Home > Advetorial > Daud Lewumbani, ‘Orang Gila’ Bidi Praing Yang Dirangkul PT. MSM

Daud Lewumbani, ‘Orang Gila’ Bidi Praing Yang Dirangkul PT. MSM

Daud Lewumbani

Waingapu.Com – Banyaknya lahan yang dibiarkan tanpa adanya pemanfaatan dan pengolahan yang optimal di wilayah Kecamatan Lewa Tidahu, selain karena keterbatasan pengetahuan cara pengolahan yang efektif dan efisien juga karena keterbatasan permodalan. Hal itu sepenuhnya menjadi pencermatan Daud Lewumbani (45) seorang petani teladan dan ulet yang juga penyuluh swadaya berprestasi, dari desa Bidi Praing, RT 01 RW 01. Karena sepak terjangnya, juga keuletan serta sikap tidak menyerahnya pernah dipandang bak orang gila oleh tetangga bahkan kerabatnya. Namun demikian seiring waktu, kegilaan Daud justru berbuah manis, rentetan keberhasilanpun mengakrapinya.

“Sejak tahun 2008 silam saya jadi penyuluh swadaya, dan pada akhir tahun 2017 lalu saya ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Sumba Timur sebagai penyuluh swadaya berprestasi,” kata Daud kala ditemui di Kantor PT. Muria Sumba Manis (MSM), beberapa waktu lalu sembari menegaskan bahwasanya keputusannya menjadi penyuluh swadaya kian dipandang remeh oleh warga lainnya karena pekerjaan itu tidak mendapatkan gaji atau apresiasi layaknya penyuluh-penyuluh pada dinas teknis.

Walau dipandang sebelah mata oleh warga sekitarnya, dan tak kunjung mendapatkan apresiasi dari pemerintah kabupaten yang sejatinya tidak menjadi tujuan utamanya menjalani aktifitasnya, apresiasi justru datang dari Istana Negara. “Tahun 2012 lalu saya terkejut juga karena ditetapkan sebagai petani berprestasi tingkat nasional. Pengahargaan itu saya terima langsung dari Presiden di Istana Negara,” imbuh Daud yang juga pernah meraih sejumlah penghargaan lainnya seperti Ketahanan Pangan Adikarya Nusantara dan pada tahun 2016 meraih juara pertama Pengembangan Pangan Lokal Alternatif.

Yang membuatnya tak bisa begitu saja berpangku tangan, cuek terhadap kondisi banyaknya lahan tidur juga lahan pertanian di wilayah Bidi Praing dan sekitarnya yang tidak diefektifkan dan diefisienkan pemanfaatannya adalah situasi dimana sistem bertani diri dan keluarga serta tetangganya masih menggunakan pola pertanian yang tradisional. Belum ada penerapan teknologi pertanian yang tepat guna.

“Masih sangat tradisonal saya dan warga sekitar saya bertani. Padahal bisa menerapkan teknologi tepat guna untuk hasil maksimal. Saya memulainya dengan lahan saya sendiri dengan menggunakan pestisida-yang ramah lingkungan, pestisida kimia sedapat mungkin saya minimalkan pemakaiannya. Saya mau ajak orang lain untuk kerja seperti saya tapi saya tidak bisa menunjukan contoh dan hasil yang memuaskan yaa pasti saja saya akan dibilang omong kosong. Namun karena melihat hasil saya melimpah, juga rekan rekan lain yang berhasil makin banyak jadinya yang mau mengikuti saran saya,” urai Daud.

Terkait iklim yang tidak menentu yang acapkali dijadikan alasan oleh sejumlah warga yang diajaknya bertani dengan polanya, Daud menyatakan iklim tidak boleh disalahkan, karena manusia dikaruniai akal untuk kreatif dan keluar dari tekanan persoalan alam dan dinamikanya.

Sehubungan dengan aneka prestasi, keberhasilan dan pemikirannya yang kini perlahan telah menjadi ‘virus’ bagi warga Bidi Praing, dan bahkan menyebar ke desa-desa sekitarnya, seperti Mondulambi, Watumbelar, Umamanu, Kangeli, Lai Hau bahkan hingga lintas kecamatan, PT. Muria Sumba Manis (MSM) merasa tepat untuk menjalin kemitraan.

“Estimasi lahan yang potensial untuk dikembangkan di desa Bidi Praing dan sekitarnya bisa mencapai 800 Hektar. PT. MSM yang kebetulan sedang melakukan trial penanaman Castor, sereh wangi di lahan percontohannya dan hasilnya sejauh ini menjanjikan. Saya lalu mencobanya dilahan saya yang selama ini masih belum optimalkan saya manfaatkan dan ternyata hasilnya menjanjikan,” tuturnya terkait hubungan awalnya dengan PT. MSM.

Daud yang pernah panen hingga 296 karung padi dari luasannya sawahnya yang mencapai tiga hektar itu lebih lanjut menjelaskan lahan potensial khususnya di Bidi Praing kurang lebih mencapai 150 Hektar untuk pengembangan sereh wangi dan castor.

“Saya bersama dengan Pak Muhammad Hamdan Ghodafi dari HPI agro Kemitraan PT. MSM Sumba Timur, sudah sama-sama identifikasi lahan yang potensial untuk dikembangkan dan selama ini tidak dioptimalkan mencapai 150 hektar. Tahun 2018 ini bisa ditanam, hanya kendalanya bagi kami warga petani yang kurang lebih jumlahnya 160 orang adalah gulma sebelum ditanam maupun pasca ditanami, Kalau bisa pihak MSM bantu kami dengan herbisida,” lanjutnya.

Bantuan yang nantinya diharapkan dari PT. MSM demikian lanjut Daud, tidak diberikan begitu saja namun tetap dibangun komitmen kerja sama agar herbisida yang nantinya diberi investor tetap akan dihitung dan dikembalikan saat panen mendatang.

Sejumlah tanaman lain juga dikembangkan dan ditanam oleh suami dan ayah dari Maria Loni Pandjukang (36), Jesiani Putrilawambani (16), Victor Imanuel Umbu Wulang (11), seperti buah naga, jambu mente, cendana, strawberry. Khusus untuk jenis tanaman kehutanan dirinya telah menanam lebih dari 23 ribu pohon. “Anak-anak saya ini nantinya mereka mau sekolah sampai tingkatan mana saja saya siap, saya yakin dengan potensi lahan saya dan saya yakin rahmat Tuhan bersama saya asal saya kerja keras. Saya mau ini juga menjadi motovasi bagi warga sekitar saya,” pungkasnya.(ion)

Komentar

komentar