Home > Kalumbut > Budi Main Bo(la)m
Budi Main Bo(la)m Cetak Email
Kontributor: Yongky HS   
Jumat, 24 Juli 2009 08:37

Spot iklan cellular  menggambarkan beberapa pemain Manchester United di ruang kelas sedang dipandu ibu guru untuk belajar Bahasa Indonesi dengan kalimat : Ini Budi, Budi bermain bola. Setelah para ‘murid’ M.U. itu mengeja kalimat dalam Bahasa Indonesia kemudia mereka saling pandang sambil senyum-senyum alias cengengesan. Edan, diam-diam saya keranjingan menyaksikan spot iklan itu. seandainya ada lomba Anugrah Pariwara, dengan suka rela saya akan ‘vote’ iklan milik ‘3’ tsb.

Saya keranjingan M.U? Nggak  juga!!!

Bagi saya iklan itu cukup jeli mengkombinasikan ikon M.U dengan kondisi sosial Indonesia. Lihatlah bertahun-tahun teks: Ini Budi...dst, menjadi teks wajib di bangku awal Sekolah Dasar. Pola pendidikan dengan menempatan siswa sebagai si’buta’ yang dituntun si guru juga jadi pola yang mengakar di sistem pendidikan kita. Guru memiliki peran mutlak mendiktekan kebenaran (pengetahuan) kepada sang siswa. Reaksi psikologis kita kebanyakan juga tersenyum-senyum(cengengesan) bila menghadapi, ketidaktahun, kebingungan dan ketidakberdayaan.  Singkatnya, bagi saya iklan ‘M.U. belajar Bahasa Indonesia’ ini menjadi “parodi yang menarik tentang sosio-budaya kita, pas banget!

Greget M.U ini kian mengena ketika hal ini berkaitan dengan rencana kedatangan Team Sepak Bola Dunia ini ke Indonesia. Publikasi besar-besaran, rencana-rencana disusun demi menyambut kedatangan M.U., mulai dari insan bisnis, insan bola, selebritis, hingga insan politis merancang segala jurus untuk mengambil nilai plus kedatangan M.U ke Indonesia. Sayangnya, kaum teroris juga tak mau ketinggalan memanfaatkan kedatangan M.U.ini untuk melaksanakan aksi teror.

Jumat pagi 17 Juli 2009, kita dikagetkan dengan meledaknya bom di Hotel J.W. Marriot dan Ritz-Carlton yang menewaskan 9 korban jiwa. Segala analisa mengenai teror bom ini mencuat dari berbagai sudut pandang oleh berbagai kalangan. Semua analisa bermuara pada keprihatinan dan kebencian bahkan kutuk terhadap aksi teror ini. Prediksi-prediksi terhadap pelaku, motif dan ‘sasaran terselubung’ teror masih dikembangkan oleh pihak berwenang sebagai tindak penyelidikan.

Walau terkesan agak ‘naif, namun banyak kalangan justru lebih menyesalkan gagalnya Kehadiran Team M.U  ke Indonesia akibat teror itu. Penyesalan semacam itu bukan saja oleh kalangan penggila bola, namun juga sempat terlontar oleh orang-orang elit kita sekelas SBY dan JK. Teror BOM ini adalah masalah serius yg dihadapi bangsa kita, kita jadi luluh lantak akibat aksi gila teror bom bunuh diri. Semua sendi kehidupan di Indonesia terimbas akibat tragedi bom di Hotel J.W. Marriot dan Ritz-Carlton ini.

Tapi mengapa sempat-sempatnya kita menyesalkan atas batalnya kedatangan M.U. ke Indonesia? Di koran-koran, di televisi di situs-situs pertemanan semisal Friendster dan Face Book, serta di warung-warung rame orang bicara teror bom itu yang berkaitan dengan gagalnya M.U. datang ke Indonesia. Mengapa kita tidak lebih inten bicara akibat serius lainya? Atau mengapa kita enggan bicara kinerja para pengaman negeri ini? Atau membicarakanya dengan spikulasi politis terhadap aksi teror ini? Mungkinkah kita sudah lelah menyikapi setiap aksi teror yang sering dialami negeri ini, sehingga lebih apatis dan lebih enjoy menyikapi dari sisi-sisi lain? Atau barangkali kita tak tahu harus bersikap bagaimana selain mencerca dan mengutuk aksi teror ini dengan segala sumpah serapah: PUKIMAI kau TERORIS. (Maaf itu reaksi spontan ketika mendengar berita teror bom di Mega Kuningan).

Moment teror yang kita hadapi kali ini sungguh menyakitkan! Betapa tidak, kita sedang mempunyai hajatan besar demokrasi; Pilpres. Mau tak mau, teror ini ikut melukai proses demokrasi kita akibat timbulnya ‘tudingan dan kecurigaan’ bahwa teror itu berkaitan dengan pelaksanaan Pilpres. Secara sadar atau tidak kecurigaan itu muncul sebagai akibat pesimisnya kita terhadap kemurnian pelaksanaan Pilpres. Dan sikap pesimis ini bisa saja timbul justru karena ulah kaum elit politik kita yang diam-diam terbersit (kadang juga vulgar) mencurigai dan mendiskreditkan elit lain golongan. Atau memang seperti itu dunia politik ? Nda ku pingu! (Aku tak tahu).

Perihal penyesalan gagalnya M.U ke Indonesia bisa kita maklumi. M.U sebagai klub elit sepak bola memang memiliki magnit yang luar biasa untuk menyedot perhatian dunia. Secara tak langsung salah satu aspeknya, jika team elit sekelas M.U mau datang ke Indonesia, ini menjadi legitimasi terhadap kondisi keamanan Indonesia di mata dunia. Kita yang sudah mulai memperoleh kepercayaan dan simpati dunia terhadap kondisi keamanan negeri ini tiba-tiba seperti buyar begitu saja akibat teror bom sialan itu. Sehingga akhirnya secara spontan team M.U. yang waktu itu berada di Malaysia membatalkan rencana kedatangannya ke Indonesia. Maklumlah Hotel Rits Carlton yang jadi sasaran teror itu rencananya dijadikan tempat menginap team M.U.  Laga Manchester United vs Indonesia All Star yang dirindukan oleh insan bola kita hanya tinggal kenangan yang menyisakan kepahitan.

Lebih parah lagi, pembatalan itu berimplikasi ‘warning’ kepada dunia internasional bahwa Indonesia tak aman, sebab teroris masih bebas bercokol di sini. Dan itu tentu berimbas pada dunia pariwisata dan investasi kita. Sehingga lagi-lagi kita harus merangkak kembali menata dan membenahi diri demi memperoleh kepercayaan Internasional. Ini jadi Pe-eR berat pemerintah dan Pe-eR kita semua. Harapan besar, kita titipkan pada pihak Polri untuk segera mengusut tuntas setiap aksi teror bahkan untuk menghancurkan terorisme di Negeri kita. Semoga.

Lalu bagaimana dengan penggila bola kita yang merindukan hadirnya team-team besar seperti M.U? Untuk sementara kita hanya bisa mengurut dada, cukup mengintip M.U. di Primere Liege pada musim kompetisi mendatang lewat siaran televisi saja. Lupakan kisah M.U. belajar Bahasa Indonesia. Tapi saya punya imajinasi liar: M.U. Belajar Bahasa Indonesia Jilid II. Begini:

Di ruang kelas Roy Keane dan kawan-kawan didikte oleh sang guru (Noerdin M Top) untuk mengeja:

I-ni Bu-di

Bu-di ber-ma-in bom....

Para murid M.U. itu saling pandang  mengangkat bahu, lalu sang guru mengekspresikan kata bom, mengangkat kedua tanganya sambil berucap: BOOM.....Mau?

Secara spontan para murid M.U. lari terbirit-birit.....

Hehe.... semoga imajinasi liar ini tidak jadi parodi kondisi Indonesia yang berkembang di luar sana.

 

Waingapu, 24  Juli 2009

Catatan:

Pukimai: makian kasar

 

Tambah komentar

Komentar harus disesuikan dengan isi atau tema artikel. Komentar yang tidak sesuai akan dihapus


Kode keamanan
Refresh