Home > Berita > Makhluk Halus Hingga Ular, Sebagian Aral Pekerja SAM Waingapu

Makhluk Halus Hingga Ular, Sebagian Aral Pekerja SAM Waingapu

Pasang Pipa

Waingapu.Com – “Rata-rata mata air itu ada penunggunya, ada barang halusnya, tapi kebanyakan berwujud perempuan cantik berambut panjang, telanjang dan berkuning langsat. Kalau yang mata terang pasti bisa melihatnya, tapi saya dan adik-adik tenang saja, jangan kita ganggu,” jelas Muhammad Thalib, pimpinan pekerja proyek perpipaan Sarana Air Minum (SAM) desa Mbatakapidu, Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT.

Mad, demikian pimpinan pekerja itu disapa, ditemui Selasa (25/10) siang kemarin, menjelaskan pengalamannya bekerja memasang instalasi SAM. Suka duka selalu mewarnai pekerjaan proyek yang dikerjakan PT. Bougenvile Indah dengan anggaran APBD Sumtim lebih dari enam miliar rupiah itu. Proyek yang diharapkan bisa memberi pasokan air yang lebih memadai untuk reservoir kilometer delapan, yang nantinya diteruskan untuk ke Kota Waingapu, guna mencukupi kebutuhan air bersih warga kota.

Pasang Pipa

“Medan seperti ini sudah adi, mendaki menurun. Pipa kita pikul, satu pipa beratnya sekitar dua ratus kilogram. Jadi kalau medan berat mendaki begini, yaa delapan orang yang pikul,” katanya melanjutkan percakapan.

Pasang Pipa

Sementara beberapa meter dari tempat kami berdialog, nampak Yudhistira Mila, melakukan aktiftas pengelasan pipa. Nampak keringat menetes basahi baju berlengan panjang yang dipakainya. Saat didekati nampak tetesan keringat beberapa kali jatuh di atas pipa 8 dim yang sedang dilas. Keringat itu hanya sekejab sirna, menguap oleh panas mentari yang terserap pipa.

“Ini sudah mendingan, tidak terlalu ekstrim medannya. Yang dua minggu lalu itu medannya berat, mendaki dan menuruni bukit, Juga kita harus las pipa di tebing. Tapi yaa, ini sudah menjadi kerja kami, tekuni dan syukuri saja,” jelas Yudhistira, yang ditemani Markus dan Kale rekannya.

Kala waktu istirahat tiba, cerita kemudian berlanjut. Mulai dari tidur beralaskan tikar seadanya dan beratapkan terpal, harus menjadi keseharian mereka.

“Kami tidur di kemah ini, kalua malam. Kami juga masak, makan dan minum di tempat ini. Sekarang sudah sedikit berkurang. Yang lalu pekerjanya lebih dari tujuh puluh orang. Itu untuk gali tanah untuk pipa. Sekarang ini yang tersisa kami yang las pipa,” urai Markus.
Adapun demikian Mad menjelaskan, diharapkan Desember mendatang, air bersih sudah bisa mengalir diperpipaan yang mereka kerjakan, dan nantinya bisa dinikamati warga kota waingapu.

“Ini sudah hampir sembilan puluh persen pipa terpasang, tinggal seratus lebih pipa yang belum. Total pipa yang harus dipasang 883 batang pipa, sebenarnya bisa lebih cepat kerja kami kalau tidak ada hambatan berupa penolakan beberapa warga yang lahannya kami lalui. Kami harus lakukan pendekatan kekeluargaan untuk atasinya,” imbuh Mad.

Saat warga di kota membuka kran air, mungkin sedikitpun tak terbersit suka duka para buruh dan pekerja perpipaan. “Kalau ada seruan untuk berhemat air, penghijauan, jaga hutan dan jangan bakar padang itu bagusnya kita warga ikut. Kami sudah puluhan tempat pasang perpipaan dari mata air, memang selama dua tahun terakhir debit air turun, bahkan ada yang telah kering,” urai Mad seraya menambahkan.

Pengalaman yang terlupakan dirinya dan kawan-kawan bekerja adalah di wilayah Gunung Meja, Kanatang. Dijelaskan, di mata air tersebut paling banyak penunggu dalam wujud perempuan berambut panjang, kuning langsat dan bugil.

“Kalau di Gunung Meja sudah yang paling banyak penunggunya, perempuan cantik kalau sudah magrip mulai ramai sudah di sekitar mata air, mereka nampak menyanyi dan menari. Tidak itu saja, di Gunung Meja juga banyak ularnya,” pungkas Mad, berbagi cerita kala itu.(wyn)

Komentar

komentar