Home > Advetorial > Ini Alasan HPI PT. MSM Rangkul ‘Orang Gila’ Bidi Praing

Ini Alasan HPI PT. MSM Rangkul ‘Orang Gila’ Bidi Praing

Hamdan

Waingapu.Com – Hal yang sebelumnya tidak diprediksi atau tidak diduga akan terjadi oleh dominan warga di Desa Bidi Praing, Kecamatan Lewa Tidas, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT, justru berbalik 360 derajat. Figur yang sebelumnya dipandang nyeleneh bahkan dicap bak orang gila, justru mendapatkan apresiasi dari pelbagai pihak di luar desa bahkan hingga menarik perhatian Istana Negara. Adalah Daud Lewumbani, ‘orang gila’ yang dikukuhkan sebagai penyuluh swadaya berprestasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumtim, akhirnyapun juga menarik perhatian dan membuat HPI PT. MSM mengulurkan tangan untuk bermitra dengan tujuan akhir kesejahteraan bersama.

“Kita ingin mencapai kesejahteraan bersama masyarakat di sana, itu tujuan akhirnya. Terkait dengan hal itu kami melihat bahwa banyak lahan milik warga yang tidak dioptimalkan pemanfaatannya bahkan terkesan bagai lahan tidur. Oleh karena itu kami coba berikan solusi dengan memberikan bibit tanaman atau komoditi yang bisa memberikan manfaat lebih bagi warga. Dan untuk mempercepat mimpi itu terealisir kami menggandeng Pak Daud Lewumbani, figur yang sudah menjadi teladan petani sukses juga penyuluh berprestasi dari desa Bidi Praing,” urai Muhammad Hamdan Ghodafi dari HPI agro Kemitraan PT. Muria Sumba Manis (MSM) kala ditemui beberapa hari lalu di kantor PT. MSM di bilangan Ruko Matawai, Kota Waingapu.

Castor dan Citronella

Khusus untuk wilayah Lewa Tidas juga Kecamatan Lewa, demikian lanjut Hamdan, pionirnya memang menggandeng figur Daud Lewumbani, namun perlahan mulai merambah desa-desa lain di dua Kecamatan. “Untuk awalnya kami berikan bibit kepada masyarakat di sejumlah desa yang ada di Lewa dan Lewa Tidas. Yakni bibit Castor dan Citronella atau sereh wangi. Sebagian besar sudah ditanam dan tumbuh dengan baik dan tinggal menunggu panen di tahun 2018 ini. Nanti berapapun hasil yang dipanen warga akan kami beli atau tampung,” imbuh Hamdan.

Selanjutnya dimasa datang, Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) akan menjadi mitra investor. Nantinya Bumdes bisa membantu investor dalam menyalurkan herbisida dan bahan-bahan pendukung pengembangan castor dan citronella. “Khusus citronella nantinya tentu akan perlu penyulingan. Jadi Bumdes bisa kami bantu dengan menyediakan ketel atau alat-alat pendukung penyulingan. Kita bisa atur skemanya pengembaliannya atau masa kreditnya berapa tahun. Ini nanti akan kami rancang bersama dan sudah saya diskusikan juga dengan Pak Daud. Nantinya kita berharap Bumdes ini bisa menjadi sentra-sentra penyulingan citronella dan castor. Semuanya nanti akan diatur dalam MOU,” lanjut Hamdan.

Terkait nilai ekonomis dari citronella, Hamdan dan Daud senada memberikan penjelasannya. Demand citronella demikian Hamdan sangatlah terbuka. Dengan hasil perhektar diharapkan mencapai 10 ribu hingga 20 ribu rumpun perhektar dan bisa dipanen tiga kali dalam setahun. “Kalau dengan 0,5 kilogram saja perumpunnya, itu satu kali panen bisa lima ton perhektar estimasinya. Kalau satu tahun tiga kali panen artinya bisa lima belas ton. Kalau satu kilonya saja lima ratus rupiah sudah bisa mencapai sepuluh jutaan perhektar dari lahan yang sebelumnya tidak menghasilkan apa-apa atau tidak dioptimalkan potensinya,” urai Hamdan.

“Ini bisa juga dikembangkan tak hanya dilahan yang terbegkalai namun juga bisa di pekarangan. Citronella bisa ditanam bersama castor sebagai tumpang sari. Tidak perlu perawatan yang ribet karena sifatnya sama dengan menanam atau memilihara rerumputan,” imbuh Daud yang kala itu mendampingi Hamdan.

Bimbingan teknis untuk pengembangan dan pengoptimalan castor dan citronella agar lebih memberi hasil yang optimal bagi warga, selain menggandeng figur seperti Daud Lewumbani, pihak investor juga akan memberi dampingan teknis lewat timnya.

“Kita akan terus membangun kerja sama dengan figur seperti pak Daud, Bumdes dan kelompok tani agar menjadi penggerak utama untuk berkembangnya ekonomi masyarakat dalam kaitan kerja sama dengan kami nantinya,” pungkas Hamdan seraya menambahkan khusus untuk trial atau percobaannya telah dilakukan di lahan milik Daud Lewumbani.

Adapun castor olahan atau turunannya adalah minyak bio diesel sedangkan citronella atau sereh wangi turunannya adalah essensial oil yang menjadi bahan utama untuk minyak telon dan sejenisnya. Khusus untuk castor dan serah wangi ini, tak hanya dikembangkan di Lewa dan sekitarnya saja namun juga di wilayah lainnya seperti di Kahanungu Eti, Rindi dan Pandawai.(ion)

Komentar

komentar