Home > Pendidikan > Panggung Tanpa Kata SMAN 1 Kambera, Spirit & Asa Tak Cukup Hanya Kata & Kalimat

Panggung Tanpa Kata SMAN 1 Kambera, Spirit & Asa Tak Cukup Hanya Kata & Kalimat

Umbu Lili Pekuwali

Waingapu.Com – “Konsep kami adalah Pria dan Wanita Sumba modern yang tidak melupakanjati dirinya, kekayaan adat budaya mereka dalam hal ini mencintai dan mengkreasikan tenun ikat menjadi busana yang menarik, modern namun berpadu dnegan nuansa modern,” jelas Imelda didampingi Jovan, peserta Fashion Show dalam pentas seni dan kreasi di SMAN 01, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT, Kamis (18/10) lalu. Dua pelajar asal SMAN 03 Waingapu ini dimintai menjelaskan latar belakang dari konsep busana yang mereka kenakan dalam acara bertajuk ‘Kambera Dalam Balutan Tenun Ikat-Panggung Tanpa Kata’ itu.

‘Panggung Tanpa Kata’ kala itu justru mewariskan spirit dalam aneka kata dan kalimat motoviasi cinta pada adat dan budaya Sumtim. Spirit atau semangat mapun asa atau harapan tak cukup pula hanya sebatas kata yang dirangkai kalimat manis. Hal itu nampak pada pendapat yang dikemukakan oleh Putera dan Larasati, duta fashion show dari SMAN 01 Waingapu. “Budaya dan adat Sumba Timur bisa saja luntur terpengaruh dengan budaya-budaya luar di era modern ini. Dengan kegiatan ini kita bisa mengenal adat dan budaya kita, kemudian mencintai dan sama-sama berupaya untuk melestarikannya,” tandas Putera diamini Larasati.

Putera dan Larasati

Kesan dan harapan generasi Sumtim ini dan juga bangsa Indonesia ini sejalan dengan asa yang disampaikan oleh Wakil Bupati Sumtim, Umbu Lili Pekuwali maupun Kepala Sekolah SMAN 01 Kembera, Putiyani Rambu Lepir di empat yang sama namun dalam jeda waktu berbeda itu.

Fashion Show

“Bulan Oktober ditetapkan sebagai bulan bahasa itu karena ada dasar dan harapan yang hendaknya menjadi semangat bagi seluruh anak bangsa. Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh guru dan para pelajar di SMA Negeri Kambera ini patur diapresiasi. Karena telah menjadi salah satu jembatan dan bukti nyata bahwa cinta akan adat dan budaya itu tak hanya sebatas kata tapi diwujudkan dalam realita,” tandas Umbu Lili sembari mengharapkan kegiatan ini terus berkelanjutan dan bisa menjadi contoh bagi lembaga-lembaga pendidikan lainnya.

Putiyani

“Kita di sini buat kegiatan ini karena punya spirit agar generasi muda tidak sampai tercabut dari akar budayanya. Apalagi tak bisa dipungkiri, para siswa dan siswi disini, orang tua mereka sebagian besar adalah perajin atau penenun kain ikat khas Sumba Timur. Kita jadikan itu sebagai kebanggaan atau icon kami. Kegiatan seperti ini dilakukan secara periodik yakni sekali dalam dua tahun,” urai Putiyani merespon harapan Wakil Bupati yang sebelumnya mengaku trkejut melihat panggung permanen yang didirikan oleh keluarga besar SMAN Kambera.

Fashion Show

Tak bisa dipungkiri, acara dengan tagline ‘Pangung Tanpa Kata’ ini justru melahirkan aneka kata dan kalimat apresiasi positif tak hanya dari para pelajar dan guru setempat. Namun juga aparat pemerintahan, para undangan dari sejumlah SMA dan SMK sederajat se Kota Waingapu, Kambera, Pandawai dan Haharu, tapi bahkan warga yang spontan hadir untuk sekedar menyaksikan kemeriahannya.

Fashion Show

Betapa tidak, selain menampilkan duta-duta fashion dalam busana kreasi tenun ikat Sumtim , juga mata, hati dan bibir hadirin dibuat takjub dengan aneka sajian yang dipentaskan. Keriuhan dan tepukan tangan selalu mewarnai setiap aneka atraksi ditampilkan baik di awal, pertengahan hingga akhir sajian. Drama dan Luluku ( lantunan syair-syair adat), Lomba Kakalaku (Pekikan yel-yel khas perempuan Sumtim), Tarian, Puisi, lagu Sumba Timur dengan iringan petikan Jungga (alat musik petik) membuat para hadirin tak bisa cukup hanya diamkarena terlecut untuk mengucapkan kata dan kalimat sekalipun dalam hati untuk memberi apresiasi pada ‘Pangung Tanpa Kata’. (ion)

Komentar

komentar