Ama Dion Jadi Lurah |
|
|
|
| Ditulis oleh Yongky HS |
| Rabu, 25 Agustus 2010 19:58 |
|
Sesuai Peraturan Kampung, sejak Umbu Meka wafat maka wakilnya akan bertanggungjawab melaksanakan tugas-tugas Umbu Meka hingga habis masa tugasnya tanggal 31 Agustus 2010. Karena itulah kemarin tanggal 22 September 2008 Bapak Camat melantik Ama Dion jadi Lurah Kampung Marapu. Pelantikan ini tidak disambut sorak-sorai warga karena mereka masih dalam suasana duka atas wafatnya Umbu Meka yang jenasahnya belum juga dimakamkan. Warga Marapu malah tasibuk mete dan sekedar bisik-bisik menyikapi harapan baru atas dilantiknya Ama Dion jadi Lurah Marapu.
Cover Buku.
Tulisan ini telah dibukukan di dalam buku Bupati Sumba Pinggir terbitan Pointer Book. Sinopsis Bupati Sumba Pinggir Sumba Timur merupakan suatu wilayah kabupaten dengan ibu kota Waingapu yang dihuni oleh berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia. Pernak-pernik interaksi masyarakat kota Waingapu ini menjadi tema sentral tulisan Yongky HS yang terangkai dalam buku berjudul BUPATI SUMBA PINGGIR. Karena itu, boleh dibilang buku ini merupakan seri lanjutan buku CARA MUDAH MASUK SORGA (Sebuah Kepura-Puraan) yang terbit tahun 2008. Buku yang merupakan kumpulan tulisan esay dan parodi ini walau tersusun secara acak namun tak terlepas dari tema politik, sosial-budaya, perilaku, etika pergaulan, permenungan atau introspeksi diri bahkan juga soal agama, semuanya dihadirkan secara segar dengan bumbu-bumbu humor dengan dialek ’Waingapu-an’ yang tidak norak. Keseriusan penulis dalam berhumor bisa dilihat dari berbagai pernik kehidupan yang diangkat dan disorotinya. Masalah suksesi, otonomi daerah, pemilu, legislatif, tata kota, tradisi, keagamaan, perilaku pribadi, etika pergaulan dan sebagainya. Bahkan bolehlah dibilang bahwa buku ’ringan’ ini merupakan kritik sosial atau kegelisahan penulis terhadap kondisi sosial budaya kita di Sumba Timur. Ukuran: 11 x 17 cm Cover: Kertas Ivory 210gr + Doff Isi: 187 halaman Terbit Tahun: 2010 Harga: Rp.40.000,- (sudah termasuk ongkos kirim kilat khusus dlm wilayah indonesia) Segera Pesan melalui email di pointerbook[at]waingapu.com |





Komentar
permasalahannya bukan pada soal menjadi pemimpin atau menjadi yg dipimpin, tapi lebih pada bagaimana menjadi pengekor pada dataran nilai budaya sumba yang saat ini sudah bergeser.
saya ingin bertanya kepada pembaca tentang artikel di atas. pertanyaannya:
1. masih blm layakkah menduduki posisi pemimpin walau brangkat dr kesederhanaan yg merakyat?
2. apakah menjadi pemimpin hrs memiliki atribut high level agar diakui status sosialnya?
3. setujukah jika pemimpin itu hrs menjadi panutan dan bukannya menunjukkan pengakuan "hah.. saya juga orang" walau rakyatnya tahu persis istilah dalam budaya sumba "nggai mbua kapuka" (pohon itu besar dr akarnya, bukan besar dipucuknya)
sebelumnya trimakasih kepada Yongky HS yg menulis artikel di atas, tulisan anda penuh makna, jempol buat Yongky HS.
1. bukannya yg sederhana itu yg bs bergaul dg rakyat...jadi layak sj klo dw memimpin
2.tdk perlu....asal dw punya otak, etos, dan pro rakyat..klo hanya high level tp tdk menjamah seluruh lapisan masyarakat Sumba..buat apa jadi pemimpin
3. panutan dan pengakuan juga lebih bgs....
buat Yongky: tulisannya memang bgs dan mengena..mudah2an byk warga Sumba yg membacanya shg pkirannya lebih terbuka....
3.
))Boy: nggai mbua kapuka: wah saya ikut penasaran nih apa seenarnya yg ada di balik istlah tsb.
))Tau: saya rasa pertanyaannya bukan layak tidaknya seseorang yg brasal dri kesederhanaan dan bkan hight level menjadi pemimpin, tp justru bagaimana seharusny kita menempatkan pemimpin pd pandangan dan tolok ukur yg layak yg tidak terbebani oleh aspek atribut2 'semu' seorang pemimpin. Repotnya respek dan pola pikir kita jg bertindak senada; sll menempat seorang pemimpin pd level high dgn sgl atribut2nya.
)) Saya benar mmg hrus bgtulah menempatkan da menilai seorang pemimpin. Terimakasih atasumpan baliknyaterhada p tulisanini.
))Parker: Terimakasih atas kejelian Anda; ini memang tulisan lama yg sebenarnya dipersiapkan utk membuat semacam tabloid saat pemakanan Alm. UMK (syg batal rencana itu. Soal dukung dan kritis mmg seharusnya ditempatkan posisi yg kontradiktif.
))
Bila kita sekedar dukung tanpa memberi peluang diri utk berlaku kritis, akan hanya melahirkan sikap fanatisme belaka.
Sebaliknya bila sekedar kritis tanpa memandang/memberi aspek proaktif secara universal maupun fungsional,akan mudah tergelincir sbagai sikap penghujat belaka..
RSS feed untuk komentar posting ini.