Home > Berita > Raskin Warga Ditahan Kades Kamanggih, Alasannya?

Raskin Warga Ditahan Kades Kamanggih, Alasannya?

Umbu Windi

Waingapu.Com – Adalah Umbu Windi Ndapangadung, Kepala Desa (Kades) Kamanggih, Kecamatan Kahaungu Eti, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT, mengambil kebijakan untuk menahan beras warga miskin (Raskin) di wilayahnya. Kebijakan tidak populis itu diambilnya dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Ditemui di Balai Desa setempat, Jumat (27/10) Umbu Windi menjelaskan alasan dibalik kebijakannya itu.

“Saya mau memperbaiki kualitas hidup dan kesehatan warga jadi ambil kebijakan itu. Kebijakan untuk tahan beras warga miskin yang belum punya jamban atau WC yang layak. Biar mereka terpacu untuk punya WC, kan terlalu sekali, sudah miskin tambah lagi tidak punya WC,” tandasnya.

Jamban atau WC yang wajib dibuat oleh warganya, demikian Umbu Windi, mendapatkan bantuan bahan-bahan bangunan yang didanai dari APBDes berupa semen, pipa, besi beton dan seng.

“Karena kebijakan ini, sekarang sudah bisa 95 persen yang punya WC layak. Dulunya hanya 65 persen. Tiap tahun sejak saya menjabat saya anggarkan dua puluh KK untuk bantuan bangun WC ini,” katanya.

Terkait respon warga pada kebijakan itu, diakui Umbu Windi, awalnya ada warga yang menantang kebijakan itu. Namun seiring waktu, justru mendapatkan sambutan positif warga.

“Awalnya memang ada yang kritik dan bahkan tantang kebijakan itu. Namun kemudian saya tetap teguh dengan kebijakan ini. Dan untuk memicu realisasi kebijakan itu terlaksana, saya tegaskan kepada warga melalui RT dan RW, juga Kepala Dusun jika di wilayahnya ada warga yang tidak berupaya membangun WC padahal sudah dibantu maka RT atau RW-nya minta maaf saja saya copot atau kasih turun,” urainya seraya menambahkan, RT dan RW juga kepala dusun serta perangkat desa lainnya idealnya menjadi contoh yang baik bagi warga desa yang dihuni lebih dari empat ratusan Kepala keluarga itu.

“Ada sembilan KK yang sempat tertahan berasnya, namun sekarang sudah saya serahkan karena WCnya sudah jadi. Saya bilang, kalau awalnya pakai dinding bambu juga tidak apa-apa nanti bisa lagi kita anggarkan untuk buat tembok. Intinya begini, masa sudah miskin, WC juga tidak layak atau tidak ada, lantas percuma saja saya jadi kepala desa baru kondisi ini saya tidak rubah,” pungkasnya.(ion)

Komentar

komentar