Home > Berita > Money Politik Masih Jadi Tantangan Panwaslu Berkiprah

Money Politik Masih Jadi Tantangan Panwaslu Berkiprah

Panwaslu Sumba Timur

Waingapu.Com – Partisipasi masyarakat dan khususnya generasi muda dari ragam organisasi atau elemen kepemudaan dan mahasiswa, sangatlah diharapkan oleh Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu) Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT. Masyarakat khususnya para pemuda diharapkan bisa proaktif dalam melakukan pengawasan dan pemantauan tahapan-tahapan Pemilu dan memelihra kemitraan harmonis dengan Panwaslu.

Demikian dijabarkan oleh Denny Harakai, selaku Koordinator Divisi Hukum dan Penanganan Pelanggaran Panwaslu Sumtim, dalam Rapat Koordinasi Stakeholder Pengawasan Pemilu Partisipatif yang dihelat di aula Pada Dita Beach Hotel, Jumat (22/12) petang kemarin.

“Tantangan-tangan Pemilu kedepannya masih terus ada dan bahkan makin kuat. Diantaranya manipulasi suara dan tentunya money politic atau politik uang. Kedua hal ini sejatinya mengkhianati demokrasi yang mau dibangun. Kedua tantangan ini berpotensi kuat untuk mengkhianati suara rakyat. Kalau Panwaslu tidak tegas dan masyarakat khususunya elemen pemuda, pers dan LSM tidak lagi bersuara, tingkat apatis masyarakat akan makin besar atau menguat,” tandas Denny, kala memberikan materi tentang ‘Peran generasi muda dalam pencegahan pelanggaran dan Pemilihan dan Pemilu’ itu.

Panwaslu Sumba Timur

Sebelum Denny menyampaikan materinya, ketua Panwaslu Sumtim, Anwar Engga, dalam kegiatan yang diikuti oleh elemen masyarakat, mahasiswa dan pemuda, diantaranya GMNI, GP Ansor, Pramuka, Pemuda Muhamadiyah, dan GMKI, memaparkan materi tentang Kelembagaan Bawaslu.

Anwar Engga dan juga Denny pada intinya secara jelas menegaskan, peran Panwaslu juga masyarakat serta pemuda serta seluruh stakeholder dalam pengawasan Pemilu adalah untuk menciptakan Pemilu yang berkualitas. Kedua figure komisioner Panwaslu Sumtim ini seirama menyatakan bahwa Pemilu berkualitas itu sedikitnya harus memenuhi empat syarat, yakni sistem rekrutmen kader di parpol yang baik, sistem pemilu dan kerangka hukumnya jelas dan tegas, penyelenggara pemilu yang netral dan professional dan yang juga penting adalah kecerdasan pemilih.

Adapun rapat koordinasi ini akan berlangsung hingga Sabtu (23/12) dan juga akan menghadirkan pemateri Yulita Pakereng, dari Universitan Kristen Wira Wacana. Materi yang akan diberikan adalah tentang Partisipasi Pemuda Dalam Peningkatan Kualitas Pemilu.(ion)

Komentar

komentar