Home > Opini > SAAT NYONYA DAN TUAN TIDAK MENGERTI ESENSI KEBEBASAN BERPENDAPAT

SAAT NYONYA DAN TUAN TIDAK MENGERTI ESENSI KEBEBASAN BERPENDAPAT

Sepritus Tangaru Mahamu

Kopi yang semakin dingin dalam gelas-gelas kaca yang membisu dalam riuh halilintar dan gemuruh deru hujan yang bergelora seakan menjadi pertanda bahwa demokrasi yang memuat nilai kebebasan berpendapat didepan umum semakin luntur dikarenakan panasnya cuaca setelah hujan berlalu. Mungkin kaka sayang adik tapi jangan lupa adik juga sayang kaka dan diatas segalanya adalah cinta pada demokrasi dan keadilan yang menjadi perjuangan kita bersama di negeri yang kita cintai bersama ini, negeri dongeng!

Negeri dongeng selalu saja merebut perhatian sebagian masyarakatnya yang masih punya perasaan dan kesadaran bahwa telah melakukan kesalahan. Kaka tersinggung atau kebakaran jenggot? Tuntunan jaman saat ini yang mengharuskan seorang kaum intelek mampu menulis sebuah karya ilmiah dan memiiki kerangka berpikir yang jelas kini seakan menjadi boomerang bagi tuan dan nyonya yang lupa bahwa mereka yang mengajari cara berpikir seorang intelektual agar mampu menyampaikan kritik dan tidak mengamini sebuah ketidakadilan.

Di negeri dongeng sebenarnya banyak anak yang belum melirik dunia kesustraan padahal sebenarnya seorang anak harus mampu menulis dengan baik dan menyampaikan pendapat atau kritik dengan elegan, sehingga saat seorang anak menyampaikan sebuah kritik pedas dalam sebuah tulisan kita sebagai kakak harus menerimanya sebagai sebuah alat merefleksi diri bukan alasan untuk memotong kaki, tangan dan pikiran anak tersebut yang berefek pada kekerdilan mental seorang anak yang bertumbuh menuju kedewasaan sehingga kematian demokrasi dan kebebasan mimbar menjadi hal yang paling mengkuatirkan.

Karya ilmiah adalah sebuah ketrampilan yang harus sanggup dipelajari dan dimiliki anak di negeri dongeng karena disanalah akhir dari semua perjuangan yang dilakukan. Namun sebagai kaum intelek kita juga harus mampu menerjemahkan sebuah permasalahan dengan baik sehingga pada akhirnya nilai kritik yang termuat dalam tulisan kita mampu diterima sebagai bahan refleksi karena pada hakekatnya kritik adalah sebuah pesan yang disampaikan agar penerima pesan mampu mengerti dan memperbaiki diri bukan merasa ditentang atau disalahkan. Dan sebagai penerima pesan juga kita harus legowo menerima pesan dan saran yang diberikan sehingga kita tidak tampil sebagai pemangku kebijakan yang otoriter serta anti kritik.
Dari begitu banyak anak di negeri dongeng sangat disayangkan ketika banyak anak tidak mampu menyampaikan aspirasinya dan tidak bisa menulis tapi inilah realita yang terjadi. Banyak yang tidak bisa menulis lalu bagaimana dapat menyelesaikan tugas akhir? Mungkinkah seorang anak yang tidak bisa menulis artikel mampu menulis sebuah karya ilmiah yang berhalaman banyak atau semua kemampuan itu dibungkam khusus untuk menyelesaikan tugas akhir karena takut pada pemangku kebijakan yang otoriter. Tidak mengkritisi saja dipersulit (kata anak tiri) apalagi kalau bersuara, belum lagi komentar miring yang menyudutkan mulai dari “otak miring”, “tenggelamkan”, “gagal paham” dan sebagainya lalu dimana ruang anak belajar menulis dan berpendapat?

Tapi untuk alasan apapun seorang anak harus bisa menulis maka adalah tugas kita bersama saat ini untuk terus belajar dan menjadi orang yang menggunakan hak kebebasan berpendapat dengan baik bukan sekedar membual disosmed yang pada akhirnya bisa merugikan kita atau orang lain.

“Guru yang tak tahan kritik boleh kekeranjang sampah, guru bukan dewa dan selalu benar dan murid bukan kerbau”. –Soe Hoe Gie-

Penulis: Sepritus Tangaru Mahamu. Seorang aktivis jalanan yang berimajinasi setelah lelah berjalan dalam kekelaman sebuah polemik dan telinganya yang terusik tiba-tiba ketika suara kebenaran tak lagi terdengar setelah dibungkam kepentingan yang otoriter dan anti kritik.

Komentar

komentar