Home > Lingkungan Hidup > PKM UNKRISWINA Sosialisasikan Cara Pengendalian Populasi Belalang Kembara

PKM UNKRISWINA Sosialisasikan Cara Pengendalian Populasi Belalang Kembara

Belalang Kembara

Waingapu.Com – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Belalang Kembara yang dibentuk hasil kolaborasi LPPM Universitas Kristen Wira Wacana (UNKRISWINA) Sumba dan Program CSR PT. Muria Sumba Manis (MSM) melakukan Diseminasi Ilmu Pengetahuan dan Pencegahan Ledakan Belalang Kembara di Sumba Timur (Sumtim), NTT. Kegiatan ini menelan durasi waktu delapan bulan, yakni dimulai bulan Juni 2017 hingga berakhir Februari 2018 lalu. Salah satu point penting dari kegiatan itu adalah mensosialisasikan kepada masyarakat cara pengendalian populasi Locusta Migratoria atau yang lebih dikenal warga dengan belalang kembara. Demikian rilis yang diterima media ini, dari dari Tim PKM belalang kembara yang diketuai oleh Mariana Silvana Moy S.P, M.Si, Kamis (09/08) kemarin.

Belalang kembara, demikian rilis ini memaparkan, adalah serangga iklim panas (warm-climate species), organism polifag dan polimorfik, serta memiliki kemampuan transformasi perilaku dari serangga soliter menjadi gregarius (kumpulan massa serangga yang sangat besar). Untuk mengendalikan, demikian tim ini menjelaskan, perlu dilakukan penjagaan ekosistem alam, dengan cara menjaga kehidupan musuh alami belalang kembara yaitu semut, katak, burung pemakan serangga (Padang Savana Yumbu – Sumba Timur, merupakan salah satu daerah yang merupakan key biodiversity area untuk burung Gemak Totol, Gemak Loreng, Gemak Sumba (endemis Sumba), Decu Belang, Branjangan Jawa, Kirik – kirik Laut, Bubut Alang – alang, Tekukur Biasa, Perkutut Loreng, Srigunting Wallacea, Kacamata Wallacea, Kacamata Limau, Myzomela Sumba, dan Burung Madu Sumba (endemis Sumba). Rantai makanan dan jejaring makanan yang tercipta dari tiap komponen dimaksud sangat berkaitan erat, sehingga jika salah satu rantai komponen putus maka akan menyebabkan ledakan populasi komponen ekosistem yang lain, sehingga jejaring makanan ini harus pada level yang seimbang.

PKM Unkriswina

Mengubah perilaku manusia yaitu tidak membakar padang sabana. Jika padang terbakar maka biota ekosistem daratan seperti musuh alami belalang kembara pun ikut terbakar. Yang tak bisa pula dikesampingkan, adalah melakukan monitoring populasi belalang kembara. Populasi belalang kembara harus terus dipantau, dan disadari stadia/fase populasi yang terjadi, dengan indicator, sebagaimana hasil penelitian Sudarsono, 2005, yakni, Fase soliter terjadi jika kepadatan belalang 2 – 5 pasang individu, Fase transisi terjadi pada kepadatan belalang 10 – 20 pasang individu, Fase gregarius (ledakan) jika kepadatan belalang di atas 30 pasang. Perilaku gregarious, masih menurut hasil penelitan Sudarsono tahun 2003, dapat berubah menjadi fase soliter apabila populasi diisolasi dan tidak mendapat kesempatan berkembang biak secara meluas.

Warga dan sejumlah elemen terkait juga hendaknya peka terhadap perubahan cuaca yang memengaruhi pola perubahan populasi belalang kembara (el – nino/kekeringan yang panjang & la – nina).Dijelaskan dalam rilis yang juga disampaikan dalam beberapa kali sosialisasi dan pelatihan di masyarakat itu, lama periode kering dan intensitas curah hujan memengaruhi peneluran dan penetasan telur belalang kembara. Curah hujan mempengaruhi kelembaban tanah, dimana kondisi tanah dengan kadar air 10 – 20 % merupakan lingkungan yang paling cocok bagi belalang untuk bertelur, yaitu dapat mencapai 200.000 – 400.000 butir dalam setiap 1 meter persegi. Sehingga, apabila kondisi tanah di suatu tempat memiliki kondisi yang cocok, maka belalang tersebut dapat berkembangbiak dengan baik.

Hasil review artikel tim PKM menemukan bahwa berdasarkan penelitian laboratorium Sudarsono (2011) ditemukan bahwa curah hujan yang rendah (80 mm) meningkatkan penetasan telur (48,94 %) jika dibanding curah hujan tinggi (260 mm ; 16,18 %). Adapun, jika lama periode kering 1 – 4 minggu, maka penetasan telur mencapai 63,85 %, tetapi jika intervalnya 8 – 12 minggu maka jumlah telur yang menetas menurun (20 %).

Inkubasi telur juga dipengaruhi oleh curah hujan. Jika intensitas curah hujan 80 mm/bulan, periode inkubasi telur semakin panjang pada kondisi yang kering. Pada periode kering selama 1 minggu, waktu inkubasi telur 21 hari. Masa inkubasi terpanjang adalah 105, 5 hari (pada periode kering 12 minggu). Secara umum, walaupun terjadi periode kering yang singkat atau lama, telur belalang kembara akan menetas secara serentak pada 14, 7- 15, 5 hari setelah terjadinya hujan.

Dalam rilis itu, juga kembali diuraikan kilas balik peristiwa tahun 2016 – 2017 silam, dimana 33 desa/kelurahan, 9 kecamatan di Sumtim diserang belalang kembara. Dan juga menguraikan hasil penelitian yang juga telah disosialisasikan dalam kegiatan ‘Pengkayaan Keilmuan’ pada kelompok Tani, Pemdes, Toga, Tomas, di desa Wanga, desa Patawang, desa Umalulu, Kecamatan Umalulu. Kegiatan tersebut dipusatkan pada aula kantor desa Patawang, Selasa (07/08) lalu.

Dalam keigatan itu warga diberikan pemahaman dan pengayaan pengetahuan terkait hasil Membuat bio pestisida dari bahan – bahan alami yang ada di sekitar lingkungan rumah. Warga dikenalkan cara semisal campuran daun nimba ( bahan aktif Azadirachtin) & akar tuba (bahan aktif rotenone). Warga diajarkan cara membuat pestida semisal untuk 20 L air, digunakan 1 kg daun mimba & 1 kg akar tuba yang telah dihaluskan, dicampurkan dengan air dan didiamkan selama 3 hari, ditambah perekat bio pestisida (bisa dari bahan alami yaitu 1 butir telur ayam/telur bebek & 1 sdm minyak goreng; atau sabun coleksecukupnya). Pada hewan uji coba (belalang kembara) : hewan uji coba mati setelah 4 – 5 hari penyemprotan. Hasil ini menegaskan bahwa respons serangga target pada penggunaan bio pestisida sangat berbeda dibanding dengan penggunaan pestisida kimiawi sintetik (pabrik) yang mana dalam hitungan menit/jam langsung menyebabkan kematian pada serangga target.

Selain itu turut pula disosisalisasikan hasil Studi Literatur :Memperbanyak patogen (penyebab penyakit) yang menyerang belalang kembara, yaitu cendawan Metarhizhium atau cendawan Beauveria bassiana. Caranya : belalang yang sakit dikumpulkan, (belalang yang tubuhnya dilumuri cendawan/jamur berwarna hijau untuk Metarhizhium atau cendawan warna putih untuk Beauveria bassiana. Kemudian, belalang yang sakit dicampurkan dalam media larutan buah – buahan (papaya busuk, mangga busuk), sehingga cendawan dapat berkembang banyak, dan dapat digunakan untuk penyemprotan. (ion)

Komentar

komentar