Budidaya Rumput Laut Jadi Unggulan Daerah |
|
|
|
| Ditulis oleh Admin |
| Rabu, 23 Juni 2010 01:36 |
Ibu Lia R. Mone dan Ibu Sita Dewi.
Waingapu.Com - Setelah NTT ditetapkan sebagai daerah sentral pengembangan rumput laut oleh pemerintah Indonesia sebab dapat memenuhi 40 persen kebutuhan nasional, maka di beberapa kabupaten di NTT termasuk Sumba Timur berlomba-lomba untuk membudidayakan rumput laut tersebut. Pemerintah Daerah Sumba Timur menyambut baik penetapan tersebut dengan langkah nyata yaitu mendirikan pabrik pengolahan rumput laut yang berlokasi di Kaliongga, Mangili, Sumba Timur. Ini merupakan bukti nyata akan keseriusan pemerintah daerah yang waktu itu masih dipimpin oleh almarhum bupati Ir. Umbu Mehang Kunda, M.Si.
"Berawal dari penelitian yang dilakukan oleh Tim Survey Pemekaran Kabupaten Sumba Timur, yang pada tahun 2007 lalu diperoleh data-data bahwa Sumba Timur memiliki potensi lokal budidaya rumput laut yang dapat dikembangkan agar menjadi sumber pendapatan daerah selain peternakan," demikian ungkapkan oleh ibu Sita Dewi selaku direktur pabrik pengolahan rumput laut di Kaliongga kemarin siang, Selasa, 22/06/2010.
"Peluang inilah yang ditangkap almarhum bupati Mehang Kunda kala itu. Kemudian melalui Maxon Pekulwali (Kadis Kelautan dan Perikanan Sumba Timur) mencoba menyampaikan ke pemerintah pusat yang kemudian ditanggapi postif dan disetujui untuk mendirikan pabrik ini", demikian lanjut Sita Dewi. Sumba Timur yang memiliki potensi budidaya rumput laut dengan areal yang tersedia sebesar 3.945,76 Ha baru dapat dikelola sebesar 394,58 Ha dengan produksi 6.313,22 ton di tahun 2008. Artinya masih begitu banyak lahan yang tersedia dan belum dikelola dengan maksimal. (Sumber: Dinskominfo NTT)
Ketika iu Sita Dewi ditanya tentang kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam usaha budidaya rumput laut ini, beliau mengatakan, "Ketika pertama kali saya tiba di sini, bangunan dan mesin pengolahan telah tersedia, hanya saja tidak ada teknisi, artinya SDM kita belum tersedia. Kemudian dengan koordinasi dengan pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Sumba Timur, akhirnya bisa teratasi, dan saya dipekerjakan di sini untuk menjalankan usaha Pemda ini demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan lebih dari pada itu usaha ini bukan milik swasta, murni milik pemerintah."
Saat berkeliling meninjau lokasi pabrik, kami ditemani oleh manager produksi ibu Lia Rangga Mone. "Kami khusus mengolah rumput laut jenis E. Cottonii. Jenis rumput laut ini memiliki kualitas tinggi karena kekuatan gel yang dikandungnya", demikian kata Lia sambil menunjukkan proses pengolahan rumput laut tersebut.
"Quality Control yang kami lakukang sangat ketat. Jika ditemukan chips yang tidak memenuhi standar permintaan, sekalipun itu telah menjalani tes akhir dari bagian laboratorium, maka kami harus membongkarnya dan kemudian melakukan pengolahan ulang", demikian Lia menjelaskan.
Menjalankan proses pengolahan rumput laut tentunya akan maksimal jika didukung oleh sumber daya manusia yang handal. "Dengan jumlah staff kantor sebanyak 12 orang dan karyawan harian sebanyak 13 orang, produksi rumput laut masih sangat kurang sekali, bahkan sekarang pekerjaan saya sebagai pimpinan pabrik ini bertambah, yaitu merubah pola pikir masyarakat disekitar pabrik terutama para pengerja hariannya. Kemudian dari pada itu, sejak pabrik ini beroperasi normal sejak Desember 2009, belum pernah sekalipun anggota dewan legislatif Sumba Timur datang berkunjung ke sini untuk mendengarkan kendala-kendala yang kami hadapi dan mencari jalan keluarnya", demikian ungkap Sita Dewi dalam perbincangan kami. "Potensi alam rumput laut telah dimiliki oleh Sumba Timur, tinggal bagaimana unsur-unsur yang berkompoten didalamnya agar mengelola potensi ini menjadi maksimal sehingga demikian akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena pihak pabrik berani membeli rumput laut dari petani tersebut dengan harga Rp.11.000/Kg", demikian ditambahkan Lia Rangga Mone. |











Komentar
INI EMAS TERPENDAM DIPISISIR LAUT. GET IT... OK?
Tentunya, mabuk-mabukan, malas dstnya sudah HARUS mulai DIKIKIS. Dan tentu pola hubungan feodal yang yang kaku perlu diperhalus lagi...
JIAKA BATA TAKANGU PATAKANGU, BATA LUDUNGU PALUNDUNGU.. LA UMA MAPA TALARU LA WATU MAPA LIHI...HANINA DUMU UMBU MAKATANGU PARETA.
Nyungga : KAMARRU MURU....
RSS feed untuk komentar posting ini.