Apa Beda Orang Jawa dan Orang NTT? |
|
|
|
| Ditulis oleh Oemboe Alombawa |
| Rabu, 16 Januari 2008 04:14 |
|
{xtypo_dropcap}L{/xtypo_dropcap}ima orang Jawa datang ke NTT (Kupang), menumpang kapal laut dengan harga tiket yang murah. Setelah setahun, mereka kembali berlibur ke Jawa dengan menumpang pesawat, membawa sejumlah uang yang seharus berputar di NTT. Mereka datang dengan membawa sedikit modal, tapi banyak pengetahuan dan ketrampilan mengolah makanan. Contohnya bakso atau lebih sederhana jual gorengan, seperti di halte depan Bank Mandiri dan Telkom. Dalam semalam, mereka meraup keuntungan sampai ratusan ribu. Padahal hanya mengubah ubikayu dari Oesao, pisang dari Amarasi yang dibeli dengan harga murah, menjadi gorengan yang dilahap oleh orang Kupang yang kelihatan konsumtif berat akan barang-barang seperti itu. Dalam setahun, terkumpul uang banyak, hidup mereka pun berubah. Datang dengan kemiskinan, pulang dengan kekayaan.
Sebaliknya orang NTT beda. Ini ada dua cerita dari tempat berbeda tapi sedikit menggambarkan mentalitas yang ada pada kita. Cerita pertama datang dari Maumere. Konon, ada seorang penjual moke alias arak Maumere yang terkenal itu, yang istilahnya bakar manyala. Dia datang ke pasar, menjual mokenya satu jergen seharga Rp.25.000, di sebuah rumah makan yang memang menjual juga moke sebagai minuman. Setelah menerima uang, pemilik rumah makan menawarkannya untuk makan di situ. Menunya khas kesukaan orang itu. Tergiur oleh menu itu, apalagi pemilik rumah makan bilang akan ada korting buat dia. Maka makanlah orang itu. Tentu saja dihidangkan juga arak yang baru dijualnya sebagai teman makan daging khas kesukaannya. Apa jadinya? Karena keasyikan makan, dan minum, dan mulai mabuk, dia minta tambah terus daging dan arak. Habislah uang hasil penjualan arak. Dia pulang dalam keadaan mabuk gara-gara arak yang tadi dijualnya. Tanpa uang sepeserpun. Datang dengan kemiskinan, pulang juga dengan kemiskinan. Cerita kedua datang dari Kapan. Juga terjadi di pasar. Hari Kamis, pasar Kapan. Seorang dari Fatutasu datang membawa setandan pisang masak untuk dijual di pasar. Dijualnya ke penjual kue pisang molen dengan harga murah, karena banyak sekali yang jual pisang hari itu sehingga harga jatuh. Dia lalu berkeliling di pasar, melihat-lihat barang-barang. Tapi tidak dibelinya satu pun. Siang hari, dia mulai rasa lapar. Dia ke penjual kue tadi, dan membeli pisang molen untuk makan. Persis waktu itu penjual kue sedang menggoreng dari pisang yang dijual orang ini. Uangnya berkurang dan tidak cukup untuk beli beras. Datang dengan kemiskinan, pulang juga dengan kemiskinan. {xtypo_alert}Kita memang masih terbekap dalam mentalitas konsumtif, dan bukan spiritualitas produktif. Kapan berubah? Tanya pada rumput yang bergoyang? Barangkali angkatan ini yang telah mulai dengan sebuah Forum Academia akan berbuat sesuatu untuk perubahan di masa depan? Mengubah mimpi jadi kenyataan?{/xtypo_alert} Rm. Sipri Senda |
Berita Terkini
18 May 2012
- 17 May 2012 Jembatan Darurat Payeti: Telah Dibangun dengan Model yang Lebih 'Akrab' dengan Kaum Perempuan
- 16 May 2012 Hujan Berkepanjangan: Cemaskan Warga Pengguna Jembatan Darurat Payeti
- 10 May 2012 MTQ NTT akan Diinkulturasi: Bentuk Dukungan, Usulan Tenun Sumba Jadi Warisan Dunia
- 09 May 2012 Sebrangi Sungai & Bukit Terjal: Siswa SD Bidipraing Akhirnya di Asramakan Selama Pelaksanaan UN
- 08 May 2012 Listrik Proyek PNPM hanya Pajangan: Anak Lai Hiding Belajar Pakai Pelita untuk Hadapi UN
- 03 May 2012 PLN Janji Bina & Tindak Pencatat Meter Nakal
- 27 April 2012 Tikus ‘Invasi’ Lahan Pertanian : Warga Kombapari Terancam Gagal Panen
- 26 April 2012 Warga Mengadu ke DPRD: Diduga Petugas Pencatat Meter PLN Kerja ‘Curi Tulang’
- 24 April 2012 Cara Siswa/i SMPN Nggoa Hadapi UN: Gunakan Lampu Pelita Saat Belajar, Jalan Kaki 7 KM ke Sekolah
- 16 April 2012 Diduga Karena Belum Terima Gaji, Staf Dispenduk Sumba Timur Mogok Berkantor
- 13 April 2012 Naskah Ujian Nasional di Sumba Timur Kurang
- 08 April 2012 18 Tahun Didera Hydrochepalus & Lumpuh: Walau Lirih, Zakarias Tetap Bersenandung
- 06 April 2012 Jemaat GKS Kambaniru Gelar Prosesi Jalan Salib
- 05 April 2012 Sekolah di Sumba Timur, 75% Dibawah Standart Mutu Nasional
- 04 April 2012 Apresiasi Perjuangan Anak Lai Hiding: Dinas PPO Sumba Timur Rencanakan Bangun Sekolah Paralel
- 03 April 2012 Belajar dari Agustinus: Sosok Sederhana di Balik Perjuangan Anak-Anak Lai Hiding
- 31 March 2012 ‘Uji Nyali’ Anak Dusun Lai Hiding: Ke Sekolah Bagaikan Terjun ke Arena Sabung Nyawa
- 29 March 2012 Bangunan Pasar Papuu dan Kiritana Mubazir: TPI & Pabrik Es Waingapu Bernasib Serupa
- 28 March 2012 Harga BBM Belum Resmi Naik: Harga Sejumlah Sembako Menang Satu Langkah!




