Home > Pembangunan > Warga Cemaskan Proyek Jembatan Wulla, PPK Tetap Tenang

Warga Cemaskan Proyek Jembatan Wulla, PPK Tetap Tenang

Proyek Jembatan Wulla

Waingapu.Com – Proyek penggantian Jembatan Wulla di Kecamatan Wulla Waijillu, Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT, hingga kini masih belum juga selesai. Realita itu tak ayal mengundang tanya kritis dan kecemasan khalayak, terutama warga sekitar dan para pengguna jalur ini. Proyek jembatan yang didanai APBN 2018 itu, terdapat di jalur Jalan Nasional arah timur kota Waingapu itu hingga kini masih dalam proses pengerjaan. Sementara hujan sudah mulai menyapa warga Sumtim sepekan terakhir.

“Saya memang bukan ahli kontruksi jembatan, juga bukan pekerja proyek, tapi yang saya tahu itupun dari sharing dengan kawan – kawan, kalau bangunan jembatan seperti itu, jika baru selesai cor lantai, harus tunggu 28 hari baru bisa dipakai, itu sesuai aturan kata kawan saya yang mengerti tentang kontruksi dan aturannya,” jelas salah satu sumber yang mengaku dalam seminggu minimal dua kali lalui rute yang dilintasi jembatan itu.

Proyek Jembatan Wulla

Sumber yang menghubungi media ini beberapa hari lalu itu, lebih lanjut menuturkan, bahwa jika tetap dipaksakan untuk dipakai tentu bisa berdampak pada usia jembatan yang sejatinya diharapan bisa lebih panjang. “ Kalau cornya belum memadai sesuai waktu dan aturan, baru dipaksakan aspal, setelah itu dipakai yaa bisa nilai sendiri,” tukasnya sembari berharap identitas untuk tidak dipublish itu.

Hal senada juga diungkapkan oleh Hendrik, warga sekitar yang dimintai pendapatnya oleh media ini, Kamis (29/11) siang lalu. “Semoga pas ada sementara kerja ini, tidak hujan besar diatas sana, kalau hujan besar baru banjir tentu bisa masalah baru lagi,” imbuhnya sembari menilai bahwa pekerjaan yang telah dilaksanakan ini baru sekira 80 hingga 85 persen saja.

Proyek Jembatan Wulla

Menanggapi kecemasan dan nada kritis warga terkait proyek jembatan sepanjang 31. 6 meter yang dikerjakan oleh PT. Esra Global Werk dengan dana lebih dari Rp. 8, 6 milyar itu, Ebenheaser Adam, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 4.4 Batas Sumba Timur -Waingapu pada Balai Pelaksana Jalan Nasional (PJN) X Kupang, Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional Wilayah II NTT, menaggapinya dengan ringan. Hal mana nampak kala dihubungi media ini lewat jalur WhatsApp(WA) ke gawainya, Jumat (30/11) lalu.

Ditanya apakah pekerjaan dimaksud terkatgori terlambat dan bisa dikenai denda? Ebenheaser menjelaskan proyek dimaksud masih dalam pelaksanaan dan telah lalui proses addendum baik waktu maupun pendanaan. Bahkan katanya, kini dalam persiapan pengaspalan dimana lahan oprit jembatan baik yang arah Baing dan Melolo lapis pondasi bawahnya menggunakan agregat kelas A sementara lapis pondasi atas AC BC 6 cm dan lapis penutup AC WC 4 cm.

Hasil olahan media ini yang dirangkum dari sumber – sumber yang memahami teknik dan kontruksi menjelaskan, yang dimaksud dengan oprit adalah bangunan atau kontruksi penunjang yang dibangun sebelum dan setelah kontruksi plat beton jembatan. Dalam oprit ini lazimnya diisi timbunan biasa 0,20 – 0,40 cm disesuaikan dengan tinggi talud penahan. Timbunan pilihn = 0.15 -0.30 sesuai kebutuhan. Adapun yng dimaksud Agregat berdasarkan keaslnya adalah, kelas B = 0.17-0.20cm, Agregat A = 0.15 cm, Sementara Lapis resap pengikat (primer Coat) = 0.30 -1.00 ltr/m2, Hotmix AC BC = 0.06 cm, lapis perekat (teack Coat) = 0.15 – 0.30 ltr/m2, baru lapis penutup AC WC=0.04 cm. (ion)

Komentar

komentar