Home > Opini > Degradasi Sikap Ibarat Sepak Bola Jaman Now

Degradasi Sikap Ibarat Sepak Bola Jaman Now

Julius Djarawula

Melihat judul bacaan diatas, mungkin sebagian kita akan bertanya, mengapa tidak Sepak Bola Jaman Now saja dengan meminjam syair dalam salah satu lagu “Kids Jaman Now”? Bukan tanpa alasan, sesuai judul bacaan di atas, begitulah sikap dan perilaku bagi segelintir orang saat ini ibarat sepak bola jaman now versi terbaru, seringkali menjadi sangat kontroversi dan tidak berkualitas.

Sesungguhnya dalam suatu pertandingan yang di cari adalah kemenangan, karena kemenangan adalah salah satu ukuran prestasi sebuah tim dan tentunya dengan cara atau strategi bertanding yang sportif yang telah diterapkan oleh sang pelatih, di dukung pula dengan kualitas pemain yang tidak diragukan lagi.

Yang terjadi saat ini dalam sepak bola terbaru sangatlah berbeda dengan apa yang sering kita saksikan, ketika sebuah tim sedang memimpin pertandingan dengan kedudukan 2-1 misalnya, kemugkinan kita akan memprediksi bahwa tim tersebut akan memenangkan pertandingan. Ternyata prediksi kita bisa sangat jauh meleset, karena ketika peluit panjang dibunyikan oleh wasit, justru tim berkostum abu hitam yang seharusnya kalah yang dinyatakan sebagai pemenang.

Suatu kejadian yang sangat ironi sekaligus menyedihkan dan pasti kita akan bertanya “Kok bisa yaaa?” padahal ada wasit, ada penonton, dan entah ada siapa lagi. Jawabannya pasti bisalah namanya juga sepak terbaru, karena kualitas pemain bukan lagi merupakan sesuatu yang perlu diakui karena pemain yang tidak berkualitaslah yang justru terpilih menjadi pemain terbaik, dan kemenangan belum cukup menjadi sebuah fakta untuk mengakui keunggulan prestasi sebuah tim. Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa hal tersebut merupakan kejadian yang sangat kontroversi dan tidak berkualitas, mungkinkah diakibatkan oleh sebuah konspirasi yang dimainkan oleh orang yang juga tentunya tidak berkualitas?

Kebanyakan orang yang menekuni berbagai bidang tertentu entah itu pengusaha, petani, pejabat, dan masih banyak lagi tanpa terkecuali bidang pendidikan sekalipun yang merupakan salah satu sektor terbentuknya sumber daya manusia, sering menggunakan jurus-jurus tidak terpuji karena egoisme dan ambisi yang tidak terkendali. Rekan tidak lagi di anggap sebagai mitra dalam upaya tercapainya tujuan bersama dalam bingkai prestasi generasi, tetapi sebagai suku cadang karena terinspirasi oleh sebuah keinginan terselubung. Sayang sekali jika ini terjadi dalam suasana di saat kita sedang dan mau membangun generasi yang sejak puluhan tahun berada dalam keterbelakangan.

Berpikir dan bertindak tidak lagi di landasi oleh keinginan untuk membangun generasi secara sadar, dengan keikhlasan, rasa memiliki dan rasa tanggung jawab, tetapi karena rasa ego, ambisi, demi kepentingan sesaat dengan aggapan, yang penting aku di puji orang, dihargai dan dihormati. Jika itu adalah suatu kebanggaan, yakinlah kebanggaan itu adalah suatu kebanggaan yang tidak bermoral dan bahkan tidak memiiliki integritas apapun.

Degradasinya sebuah tim ke level bawah karena penurunan prestasi adalah hal biasa, tetapi degradasinya sikap dan perilaku karena rasa ego dan ambisi adalah suatu hal yang sangat disayangkan. Tentunya kita sangat berharap sikap-sikap yang seperti itu agar dibuang jauh dan mengutamakan kebersamaan dalam satu hati.

Marilah membangun generasi Negeri Marapu yang kita cintai dengan rasa tanggung jawab, penuh keikhlasan agar tercipta generasi yang berkualitas, tentunya dengan cara dan sikap yang berkualitas pula. Semoga!!

Penulis: Julius Djarawula, Guru SDN Kadahang – Sumba Timur

Komentar

komentar