Home > Berita > Festival Tenun Ikat & Kuda Sandlewood, Dibuka Deputi, Ditutup Bupati, Raup Simpati & Asa

Festival Tenun Ikat & Kuda Sandlewood, Dibuka Deputi, Ditutup Bupati, Raup Simpati & Asa

Debupti dan Bupati

Waingapu.Com – Event pariwisata yang diselenggrakan pemerintah diharapkan bisa menjadi ajang untuk meningkatkan ekonomi masyarakatnya. Dengan adanya event-event itu diharapkan bisa menggeliatkan kreatifitas rakyat, dan tentunya berimbas pada meningkatnya ekonomi rakyat. Festival Parade Tenun Ikat dan Parade 1001 kuda Sandlewood yang dibuka secara resmi oleh I Gede Pitana, Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara, Kementerian Praiwisata RI, Kamis (12/07) lalu, yang kemudian sesuai rencana akan ditutup oleh Bupati Sumba Timur (Sumtim), Gidion Mbiliyora, Sabtu (14/07) malam ini tak bisa disangkali merau aneka simpati pun juga asa.

Kehadiran Gede Pitana, yang memikul amanah sesuai dengan label dan tupoksi- nya tentu diharapkan bisa membuat sector pariwisata Sumtim makin bergairah. Gairah yang tentunya berjalan seiring dengan tumbuh kembangnya ekonomi para pelaku wisata, mulai dari pengrajin kain tenun, pemilik sanggar maupun pemilik art shop dan gallery.

Parade 1001 Kuda Sandalwood
Photo oleh Ery Radixa

“Kami senang ada pejabat dari pusat yang datang, kami harap tahun berikutnya jauh lebih meriah. Memang tadi kami sempat lama dipanas, tapi tidak apa-apa karena lumayan ramai tadi,” ucap salah satu penenun yang ikut ambil bagian dalam parade 500 penenun di lapangan Pahlawan Waingapu.

Parade 1001 Kuda Sandalwood

“Kami harap juga harga kain tenun bisa lebih baik dan terus terjaga. Apalagi sekarang jujur kami kuatir dengan banyaknya yang meniru motif-motif kain Sumba. Sudah ada yang pakai print dan bahkan ada kain pabrik atau tekstil yang ikut motif kain sumba,” harap Imelda senada dengan Yani, dua penenun kain ikat Sumba pada wartawan sembari berharap pemerintah bisa membantu perjuangan para pengrajin sumba untuk mendapatkan hak patent akan motif dan karya mereka.

Parade 1001 Kuda Sandalwood

Asa yang saat itu justru belum bisa terjawab oleh Gede Pitana selaku deputi di Kementrian Pariwisata, Ketika hal itu ditanya, Gede menegaskan bahwa hal itu bukan merupakan ranah tugasnya. “ Itu ranah dari Badan Ekonomi kreatif. Jadi begini, ketika kita bicara kebudayan sebagai Value Change ketika dia dari hulu itu teman – teman dari kebudayaan. Ketika Budaya dari ranah kreatifitas untuk menjadikan dia sebagai suatu aktifitas ekonomi itu ada di ranah Badan pengembangan ekonomi kreatif. Ketika memanfaatkan atau mencari pasar untuk orang datang itu di ranah pariwisata,” ungkap Gede menanggapi asa pengrajin kain tenun ikat.

Terpisah, Bupati Sumtim, Gidion Mbiliyora menjelaskan, Pemkab. Sumtim sudah berupaya memperjuangkan hak patent untuk motif- motif kain tenun ikat Sumtim. “Kami dari Pemkab sudah ajukan ke Kementrian Hukum dan Ham untuk motif kain Sumba Timur bisa mendapatkan hak patent. Tafi kami juga telah meminta Kementiran Pariwisata untuk berkoordinasi dengan Kementrian Hukum dan Ham untuk bantu kami Pemkab dan masyarakat Sumba Timur memperjuangkan hak patent,” urai Gidion.

Parade 1001 kuda Sandlewood juga menuai apresiasi dari berbagai kalangan. Ditambah lagi format parade yang menyusur hamparan Savana dan juga Pesisir Pantai Walakiri, menjadikan parade ini berbeda dengan parade sejenis di kabupaten tetangga.

Namun asa untuk lebih ditata hingga jauh lebih semarak dan unik juga kembali terlontar oleh warga juga para pelaku usaha pariwisata. “Akan lebih baik dan nampak jauh lebih khas Sumba Timur jika para pserta parade kuda tidak diwajibkan mengenakan seragam kaos dan dilabeli dengan tulisan pesona Indonesia. Cukup sudah tagline pesona Indonesia di poster dan spanduk bahkan ditampilakan dalam promo-promo di media massa. Para penunggang kuda idealnya cukup menggunakan segala atibut khas Sumba Timur, demikian pula denga kudanya, dikalungi selendang tenun ikat atau pahikung jauh lebih khas atau unik dibandingkan dikalungi kain atau selempang putih bertulis pesona Indonesia,” urai Fredy mengutarakan asa.

“Adalah lebih baik jika dana untuk pengadaan kaos dan juga selempang atau kain yang dikalungi kuda bertuliskan pesona Indonesia, diberikan kepada para pemilik dan joki kuda. Selain bisa membuat lebih bergairah juga lebih menyentuh sasaran bahwa festival ini adalah wadah untuk kegembiraan dan sukacita para pemilik dan peternak kuda sandel,” urai Angga menitip asa, senada dengan sejumlah pengunjung festival yang ditemui di seputaran garis finish festival 1001 kuda Sandlewood di Pesisir Pantai Wisata Walakiri. (ion)

Komentar

komentar