Home > Opini > Alat Kampanye Hilang, Seorang Pejuang Gugur Sebagai Saksi

Alat Kampanye Hilang, Seorang Pejuang Gugur Sebagai Saksi

Sepritus Tangaru Mahamu

Merdeka Bung Jitro Pekuwali
Merdeka…!!

Teriakan semangat yang membara dalam kesatuan dan nasionalisme yang tercermin dari ideologi Marhaenisme Bung Karno yang kita ilhami seketika hening saat detik-detik WhatsApp, SMS dan semua media sosial bertanya padaku, betulkah Bung Jitro terseret dalam deras banjir yang merubuhkan jembatan Luku Mihi beserta jembatan alternatifnya?

Sekuat Tenaga saya bersama teman-teman mengumpulkan rasa tidak percaya sekaligus marah, bercampur menjadi rasa yang paling tidak dimengerti. Dalam doa-doa yang bersilewaran di awan-awan yang bisu menjadi saksi dari kemunafikan yang ditawarkan penguasa. Merdeka Bung Jitro Pekuwali, kami yang tidak menyangka tragedi ini hanya bisa berkumpul dan bersemayam dalam sepi, seperti Bung Karno merenung di Ende, kami hanya bisa merenung di retakan tanah bekas jembatan yang hilang bersamamu, ditemani aliran air bekas banjir Kamis sore, 29 Maret 2018. Walaupun kami turun ke air sungai yang dingin, tak mampu merasuki tubuh kami, karena air mata jauh lebih hangat menusuk hati kami yang tawar. Jitro, kami tetap dengan cinta yang sama padamu, kami mencintaimu, Salam Hormat. MERDEKA..!!!

Jitro Pekuwali

Bung Jitro, hari ini kami diajarkan bahwa kehilangan adalah hal berat. Lebih baik kami kehilangan seribu orang pemimpin yang menutup matanya untuk kepentingan rakyat demi nafsu birahi kekuasaan dan kepentingan dalam bungkus kemunafikannya, dari pada kehilangan sosok sederhana sepertimu yang pernah membagi mimpi dengan kami dalam lekatnya kopi dan tawa kita di sekretariat GMNI yang memecah hening.

Apa kabar penguasa? Sudah cukup satu nyawa? Atau perlu ada pengorbanan lagi?

Merdeka Bung Jitro Pekuali! Ketua HM Pembangunan Unkriswina, kita pernah bercerita beberapa bulan lalu semenjak saya memanggilmu Bung. Bercerita tentang sebuah jembatan lubang di Luku Mihi, tentang sebuah alat kampanye yang paling akurat bagi anak tiri seperti utara dan selatan, padahal lahir dari satu rahim yang sama. Kepergianmu akan jadi pesan bahwa ketidakadilan masih merajalela di negeri ini. Menuju rumah penguasa ter hotmix dengan elegan, tapi ke timur dan selatan harus terus berjatuhan tumbal. Kami akan bersuara dengan lantang Bung!!

Merdeka Bung Jitro Pekuali! Yang menjadi tontonan bagi penguasa yang sibuk mengambil data, sembari menyampaikan keprihatinan palsunya di samping air yang mulai surut, lalu pulang sebelum gelap. Padahal, sinar bulan ingin menujukan keberadaanmu, padahal kau kedinginan. Mereka membiarkanmu karena lebih muda mengeluarkan uang rakyat untuk menipu rakyat dari pada mencari jasadmu sebagai korban kelalaian mereka.

Rongu oh Luku Mihi, Merdeka ….Merdeka…. Merdeka! Hari ini kau menjadi saksi bahwa perjuangan kami tak akan pernah padam, bahwa hak-hak rakyat harus terpenuhi, bahwa pembangunan harus merata, bahwa uang pajak yang kami bayar bukan untuk berlibur. Saya percaya kau juga pernah jadi saksi plat merah berkeliaran mencari pemuas nafsu. Sambil meludah di lubangmu, renggut saja mereka, jangan kami, karena kami hanya korban. Ambil mereka yang menudingmu sebagai yang paling bersalah dari tragedi ini, ambil!!

Kami tidak butuh penguasa yang menutup matanya saat berkuasa dan membuka matanya saat gelanggang demokrasi dilakoni. Dan hari ini mereka kehilangan alat kampenya sedangkan kami kehilangan seorang pejuang yang bermimpi tentang keadilan.

Pemerintah yang kami cintai dan kami pilih, perhatikan infrastruktur di tanah ini, agar tak ada lagi tragedi Mananga mihi jilid II, bukan sebagai alat kampanye, tapi sebagai bukti keadilan ada di tanah ini.

Kami disayat oleh rasa dan waktu saudaraku tercinta. Saat Merdeka Bung Jitro Pekuwali menjadi RIP Bung Jitro Pekuwali.

Perjuangan kita belum selesai, ijinkan kami melanjutkannya. Sosok teguh dan ulet dalam proses yang paling kita kenali, Selamat jalan saudaraku, semangat perjuanganmu akan terus membara di hati kami.[*]

Penulis: Sepritus Tangaru Mahamu, Ketua Panitia PPAB GMNI Cabang Waingapu ke-XI – yang merekrut Bung Jitro Pekuwali

Komentar

komentar