Home > Budaya > Empat Bangsawan Praiyawang Dimakamkan, Satu Jenazah Bahkan Sudah Tersimpan 10 Tahun

Empat Bangsawan Praiyawang Dimakamkan, Satu Jenazah Bahkan Sudah Tersimpan 10 Tahun

Prosesi Penguburan Cara Sumba

Waingapu.Com – Empat Jenazah bangsawan kampung Praiyawang , Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT, Sabtu (27/10) kemarin akhirnya dimakamkan. Umbu Tay Hukapati adalah salah satu jenazaha yang sebelumnya telah tersimpan selama sepuluh tahun. Ketiga jenazah lainnya yan g kemarin ikut pula dimakamkan dalam prosesi pemakaman ala bangsawan Sumtim masing – masing Tamu Rambu Ana Motur, Oembo Toenggoe, dan Umbu Turupaita.

Disaksikan kala itu, sebelum prosesi penurunan jenazah dari rumah perkabungan, satu ekor anak kerbau merah dikurbankan terlebih dahulu. Sementara itu, disisi rumah perkabungan, empat ekor kuda untuk papanggang (pengikut atau abdi) disiapkan dan diberi aneka riasan. Di teras rumah perkabungan, para abdi disiapkan riasannya sembari diringi lagu- lagu pengantar bagi ke empat jenazah untuk menuju ke alam yang baru.

Prosesi Penguburan Cara Sumba

Lalu kemudian, ketika sang surya berangsur kian ‘akrab’ cahanya karena mulai kehilangan sengat teriknya, empat ekor ternak, masing – masing dua ekor kerbau dan dua ekor kuda ditarik menuju depan rumah perkabungan, dan selanjutnya dikurbankan dengan tebasan parang ke arah leher. Jazad empat ekor ternak ini kemudian ditarik leuar kawasan kampung untuk ‘dibuang’. Disebut dibuang karena pantang bagi keluarga terkait dan penghuni kampung dan kerabat terkait mengkonsumsi daging kurban ini, dan bagi warga luar kampung yang hendak mengambil dagingnya diperbolehkan.

Bersamaan dengan darah ternak kurban tadi meresap ke dalam tanah, papanggang dan jenazah ke empat bangsawan diturunkan dan diantar ke liang lahat. Masing – masing jenazah diantar dan dikawal oleh papanggang yang berada di atas kuda diikuti oleh jenazah dibelakangnya bersama para keluarga duka. Setelah jenazah masuk ke liang lahat dan ditutup, empat ekor ternak kembali dikurbankan. Tebasan parang di leher dua ekor kuda dan dua ekor kerbau, darahnya mengucur membasahi pelataran kampung dan kemudian ambruk, dan kembali diseret keluar kampung.

Umbu Maramba Meha alias Umbu Maramba Hau, salah satu tetua adat Kampung Praiyawang kepada para awak media pasca pelaksanaan pemakaman menuturkan, prosesi pemakaman ini dihadiri oleh 64 Kawuku (Rombongan undangan adat) yang berasal dari marga – marga terkait. Dan untuk persiapan untuk memantapkan prosesi pemakaman ini plus mengundang marga – marga terkait membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan.

Prosesi ini sendiri mendapatkan perhatian cukup luas dari warga Sumtim, tak hanya berhasil menarik pengunjung dari luar daerah, namun juga luar negeri. Nampak hadir pula salah satu artis ibukota, Tamara Bleszynski. Beberapa kali nampak Ia abadikan moment-moment menarik dengan ponsel androidnya kala hadir untuk menyaksikan prosesi adat langka ini. Sayangnya, ketika hendak dimintai kesannya, wajah artis ini yang telah lengkap beriaskan ‘tidi haidi kepalanya justru berpaling. Adapun tidi hai merupakan riasan khas di kepala perempuan Sumtim yang terbuat dari kulit penyu.

Tamara boleh berpaling wajahnya, namun kesan dan keramahan justru bisa terungkapkan dari beberapa wisatawan luar negeri ketika ketika didekati awak media. Dalah satunya adalah Joseph Lamont. “Saya tunggu setahun lebih untuk menyaksikan proses pemakaman ini secara langsung. Sangat menarik dan luar biasa sekali, karena belum tentu kita bisa menyaksikan lagi dalam beberapa waktu ke depan. Jadi moment ini benar-benar saya nantikan. Semoga tradisi ini bisa dipertahankan,” ungkap Joseph.

Joseph-pun memastikan, moment-moment yang diabadikannya dengan foto dan video akan dibagikan dan ditunjukan kepada rekan-rekan dan sahabatnya dari luar. Harapannya, agar semakin mengenal Sumba yang eksotis alamnya dan tradisinya yang masih terus bertahan. Dan selanjutnya bisa meluangkan waktu untuk berkunjung ke Pulau Terindah di dunia versi Focus, salah satu majalah wisata terkemuka Jerman itu. (ion-ped)

Komentar

komentar