Home > Pendidikan > Aldo & Elton Duet ‘Rapper’ Ala Sumba Timur Dari SDN Palindi

Aldo & Elton Duet ‘Rapper’ Ala Sumba Timur Dari SDN Palindi

Rapper Ala Sumba Timur

Waingapu.Com – Lantunan syair-syair adat khas Sumba Timur (Sumtim) yang dikenal dengan ‘Luluku’ dalam momentum adat perkawinan maupun kematian sudah menjadi hal yang lumrah. Jamak pula terlihat para pelantunnya minimal telah beruban dan bahkan ada yang telah renta termakan usia. Namun spirit untuk tetap melantunkan syair – syair adat membuat nafas yang mestinya tersengal, pupus dengan sajian syair – syair penuh makna. Melihat aksi para Wunang ini mengingatkan pada lantunan syair dan ketukan nada musisi Rap (aliran music ala Afro – Amerika) yang pelantunnya lazim dikenal sebagai Rapper itu. Spirit yang sama tertanam dan tumbuh subur pada Aldo Huki Radandima dan Elton Lai Ngunju Praing dua siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) Palindi, Desa Kambatatana, Kecamatan Kambera, Sumtim, NTT. Dalam usia belia, keduanya punya tekad untuk terus mengasah kemampuannya melafalkan Luluku, seiring waktu yang akan mereka lalui dihari-hari mendatang.

Ditemui usai menampilkan kelihaian mereka dalam ajang Festival Kreativitas bertemakan Memupuk Rasa Cinta Bangsa di Gedung Nasional Umbu Tipuk Marisi, Sabtu (10/11) siang kemarin, Aldo dan Elton yang masing-masing berusia dua belas dan sebelas tahun itu mengaku sejak lama tertarik pada ‘Rap ala Sumtim’ atau Luluku.

Aldo dan Elton

“Saya dari kelas empat belajar Luluku. Sebenarnya dari kelas satu saya sudah suka lihat-lihat dan dengar, jika ada Wunang yang Luluku pas acara adat di sekitar rumah. Kalau tidak salah saya tiga kali ikut adat orang masuk minta, lalu saya coba untuk ulang kembali saat dirumah apa yang saya dengar waktu Wunang Luluku,” jelas Aldo ketika ditanya ketertarikannya pada keunikan adat dan budaya Sumtim yang membutuhkan kejelian, pemahaman dan penguasaan kosa kata bahasa Sumtim yang memadai dan tentunya nafas panjang dan fisik prima itu.

Keinginannya untuk menampilkan keahliannya itu sejatinya telah lama terpendam. Namun baru bisa terjawab ketika Syamsudin Thalib, Kepala Sekolahnya, bersama Sem Ngunju Amah, masing-masing sebagai Kepala Sekolah (Kesek) SDN Palindi dan guru pembimbing mempercayakan keduanya sebagai duta sekolah dalam ajang festival kreativitas guru dan siswa 2018.

“Saya sebenarnya sudah lama mau ikut kalau ada lomba atau dipercaya untuk tampil mewakili sekolah. Namun baru kali ini bisa tampil, saya senang sekali bisa bawa nama sekolah juga kampung kami,” ungkap Aldo dibarengi anggukan kepala dan senyum lepas dari Elton rekan ‘duetnya’ kala itu. Keduanya mengaku untuk tampil dalam festival ini melakukan persiapan empat hari dengan bimbingan guru dan dibantu suntikan semangat dari rekan dan juga orang tua.

“Kalau tadi yang saya Luluku itu bisa saja jelaskan adalah saat masuk minta, saya dari pihak Laki-laki. Mau bertanya kira-kira berapa hewan yang harus kami bawa dari pihak laki-laki dan setelah kami tahu yaa kami beritahukan juga kemampuan kami dan nanti bisa dibicarakan secara kekeluargaan bagaimana baiknya untuk acata dat selanjutnya,” urai Aldo memberikan sedikit penjelasan terkait materi Luluku yang tadi disajikannya bersama Elton.

Ada kisah menarik dibalik ditemukannya bakat atau talenta yang dimiliki Aldo dan Elton dan juga para siswa dan siswi di SDN Palindi. Dituturkan Sem Ngunju Amah, dalam membimbing anak-anak ditempat tugasnya, sejatinya tidak jauh berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya di era modern, yang mana para siswa dan siswinya miliki aneka krakter dan dengan ‘kenakalannya’ masing-masing. Menyikapinya perlu kepala dingin dan kejelian dari para guru yang dipercayakan untuk menyiapkan genarasi bangsa itu.

“Jujur pak, kami guru sekarang harus lebih keratif sebagai guru. Sekarang pak tahu, bentak anak saja kita bisa diperhadapkan dengan aturan hukum dengan sanksi pidana perlindungan anak misalnya. Jadi disekolah kami anak-anak yang nakal kita beri hukuman dengan cara yang berbeda. Kita hukum mmereka dengan cara meminta mereka untuk mendalami kegemaran dan hobby mereka masing-masing. Tentunya untuk hobi yang positif,” urai Sem.

Lebih jauh Sem menjelaskan, pada awalnya Aldo dan Elton ini nakal dan dulunya suka berkelahi dengan kawan-kawannya. Namun ketika Ia dan guru lainnya panggil dan beri nasehat, kemudian menanyakan hobi dan kegemaran masing-masing, baik Aldo dan Elton ternyata sangat senang Luluku.

“Saat kami panggil kami tanya baik-baik ke mereka, apa sebenarnya yang mereka paling suka, dan paling sering mereka mainkan secara berulang-ulang dirumah atau di sekolah, mereka jawab Luluku. Jadi saya kasih hukuman mereka untuk mendalami Luluku. Hal yang sama juga untuk para siswa dan siswi lain, kami cermati kegemarannya, dan itu kami optimalkan untuk dikembangkan. Seperti halnya sekarang di sekolah kami banyak siswi yang bisa tenun,” papar Sem sembari menambahkan bahwa langkah-langkah yang diambilnya bersama Kepsek, juga mendapatkan dukungan tak hanya dari rekan guru lainnya namun juga oleh Komite Sekolah dan orang tua murid itu. (ion-ped)

Komentar

komentar