Belajar & Bermain Lumpur Untuk Cegah Rawan Pangan
Ditulis oleh ion  
Senin, 18 Juni 2012 09:54

Waingapu.Com - Jika dikota besar, anak-anak dan orang tua harus mengeluarkan sejumlah dana untuk bisa bermain dan belajar di alam terbuka, tidaklah demikian halnya di Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT. Arena belajar ala ‘out bone’ terbuka lapang dan bisa digumuli dengan gratis. Seperti halnya yang terjadi pada sejumah siswa di SD Masehi Praipaha, Kecamatan Nggaha Ori Angu pekan silam. Mereka bermain sambil belajar di alam terbuka, bersukaria dalam lumpur di tengah sawah.

Itulah suasana yang terjadi kala siswa dan para guru berbaur mempraktekan dan mempelajari pola menanam padi dengan label Sistem of Rice Intensification (SRI). Sebuah sistem yang diharapkan bisa menurunkan biaya poduksi namun bisa menjanjikan hasil yang jauh lebih melimpah.

Dengan dipandu oleh tenaga dari Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI), mereka belajar cara menanam padi menggunakan pola yang masih sangat asing bagi anak- anak bahkan bagi warga setempat. Dari proses awal mempersiapkan lahan hingga cara membuat legowo guna mencegah hama tikus dan keong diikuti para siswa dengan seksama dan sukacita.

Seperti terpantau kala itu, para siswa juga belajar meratakan permukaan tanah agar nutrisi dari pupuk yang mereka taburkan nantinya merata untuk setiap anakan. Juga para siswa dibekali ilmu tentang bibit yang baik dan siap tanam apabila telah disemaikan selama 10 hari. Puncaknya mereka dibagikan kumpulan anakan padi yang ditamping pada beberapa pelepah pisang yang telah terbentuk bak sebuah nampan kotak lalu ditanam pada lahan yang disiapkan. Bergantian sejumlah kelompok siswa belajar menanam padi, dengan cara hanya satu anakan pada jarak 25 cm kali 25 cm dengan tali yang sudah diberikan tanda.

Beberapa anak yang ditemui dan dimintai pendapatnya menjelaskan pola ini baru mereka ketahui. “Selama ini saya juga sudah pernah bantu orang tua tanam padi di sawah. Tapi biasanya kita tanam satu kali tancap ditanah tiga anakan. Ini hanya tanam satu-satu saja.Semoga nanti bisa jadi padinya juga panen banyak, supaya kita tidak susah lagi cari beras kalau musim kemarau,” jelas Rizky Ana Tani Mbiliyora (11), senada dengan sejumlah kawannya.

Menurut Rahmat Adinata, instuktur dari IPPHTI yang ditemu disela-sela memberikan contoh penerapan pola SRI pada sejumlah siswa, guru dan warga setempat, pola SRI adalah pola yang lebih hemat bibit dan air. “Satu hektar hanya membutuhkan bibit 8 kilogram. Padahal biasanya dengan pola tradisonal bisa mencapai 80 kilo gram/hektar. Juga tidak membutuhkn air banyak. Pola ini bukan hanya di sini saja mulai dikenalkan tapi sudah diperkenalkan di seluruh Indonesia. Pola ini akan membuahkan hasil asal petani tidak sungkan dan malas untuk melakukan perawatan intensif. Tidak hanya habis tanam dibiarkan saja dan hanya mengatur air, tidak disiangi. Kalau mengikuti petunjuk dan melakukan perawatan yang memadai, rawan pangan yang biasa terjadi di Sumba Timur dapat teratasi. Saya harapkan pola ini bisa turut di sosialisasikan dengan serius oleh pemerintah,” paparnya.

Fakta dan data yang tak bisa dipungkri, demikian lanjut Adinata, dampak dari minimnya stok pangan pada setiap tahun, maka ketika masuk musim kemarau setidaknya selama tiga tahun berturut-turut (sejak 2009 hinggga 2011 lalu) 156 desa pada 22 kecamatan di Sumtim mengalami rawan pangan. (ion)

Share