Home > Opini > “Sang Intimidator” Pulang Kampung

“Sang Intimidator” Pulang Kampung

Umbu Wulang

Jarak kerap kali mencemaskan namun acapkali juga dirayakan. Dalam kisah Film The Space Between Us, wajar saja Gradner Elliot gundah bukan kepalang. Bahkan kalaupun akhirnya dia gila, masuk akal juga. Dia tidak pernah bertemu sang ayah hingga dewasa. Tidak bisa juga mempersunting Tulsa sang pujaan hati. Semua karena satu hal, bagi organ organ tubuhnya, bumi adalah kawasan tidak layak huni. Bukan apa apa, dia terlahir di Planet Mars dari seorang ibu yang bertugas sebagai astronot. Ibunya berangkat ke Mars dalam kondisi hamil. Gradner harus pulang ke Mars.

Setiap orang punya kenangan dengan masa kecilnya. Bisa jadi banyak yang terlupakan, namun yang paling berpengaruh selalu terjaga di rumah ingatan kita. Salahsatu Kehebohan masa kecil itu kusebut saja, KEHEBOHAN PALING INTIMIDATIF DALAM SEJARAH INTELEKTUALKU – saya mengira itu juga terjadi pada banyak orang atau pada beberapa teman, tapi saya hanya mendapatkan beberapa pengakuan. Saya tidak berani mengatakan “kita” -.Kebamoto; biang kehebohan itu. Sosoknya tiba tiba menjadi alat intimidatif penambah nafsu makan bagi saya terutama untuk jenis sayuran. “ Ha nyumu harus makan itu sayur, jangan nyumu buang. Itu Kebamoto jadi orang pintar sekali sampai jadi kayak Habibie itu hanya makan sayur saja. Nyumu tidak mau kayak dia?” hehehhehe. Dan makan sayur dari keengganan menjadi kelahapan.

Kebamoto

Kecerdasannya menjadi senjata intimidatif massal bagi guru untuk memicu intelektual murid muridnya. Matematika di masa kecil seperti jajanan kesukaan saja. Hanya berkisar di tiga nilai, 8, 9, 10 hingga kelas 4 SD. “ Belajar baik baik, biar kayak Kebamoto ha” kalimat itu berulangkali saya dengar dan berpengaruh dalam tindak tanduk intelektual masa kecilku. Akh, seandainya saya tidak pernah jatuh dari kuda dan nonton TV hitam terlalu dekat hingga membuat mataku jadi rusak; saya pasti melebihi Kebamoto hari ini. Hehehhe. Sekadar bualan optimisme untuk tidak mengakui “kekalahan” saja.

Ada kisah lucunya juga, kehebohan itu dimanfaatkan secara lugu untuk membenarkan keinginan tanpa batas di masa kecil. Buah Kom, Nahu, Jambu Lang, Kesambi, Asam, Mangga menjadi buah yang kami makan tanpa ditakar porsinya. Makan ukur kuat saja. Kalau dimarahi atau ditegur jangan terlalu banyak makan, kami seperti tidak peduli. Hanya bergumam dengan beberapa kawan, “ Kebamoto saja dorang bilang pintar karena makan ini buah buah hutan mo, masa kita tidak boleh makan juga”. Bagi saya, SOSOK BELIAU TELAH MENJADI VIRAL TENTANG OPTIMISME BAGI ORANG ORANG “KECIL” DI SUMBA TANPA TEKNOLOGI CEPAT SAJI SEPERTI SAAT INI

Gara-Gara Menolak Tambang Emas

Periode 2010 mulai lagi mendengar lagi namanya dan pada 2011 akhirnya bisa bertemu beliau dalam seminar membongkar Mitos Kesejahteraan di Balik Tambang yang diselenggarakan di GKS Payeti. Bersama George Aditjondro, Siti Maimunah serta dimoderatori oleh Pak Naftali Njoru, Beliau memaparkan bahaya pertambangan Minerba di Pulau Sumba. 12 argumentasi tolak tambang di Sumba yang dikemukan beliau sering menjadi alat pencerahan yang kami sampaikan ke warga yang belum mengetahui seluk beluk tambang khususnya di Pulau Sumba.Termasuk solusi yang beliau tawarkan yakni mendingan tanam Mahoni dibandingkan Tambang Emas, karena secara hitungan ekonomi itu jauh lebih menguntungkan bagi warga Sumba.

Perkenalan dengannya serasa begitu gampang. Jauh dari kesan “berjarak”. Dulunya beliau salahsatu idola di dunia pendidikan masa kecilku. Kami tahu dia di Jerman, tinggal lama di Jakarta sebagai seorang Doktor yang menjadi Dosen Ilmu Fisika di Universitas Indonesia. Kaget juga, kala beliau berdialog bersama kami, Logat Loli yang kental keluar dari mulut beliau. Sejak saat itu, kami sering berkomunikasi dengan beliau. Saya pun sudah beberapa kali menyambangi beliau di kediamannya di Tawena, Sumba Barat, bila beliau kebetulan pulang liburan atau urus kerjaan di Sumba. Satu hal lagi yang saya tahu, beliau bukan hanya sebagai alat intimidasi intelektualku. Beliau ternyata juga seorang dengan karakter yang intimidatif untuk perubahan yang positif. Hehehehhe, saya punya beberapa pengalaman dengan beliau soal karakternya.

Dari berbagai pengalaman bersama beliau, saya teringat Novel Rumah dan Dunia karya Rabindranat Tagore “ Rumah dan Dunia”. Tentang si Sultan Nikhil yang berpikiran maju sekaligus konservatif. Yang menolak budayanya dihancurkan namun tidak perlu dengan cara membakar seluruh hal yang terkait kebarat-baratan. Saya merasa menemukan keidentikan Nikhil dan Beliau.Beliau adalah Ma Katiku Watu Ya- Sang Kepala Batu-, kalau urusan ini. Jangan coba-coba mengendapkan pikiranmu kepada beliau kalau soal yang satu ini. Dia pasti melawan anda. Saya ingat betul kata kata beliau suatu ketika di Tawena, “ Tidak salah sama sekali, kalau saya memutuskan hidup dengan Budayanya Saya. Misanya saya tetap berumah alang tapi didalamnya ada kulkas, ada TV parabola, ada mobil di garasi, to”. Buku “ Bukan Zuba Kabanga” dan Novel “Belis” adalah dua buku karyanya yang makin meyakinkan bahwa beliau memang mencintai keberadaan kulturalnya.

Si Nikhil adalah seorang Sultan yang bisa memutuskan banyak hal untuk orang banyak dengan kemajuan berpikirnya, Kebamoto hanya orang biasa yang melakukan untuk diri sendiri dan keluarganya. Dia pernah mencoba untuk menjadi seperti Nikhil, tapi beliau belum terpilih sebagai Bupati dalam ajang Pilkada beberapa tahun lalu.

Merayakan “Pulang Kampung”

Semalam Rambu Marion harus berakhir kiprahnya di ajang Indonesian Idol. Rambu Marion juga menjadi viral bahkan skala nasional. Dia juga salahsatu representasi tentang mimpi anak anak pulau nun jauh. Dia layak juga jadi motivasi bagi anak-anak Sumba untuk memperjuangkan mimpinya. Dia seharusnya bisa dijadikan alat “intimidatif” berikutnya bagi anak anak yang malu atau malas belajar seperti kehebohan 80an-90an karena Kebamoto.

Kebamoto pulang kampung hari ini. Dia memutuskan untuk pulang tinggal di kampung kelahirannya. Jauh dari kebisingan sekaligus kemewahan kota Jakarta, mengucilkan diri dari nafsu intelektualiasme metropolitan. Kita tidak tahu kenapa beliau memutuskan pulang. Apakah karena dia menyerah memperjuangkan intelektualismenya di kelas yang katanya setara “Liga Champion” dalam sepakbola?Apakah dia kan berjuang lagi untuk menjadi Bupati di tanah kelahirannya? Atau ada alasan lain, saya tidak pernah dan tidak perlu tahu juga.

Saya tidak sedang merayakan kekiniannya dan keputusan beliau untuk pulang kampung. Saya hanya berterimakasih dan merasa perlu merayakan permainya masa kecilku dalam momentum kepulangan beliau di Sumba. Saya hanya merasa berkewajiban untuk menaruh respek atas apa yang telah perbuat para awak media, orang tua dan guru guru jaman dulu untuk mem-viral-kanKebamoto. Kebamoto sebagai alat intimidasi paling manusiawi dalam sejarah intelektual masa sekolah saya dibandingkan diintimidasi dengan ancaman tempeleng, cubit, berdiri menghadap matahari dan alat intimidasi fisik lainnya.

Kepulangannya bisa jadi sepi dari eluan puja puji. Toh, saya yakin beliau tidak menyukainya juga. Beliau rasional dan menyukai kewajaran tidak perlu merasa “berbunga“ dengan kalungan bunga atau kain tenun ikat. Tidak perlu juga berkutbah dalam sesi kata sambutan. Bahkan semacam Panggara Taungu – istilah/ aktivitas budaya orang di Sumba bagian timur untuk menyambut orang baru atau orang yang keluar lama sekali dari kampung halamannya/”menjiwakan kekampungannya” kembali- pun tidak terpikirkan oleh beliau. Karena memang dalam Konteks adat Sumba, Panggara Taungu haruslah inisiatif dari orang atau keluarga di kampung, bukan dari beliau.

Bukan seperti dalam film The Space Between Us. Kebamoto bukan Gardner yang terlahir di Mars. Apalagi selama berkelana di luar negeri dan Jakarta, beliau tidak pernah menanggalkan “Humba-nya”. Tanah Sumba tetap layak huni bagi Organ intelektual dan fisik Beliau. Hanya saja, apakah karakter Sang Intimidator dapat diterima oleh tanah kelahirannya? Hehehe.

Ya sudahlah, Sang Intimidator telah pulang kampung dan kepulangannya tentu bukan ancaman bagi siapapun. Kecuali bagi mereka yang anti kritik dan para begundal kekuasaan perusak budaya Humba.

Ha Mangu Umangu, Nggiya ka na Wai Mbana nai Umbu Intimidatoru. Susuri Sabanamu, Pak Kebamoto.

Penulis: Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi, Direktur WALHI NTT

Komentar

komentar