A'a |
|
|
|
| Ditulis oleh Yongky HS |
| Kamis, 11 September 2008 15:28 |
|
“Paling tidak dorang punya hak pilih nama Babah. Ini kan jaman reformasi, jadi dorang punya hak pilih harus kita hargai haha…” “Justru itulah Pak RT, gara-gara dorang seenaknya ganti nama, saya pernah dituduh sembunyikan anak orang. Masuk kerja di saya namanya Reta, terus datang orang dari kampung cari anaknya. Saya bilang tidak ada, malah dibilang saya bohong. Itu orang kampung kembali lagi dengan membawa polisi. Saya dituduh sembunyikan anaknya. Usut punya usut ee..ternyata itu Reta adalah A’a Meri yang saya kirim di Jawa. Terlanjur urusan polisi terlanjur pula saya habis uang interlokal, maka rugilah saya swueee..betul” “Dorang itu ganti-ganti nama mungkin takut karena dorang pu kelu suka datang-datang minta uang. Atau barangkali dorang takut disuruh pulang untuk nikah” “Tahu lagi dorang, mungkin juga begitu. Pantas saja hari ini terima gaji, minggu depan habis memang! Ngutang lagi” “Makanya ongko, sekarang kita tertibkan KTP supaya tidak terjadi lagi seperti itu” “Baik sudah. Pak RT tanya sendiri sama dorang. Aa……!” suara babah memanggil anak buahnya. Empat orang pengerja perempuan datang menghadap. Pak RT mulai mendata nama-nama pengerja, sementara Mina salah satu pengerja mulai mereka-reka namanya. Sebab sekalipun Pak RT yang bertanya, ia sudah bertekad akan menyembunyikan identitas sebenarnya. “Masa bodoh urusan KTP, saya tidak perlu memang. Tapi kalau Pak RT tanya sa pu nama saya harus sedia nama. Ah namaku Mina..Mina. Ngongo pasti dorang percaya, tapi biar lain sebaiknya sa tambah..Yus..ya Yusmina Ngongo. Dorang semua pasti juga asal taruh nama. Biar taruh nama baik-baik paling tetap juga dipanggil A’a! Baik kalau habis dapat KTP gaji kita langsung naik, bukan malah dipotong untuk bikin KTP. Memang dorang hanya mau kita punya uang saja, mana foto sudah mahal, pres mahal, tanda tangan saja mesti bayar lagi, eih…tidak jelas dorang semua ini”. “Nyumu! Siapa nyumu punya nama?”, suara Pak RT mengagetkan Mina. “Mina om. Yusmina Ngongo”. Alamat asal, agama, tempat tanggal lahir dan lain-lain ditanyakan lengkap dan di catat oleh pak RT. “Nyumu dari Sumba Barat ya?” Pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban ini dilontarkan oleh pak RT-karena dia sudah mencatatnya tadi- hanya sebagai basa-basi belaka untuk membuka perbincangan. “Nyumu senang tinggal di sini?”, tanya pak RT setengah berbisik, malu bila nantinya dijawab ketus. Mina hanya menarik sedikit bibirnya ke atas untuk menanggapi pertanyaan yang disampaikan dengan kerlingan nakal itu. “Baik su ongko, nanti hari Kamis depan biar dorong semua datang di balai desa untuk foto”. “Kamsia”, jawab ongko sambil menyorong sebungkus rokok termurah. “Kamsia juga! Hehe..” pak RT pamit pulang dengan daftar nama para pengerja dan sebungkus rokok murahan. *** Ruang sempit dengan hawa pengap sepanjang hari. Laba-laba menjahit jaring untuk menjebak nyamuk dan lalat. Cicak berkejaran bercanda antara cicak betina dan jantan-tak mudah membedakan mana jantan, mana betina. Semut, kecoa dan binatang keci lain ikut mewarnai ruang pengap itu. Nyamuk-nyamuk beterbangan bagai patroli udara yang siap menghujam di paha, leher, muka dan telinga gadis-gadis muda. Di ruang pengap itulah empat orang A’a biasa kasak-kusuk sebelum beranjak tidur. Mereka sudah ribuan kali bermimpi di ruang pengap ini. Ada yang sudah empat tahun, tiga tahun, dua tahun dan ada yang hanya tahan dalam hitungan hari. Bila pagi tiba sebelum ayam jantan berkokok, penghuni ruang itu sudah sibuk dengan segala tugas yang sudah didaftar sejak mereka pertamakali masuk kerja. Sebelum toko buka, teh dan kue seadanya biasa mengganjal di perut mereka. Siang saat Matahari tepat di atas atap toko, secara bergantian mereka akan menghadap segunung nasi yang berenang dalam sayur kuah berteman tahu-tempe atau ikan tembang. Lambung-lambung tipis sudah hafal dengan kiriman –segunung nasi, tahu-tempe, tembang yang berenang dalam sayur penuh kuah-. Kemarin siang, malam ini, besok siang, malam dan seterusnya. Mulut hanya bertugas mengirim makanan ke lambung dan lambung akan mengubahnya menjadi energi untuk memeras keringat sepanjang hari. Lidah hampir tak punya hak dan kewajiban dalam urusan ini. Pada cermin buram di ruang pengap Mina menikmati wajahnya. Parang Sumba melintang di atas matanya mewakili alis tebal. Ada buah rambutan yang terkupas separuh kulitnya-menggantikan mata bening yang dikelilingi bulu-bulu lentik. Hidungnya menjulang bagai kepala kuda lari di atas bibir tipis yang ada di antara bukit-bukit merah pipi. Semuanya itu terbalut rumput-rumput halus kehitam-hitaman. Ia memang cantik. Ketiga kawan Mina juga lumayan walau tak secantik Mina. “Babah bilang kita harus banyak senyum biar orang suka belanja di sini”, Mina pernah menasihati kawannya yang baru masuk kerja. Penampilan menarik, kriteria utama bila sang babah merekrut pegawai. Tidak salah, penampilan menarik selalu menarik orang untuk sekedar melirik, singgah kemudian belanja. Women Service pelajaran kuno ilmu managemen. Seperti yang pernah dipraktekkan ular di taman firdaus lewat Hawa menjual apel kepada Adam. Mina membuka kaos reklame hadiah babahnya. BRA 38 di lepas dari tubuhnya-pepaya masak siap dikupas. Kemudian kaos reklame itu dipakainya kembali. Ketiga kawannya ada yang sudah mengorok, ada pula yang masih sekedar baring-baring. Mereka acuh. Dalam ruang sempit dan pengap bahkan tak ada bagian tubuh yang pernah dirahasiakan. Mereka masing-masing pernah melihat walau tak sengaja melihat maupun memperlihatkan. Masing tahu si A punya tahi lalat di pangkal paha, si B punya bekas cacar di atas pusar, si C, si D punya ini dan itu. Mereka tahu semuanya. Termasuk bintik merah bekas luka di pangkal paha bagian dalam milik Mina. Mina masih mengamati dirinya di depan cermin. “Tidak. Aku harus tahu diri aku hanya seorang A’a, pembantu biasa, tak boleh berharap macam-macam.Caroline, hanya babah muda yang tahu nama itu. Tapi aku hanya A’a bukan Cinderela. Nona pernah marah sama babah muda karena membagi -Dunkin Donut oleh-oleh dari Surabaya- kepadaku dan A,a yang lain. “Jangan biasa kasih hati sama Hona.Tidak baik; terlalu baik sama orang makan gaji”. Dasar nona punya keke’e, orang hanya kasih kue saja sudah dikira terlalu baik.Dua tahun kerja saja, gaji tidak pernah lebih dari harga lima ekor ayam. Mina membuka tasnya yang disimpan di kolong tempat tidur, mengambil kotak merah kecil lalu kembali menghadap cermin. Sepasang anting perak pemberian babah muda-dengan janji tak boleh cerita kepada siapapun. Kepalanya dimiringkan sepasang anting itu bertengger di telinga kiri-kanan. Mina tersenyum menatap wajah di balik cermin, ada lorong panjang yang mengantarnya ke masa silam, dua tahun lalu. Desember dua tahun lalu. Mina baru kembali dari kampung menjenguk mamanya. Hari minggu toko tutup, babah ulang tahun dan mengajak seisi rumah piknik ke Puru Kambera. Semua A’a diajak serta. Hanya babah muda yang tidak ikut-tidak enak badan. Babah muda menyambut kedatangan Mina, dingin tanpa pertanyaan basa-basi. Mina menyimpan barang-barang bawaannya di kamar belakang nan pengab. Kemudian segera mandi. Hari sudah sore seisi rumah belum juga muncul, babah muda melintas di kamar pengab. “A’a……!” “Ya ongko!” “Kau masak air-eh. Saya mau mandi” Mina segera menuju dapur dan babah duduk di teras dekat kamar pengab. Menunggu air masak Mina kembali ke kamarnya. Babah muda menyusul di belakangnya. “A…,siapa kau punya nama?”, suaranya lembut. “Mina ongko”. “Hah…kau punya nama betulan siapa?” “Caroline”. Mina menjawab jujur tanpa sadar. “Wah..gagah juga kau punya nama. Kau mau ini?” Babah muda selangkah sudah berada di kamar pengab, meraih tangan Caroline dan menyodorkan kotak kecil berwarna merah. Caroline tak bisa menolak pemberian itu. Tangan sang babah muda meremas telapaknya untuk menggenggam. Ia tak bisa mengelak pula ketika rasa nikmat menjalar ke seluruh tubuhnya saat tangan itu berpindah ke mana-mana dengan liar. Nafas dari hidung dan mulut –tak enak badan- berhembus liar ke mana-mana. Menelusuri padang dan bukit-bukit. Melumat rambutan yang terkupas separuh kulitnya, menabrak kepala kuda lari dan mengupas habis pepaya masak. Mina hanya diam, sakit dalam kenikmatan ketika sekitar bintik merah bekas luka perih di terjang banteng muda. Usai dengusan terakhir babah muda membuka kotak kecil berwarna merah dan mnunjukkan isinya kepada Mina. “Caroline, lihat ini! Kamu pakai, tapi jangan cerita siapa-siapa eh?”. Babah muda meninggalkan kamar pengab, mandi air hangat yang sudah mendidih dari tadi. Mina sibuk membenahi tubuhnya yang pengab. *** Kamar kosong di loteng bagian depan dibersihkan. Dua hari lagi babah muda, nona Ling dan nona Cing akan berlibur. Mina dapat tugas urusan bersih-bersih. Sudah setahun tidak ada lagi yang mengeluh padanya – tidak enak badan- minta dikerok atau dipijit. Selama itu pula tidak didengar lagi saat sepi nama Caroline dibisikkan ditelinganya. Mina mengerjakan tugasnya kelewat gembira, lantai dipel bersih mengkilat, kain sprei ditata rapi sampai tak nampak lipatannya. Barang-barang berserakan disingkirkan ke gudang sebelah. Kaca yang nempel di lemari pakaian dibebaskan dari debu. Wajah Mina tersenyum dalam kaca itu. “Caroline kamu harus banyak senyum sebentar lagi akan ada yang –tak enak badan- dan minta pijit sama kamu.(Mina mengingatkan wajah yang ada di cermin). Lihat kulitmu lumayan putih, konjak-konjak menggodamu ‘Halo Aci’bila kamu ke pasar. Kamu memang pantas jadi aci. Anting perak di telingamu itu hadiah dari seorang ongko kepada seorang aci. Kamu cantik Caroline, pantas jadi aci; Aci Caroline. Tidak! aku bukan aci aku hanya seorang A’a. Tidak pantas mendampingi seorang ongko, lain derajat-lain sekali. Kecuali ongkonya gila itu baru sederajat. Nona pernah memarahiku waktu tamunya yang hitam marege aku pnggil –A’a-. “Hust…jangan panggil sembarangan, nona ini anaknya Om Madoke. Panggil sama dia ‘nona’ bukan A’a’ ”. Aku bingung padahal kata A’a itukan bahasanya nona anaknya Om Madoke. “Enak saja kamu bilang A’a, lain kali kalau panggil orang itu lihat-lihat dulu siapa orangnya!”, nona bilang sama saya begitu setelah tamunya pulang. A’a itu panggilan yang lebih enak daripada babu. A’a itu kakak, kakak harus mengalah sama adik. Semua yang ada di rumah ini jadi adik, makanya kamu ini kakak yang harus mengalah pada mereka semua. Tapi ada satu yang menganggapmu adik, dia biasa memanggil kamu ‘adik Caroline,.- Sebentar lagi si koko akan datang dan menikmati –rambutan yang terkupas separuh kulitnya dan melumat pepaya masak- yang disuguhkan si adik Caroline.+ - Haha……….tos! “Praakk” bunyi kaca akibat telapak tangan Mina berbenturan dengan bayangannya di cermin. “A’a…apa itu?” suara nona dari tangga loteng. “Pukul nyamuk nona!”, jawab Mina. *** Seharian si Mina tampak cemberut terus. Hatinya sumpek. Kemarin yang datang bukan tiga orang, nona Ling, nona Cing dan Babah Muda. Tapi ada satu nona lagi, mereka biasa memanggil nona Jawa. Dan babah muda-nya tidur terus di kamar loteng akibat mabuk kapal laut. Mereka datang dengan KM. Awu pagi-pagi sekali, Mina belum sempat menatap – si tak enak badan yang suka melahap pepaya masak-, apalagi mendengar nama Caroline di sebut. Musim liburan toko ramai sekali, semua sibuk di depan. Nona Jawa juga ikut jaga toko. Mina ikut ngepak barang-barang pesanan.“A’a..bawa ini obat kasih babah muda. Kamu bawa air memang eh!”“Ya nona”, jawab Mina, lalu bergegas meraih obat dan membawanya ke loteng. Hatinya berdebar gembira, saat yang sudah lama dinantikan. Kesempatan berdua-walau sedetik-bersama si pemberi anting perak. Segelas air dan sebungkus obat siap menghantar Mina menemui babah muda-nya. Pintu kamar tidak tertutup Mina langsung masuk. Lelaki muda dua puluh dua tahun terbaring di ranjang, celana pendek bertelanjang dada. (Darah Mina berdesir kencang) Wajahnya masih seperti dua tahun yang lalu putih lembut sedikit manja. Ada tato Naga menyembur bola api di dada kiri, sesuai namanya dalam bahasa China:Lung. Mina pernah menelan Naga itu.“Babah ini obatnya”. Suara Mina terdengar pelan. Sang babah duduk di ranjang menerima obat dan air dari tangan Mina, lalu meletakkan di meja samping tempat tidur. Matanya tidak lepas dari majalah “Liga Seri A”. Mina menuggu sedetik, dua detik, setengah menit. Pepaya masaknya bergerak naik turun menunggu tatapan sang naga. Namun sang naga tak terusik sama sekali dan terus menikmati bola di tangannya. Mina kalah. Ia membalikkan badan hendak pergi-rambutan yang terkupas separuh kulitnya- menjadi layu. “A’a..tolong kau panggil Nona Jawa! Jangan lupa tutup pintunya!”.Mina tak jadi melangkah keluar, masih ada injury time untuk menyelesaikan pertandingannya merebut bola api dari mulut si naga. Bola api digiring sisa-sisa keberanian. Mina menunggu saat yang tepat untuk menyerang. Saat dimana namanya ‘CAROLINE’ keluar dari mulut si naga. Seperti pertandingan-pertandingan tahun lalu bila saatnya tiba pertandingan akan memanas. Sering terjadi gol. Kadang hanya membentur tiang gawang dan tak sempat diselesaikan karena-peluit kesempatan- terlanjur ditiup oleh suara orang datang. Mina bicara mengulur waktu. “Ya babah?” “Panggil Nona Jawa saya bilang!” “Ya bah. Nona Tua pesan, babah minum memang itu obat”. “Ehm..!”. “Babah tidak enak badan?”, tanya Mina mengundang kenangan sang babah apabila sibabah ingin menikmati pepaya masak. Babah Muda hanya menoleh sejenak lalu kembali lagi menantap Liga Seri A. “Babah mau makan apa? Pepaya? Naga Muda itu bangkit dari tempat tidurnya siap menerkam pepayaya masak yang digoyang-goyangkan pohonnya. Batang pohon memiringkan buahnya agar bisa diraih sang naga. ‘Pepaya masak’ sudah terlanjur masak, tak ingin jatuh membusuk. Ia bersandar di tubuh sang naga. “Eh…!” babah muda mendorong tubuh Mina. “Tak usah cari hal. Pergi sudah! Nanti saya punya tunangan curiga. Kamu tak usah bikin pusing sama saya, saya sudah tidak pusing (peduli)sama kamu?” “Babah bilang nanti akan bawa saya ke Jawa?” “Kau punya mimpi! Su terlalu banyak perempuan di Jawa. Buat apa bawa A’a macam kamu. Pigi su kau! Ingat jangan macam-macam!” pembicaraan setengah berbisik ini di akhiri oleh sang babah dengan tangan mengepal.Rambutan yang terkupas separuh kulitnya kini benar-benar layu. Dadanya sesak tak tahan memikul mimpi. “Caroline! Caroline! Mana Caroline? Nona Jawa! Nona Jawa. Tunangan. Babah Muda punya Tunangan!”, Mina memekik dalam hati. “Brakkk”, Mina jatuh di anak tangga. A’a-A’a yang lain berhamburan menghampiri Mina, Nona Tua datang memeriksa. “Kenapa kau? Kalau sakit lebih baik kau pulang. Kita ada repot semua, tidak ada yang bisa urus sama kamu!” “Iya nona, saya sakit”, jawab Mina. “Urus sudah kau punya pakaian, nanti kalau sudah sembuh kau datang lagi”. Mina mengemasi barang-barangnya, yang lain kembali sibuk di toko. Toko ramai dan sibuk sekali. Seperti biasa Nona Tua selalu menyempatkan memeriksa tas milik A’a bila mereka hendak pulang. Tas jinjing parasit dibongkar kembali oleh sang nona. Hanya ibu jari dan telunjuknya yang menyentuh barang dalam tas. Kepala dijauhkan seakan menghindar bau tak sedap. “Baik sudah. Ini kau punya ongkos oto. Simpan dulu kau punya tas, tolong bawa koran ini kasih babah muda”. Kebiasan Nona Tua yang selalu punya perintah setiap saat. Mina membawa segepok koran menuju loteng. Tangga loteng bagai sebuah gunung tinggi yang bukitnya dihuni seekor naga ganas, dengan berat hati Mina naik gunung itu. Pintu kamar masih tertutup. Segepok koran diletakkan di muka pintu, di atasnya ada kotak kecil berwarna merah. Mina lalu lari menuruni gunung, melupakan Naga pemakan pepaya masak. Ia pulang meninggalkan mimpi dan empat bulan gajinya . *** Waingapu, 08 Pebruari 2003. CATATAN :Pernah dipublikasikan di Tabloid Wunang A’a : kakak(Sabu)/sebutan untuk pembantu perempuanOngko/babah: sebutan untuk lelaki, Aci/nona : sebutan untuk perempuan, Koko; kakak (etnis Thionghoa) Injury time ; waktu tambahan ( istilah sepak bola}Kamsia : Terima kasih , Hona : Sumba (Hokian)Hitam marege : hitam pekat, Keke’e : pelit , ‘sa pu nama’: saya punya nama, dorang : mereka (dialek Kupang) Nyumu : kamu , kelu ; kerabat/keluarga(Sumba) |
Berita Terkini
18 May 2012
- 17 May 2012 Jembatan Darurat Payeti: Telah Dibangun dengan Model yang Lebih 'Akrab' dengan Kaum Perempuan
- 16 May 2012 Hujan Berkepanjangan: Cemaskan Warga Pengguna Jembatan Darurat Payeti
- 10 May 2012 MTQ NTT akan Diinkulturasi: Bentuk Dukungan, Usulan Tenun Sumba Jadi Warisan Dunia
- 09 May 2012 Sebrangi Sungai & Bukit Terjal: Siswa SD Bidipraing Akhirnya di Asramakan Selama Pelaksanaan UN
- 08 May 2012 Listrik Proyek PNPM hanya Pajangan: Anak Lai Hiding Belajar Pakai Pelita untuk Hadapi UN
- 03 May 2012 PLN Janji Bina & Tindak Pencatat Meter Nakal
- 27 April 2012 Tikus ‘Invasi’ Lahan Pertanian : Warga Kombapari Terancam Gagal Panen
- 26 April 2012 Warga Mengadu ke DPRD: Diduga Petugas Pencatat Meter PLN Kerja ‘Curi Tulang’
- 24 April 2012 Cara Siswa/i SMPN Nggoa Hadapi UN: Gunakan Lampu Pelita Saat Belajar, Jalan Kaki 7 KM ke Sekolah
- 16 April 2012 Diduga Karena Belum Terima Gaji, Staf Dispenduk Sumba Timur Mogok Berkantor
- 13 April 2012 Naskah Ujian Nasional di Sumba Timur Kurang
- 08 April 2012 18 Tahun Didera Hydrochepalus & Lumpuh: Walau Lirih, Zakarias Tetap Bersenandung
- 06 April 2012 Jemaat GKS Kambaniru Gelar Prosesi Jalan Salib
- 05 April 2012 Sekolah di Sumba Timur, 75% Dibawah Standart Mutu Nasional
- 04 April 2012 Apresiasi Perjuangan Anak Lai Hiding: Dinas PPO Sumba Timur Rencanakan Bangun Sekolah Paralel
- 03 April 2012 Belajar dari Agustinus: Sosok Sederhana di Balik Perjuangan Anak-Anak Lai Hiding
- 31 March 2012 ‘Uji Nyali’ Anak Dusun Lai Hiding: Ke Sekolah Bagaikan Terjun ke Arena Sabung Nyawa
- 29 March 2012 Bangunan Pasar Papuu dan Kiritana Mubazir: TPI & Pabrik Es Waingapu Bernasib Serupa
- 28 March 2012 Harga BBM Belum Resmi Naik: Harga Sejumlah Sembako Menang Satu Langkah!




“Tina, Lina, Yana, Ina, Mina, Dina, Rina, Lena, Yeni, Leni, Dini, Ani, Heni, Rini, Tini, Yuli, Seli, Meli, Jeli, Beti, Eti, Neti, Mona, Marsel, Atau Mince apa bedanya? Hari ini di tempat saya ngaku Mina, besok di tempat lain jadi Mince, Meri, Desi atau siapa saja sesuka mereka”.
Komentar
RSS feed untuk komentar posting ini.