Home > Humaniora > Prahara Lamboya, Sekilas Mengenal Sosok Poro Duka

Prahara Lamboya, Sekilas Mengenal Sosok Poro Duka

Korban Penembakan Poro Duka

Waingapu.Com – Peristiwa kericuhan yang terjadi Rabu (25/04) lalu hingga kini masih menyisakan lara dan luka di hati sabahat, kawan, kenalan dan tentunya kerabat Poru Duka. Betapa tidak, peristiwa kala itu menjadi akhir dari catatan hidup Poro Duka, yang harus ambruk bersimbah darah, dalam kericuhan yang melibatkan warga dan aparat gabungan, Polri dan TNI. Lamboya diselimuti prahara, Patiala Bawa digelayuti duka, pasca letusan senjata apapun jenis dan bentuknya, kala pelatuh ditarik, suara letupannya hanya beberapa saat kemudian diikuti dengan suara lirih dan air mata untuk Poro Duka.

Informasi yang diperoleh dari pihak kerabat maupun kuasa hukum Poro Duka, bisa jadi memberikan gambaran sosok pria dari tanah yang kental dengan atraksi Pasola itu dimasa hidupnya. Poro Duka lahir dari keluarga yang sangat sederhana, buah cinta pasangan Alm. Kedu Ngura dan Hore Magi (70). Ia lahir Tanggal 01 Agustus 1973 dalam Suku Motodawu – Uma Kalla.

Prahara Lamboya

Saat menginjak usia yang dirasa matang, ia lantas menikah adat dengan Ester Nyebo (38) pada tahun 1989 dan dikarunia Sang Khalik satu orang anak bernama Haryati Hore Magi (17) yang saat ini duduk di bangku kelas dua SMKN Perikanan dan Kelautan Lamboya.

Oleh keluarga dan rekan-rekannya, almarhum Poro Duka dikenal pribadi yang ramah, murah seyum dan ringan tangan untuk membantu keluarga. Namun dalam situasi tertentu, Ia bisa tampil tegas, apalagi jika menyangkut ketenangan dan harga diri dan martabat keluarganya.

Dikisahkan kerabatnya yang enggan identitasnya dipublikasikan, pada saat kejadian, dipagi harinya Poro Duka menuju ke ibu kota kecamatan guna memfoto copy ijasah anaknya. Hal itu dilakukannya, sebagai salah satu upaya untuk melengkapi pengurusan akte kelahiran anaknya. Dokumen itu dirasa kian penting seiring keinginan anaknya melanjutkan studi kebangku perkuliahan.

Sepulangnya dari tempat foto copy, Poro Duka boleh jadi merasa terusik ketika mendengar ada keributan tidak terlampau jauh dari tempatnya berada saat itu. Ia pun segera menuju ke arah keributan tersebut.

Sesampainya di lokasi, Poro Duka melihat adiknya atas nama Sefry Jari yang nampak dianiaya oleh pihak aparat kepolisian. Sebagai kakak Poru Duka bermaksud menolong adiknya. Namun sayang belum sampai membantu adiknya, Ia terlebih dahulu terkena peluru tepat di ulu hatinya. Dan saat itu tubuh Poro Duka tersungkur diatas Ibu Pertiwi.

Keluarga lain yang melihat hal itu lalu hendak membantu, tak kuasa, karena terhadang aparat dengan gas air mata dan tembakan. Selanjutnya nampak aparat mengangkat dan mengusung jazad Poro Duka dan seorang korban lainnya.

Adapun hingga kini keluarga masih terus kukuh dalam keyakinan, Poro Duka wafat pasca tertembus peluru aparat. Pernyataan Kapolres Sumba Barat, AKBP. Gusti Maycandra Lesmana yang mengutip keterangan dokter yang melakukan otopsi, yang menyatakan tidak ditemukan proyektil peluru dalam tubuh Poro Duka, dan luka yang terjadi di kaki salah satu korban lainnya bukan karena peluru tajam, tidak lantas membuat keyakinan keluarga surut.

Informasi terakhir yang diperoleh dari Petrus Paila Lolu, selaku kuasa hukum dan juru bicara keluarga korban menyatakan, Selasa (01/05) akan berangkat ke Jakarta guna mengadukan peristiwa kelam itu ke Kompolnas dan Mabes Polri.(ion)

Komentar

komentar