAT BOBROK TANPA ETIKA, ADA?

CAMAT BOBROK TANPA ETIKA, ADA?

Sepritus Tangaru Mahamu

Sebuah kenyataan baru yang terungkap selalu saja membuat saya merasa miris dan kasihan pada negeri dongeng sampai-sampai ada seorang teman mengatakan pada saya bahwa benar apa yang saya sampaikan bukan hanya sekedar basa-basi ala Sepritus, karena sebuah keadaan akan benar-benar menjawab sebuah pernyataan untuk saya “Kau ini main selalu suka cari aman”.

Bukan saja sekedar cari aman sebenarnya karena memang di negeri dongeng banyak sekali publik figur yang tidak mau dikritik, apakah mau ketika urus ini-itu dipersulit? Hahahaha lebih baik jangan, mari saja sesaki dada sendiri dan membiarkan orang merenung dan merasakan kenyataannya sendiri.

Mari kembali ke topik, jadi di negeri dongeng dalam kurun waktu seminggu ini saya secara tidak sengaja bertamu pada sebuah Kantor Lurah tapi kebetulan di sana ada juga Bapak Camat yang terhormat yang kece badai, juga tukang perintah, dia adalah turunan bernama besar di negeri dongeng.

Umhh jadi begini kronologisnya. Si Camat yang terhormat ini saat itu sedang memangku kakinya dengan mata yang merah, bisa jadi karena kelelahan di belakang meja, tapi terhirup aroma alkohol di seluruh tubuhnya lalu para bawahannya datang membungkuk membawakan sirih pinang dengan sapaan lembut happa umbu.

Setelah beberapa menit kemudian Bapak Camat yang terhormat mengangkat telfon genggamnya lalu berteriak sesukanya. “Bangsat, saya ada suruh kau pergi jemput saya punya anak kau pergi urus lagi itu pegawai camat yang tidak ada guna paling hanya urus masyarakat juga, buang-buang waktu saja”, demikian kata pak Camat sambil menutup telfon.

Dalam senyum berkuasanya ia menatap Bapak Lurah sambil tegas berkata “Untung saja dia bukan di saya punya hadapan, kalau tidak saya lempar pake hp. Sam istri saja yang saya tunggang tiap malam saya bisa lempar pake hp”.

Aduh pak, dimana etika dan wibawa anda sebagai seorang camat? Sedangkan anda berkata-kata seperti itu didepan semua bawahan anda dan juga ada tamu berstatus mahasiswa di kelurahan saat itu.

Bapak camat yang saya hormati tolong perbaiki etika dan moral anda, dan tolong hormati istri anda. Dia bukan binatang, serta mobil camat memang untuk operasional dinas bukan urusan pribadi. Maaf hanya mengkritisi agar kita perbaiki diri walau kita di negeri dongeng, tapi kita tidak pernah luput dari perhatian sayang.

“Perbaiki diri adalah langkah mumpuni menuju sebuah perubahan yang menjanjikan.”[*]

Penulis: SepritusTangaru Mahamu, Koordinator Ana Tana Community, Ketua BEM AKN Sumba Timur, Aktivis Stube Hemat Sumba, Anggota GMNI Waingapu.

Komentar

komentar