Home > Kalumbut > Bupati Sumba Pinggir
Bupati Sumba Pinggir Cetak Email
Kontributor: Yongky HS   
Senin, 16 Maret 2009 05:53
Image(Parodi Wacana Pemekaran Kabupaten Sumba Timur)
Rabu, 28 Januari 2009 di Gedung Umbu Tipuk Marisi ada seminar Pemaparan Studi Pemekaran Kabupaten Sumba Timur Nusa Tenggara Timur. Dihadiri oleh berbagai komponen masyarakat Sumba Timur mulai dari Anggota Muspida, Cendekiawan, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Politisi, Wartawan dan Masyarakat Awam termasuk Nyang, Nying dan Nyong turut hadir. Suasana acara seminar tampak adem-adem meskipun itu membahas isue yang cukup penting bagi masa depan Sumba Timur. Sesuatu yang seru justru terjadi di sudut ruang tempat Nyang-Nying-Nyong ikut meloi hajatan Pemerintah Daerah ini.

“Itu, itu, apa saya bilang? Kita ini sudah layak mekar membentuk Kabupaten Baru! Sudah waktunya wilayah-wilayah di Kabupaten kita jadi daerah otonom sebagai Kabupaten Baru. Biar Rakyat memperoleh pelayanan yang baik dengan mempersingkat segala macam urusan demi kebaikan rakyat, demi kita semua. Saya setuju itu! Setuju sekali” Nyang langsung menyambut antusias begitu para peneliti menyampaikan hasil-hasil kajian sebagai indikator kelayakan untuk pembentukaan daerah otonom.

“Heh, diam sudah! Dengar dulu bapak-bapak peneliti dari Universitas Indonesia dorang belum selesai ngomong!” sergah Nying mengingatkan Nyang.
“E...diam apa kau? Seharusnya yang begini ini kita sudah kayaka dan kakalak, tahu! Harus kita sambut antusias, harus kita syukuri, harus kita ambil kesempatan ini. Ini peluang!” balas Nyang.

“Peluang ya peluang tapi dengar dulu sana! Belum semua syarat-syaratnya untuk dianggap layak mekar itu terpenuhi semua. Masih ada beberapa faktor penting yang harus dibenahi untuk dianggap layak mekar. Lebih baik kita tunggu dulu jangan paksa diri”

“Paksa diri apa kau? Ini penting. Ini menyangkut kemajuan Sumba Timur, kemajuan kita! Kita harus punya keberanian untuk melangkah kalau mau maju! Pintu sudah terbuka jangan kita hanya tanganga, maju tidak, mundur juga tidak. Apa yang kita takutkan?”
“Bukan bilang takut. Tapi kita harus hati-hati, kita lihat dulu ada gunanya tidak? Apa pengaruhnya kalau kita mekarkan Kabupaten kita? Terus...!”
“Ya jelas banyak gunanya!”
“Tunggu na, jangan kau potong saya punya pendapat!”
“ Ya lanjut”

“Lihat, daerah kita memang luas memang layak kalau kau bilang ini dibagi-bagi lagi menjadi beberapa Kabupaten baru. Tapi isinya apa? Siapa yang ngurus nanti? Apa tidak tambah berat beban negara kita ngurusi Kabupaten anga-anga? Harus ada sarana-sarana yang dibangun, butuh biaya banyak, butuh waktu dan tenaga. Lha untuk memenuhi kriteria kelayakannya saja kita pasti kewalahan. Jadi tak usalah aneh-aneh mau bikin kabupaten baru. Kita urus saja Kabupaten yang sudah ada ini, dari pada hanya menang gagah punya Kabupaten Baru tapi gak ada pengaruhnya untuk rakyat”

“Nying...Nying. Memang tidak jadi kau ini. Belum-belum sudah walla. Ya jelas ada pengaruhnya untuk rakyat. Paling tidak bila sudah terbentuk Kabupaten Baru pembangunan akan semakin terasa dan mudah dinikmati oleh kita-kita yang di daerah. Lihat saja saudara-saudara kita di Sumba Barat, sejak mekar menjadi Sumba Barat Daya, Sumba Barat dan Sumba Tengah, kini mereka tengah giat membangun untuk berlomba-lomba menata diri menuju Kabupaten yang layak untuk disebut sebagai daerah otonom yang pantas untuk menjadi Kabupaten. Akibatnya dirasakan juga oleh saudara-saudara kita di sana yang dulunya jauh dari sentuhan pembangunan. Ini kan bagus untuk rakyat?”

“Heh Nyang dan Nying..nyimi ini persis kayak orang top-top saja. Lihat tuh, orang-orang pintar saja gak pusing macam nyimi punya cara menyikapi hasil kajian studi pemekaran Sumba Timur.” Nyong mulai ikut bicara.
“Maklum kakak, orang pinter harus keker-keker dulu alias mikir-mikir dulu sebelum ngomong. Kalau kita kan main hantam saja begagi kayak si Nyang ini yang belum-belum sudah ingin Sumba Timur dimekarkan jadi beberapa Kabupaten” jawab Nying.
“Bukan gagi tapi saya hanya lihat ini kesempatan emas bagi kita untuk mewujudkan pemekaran Sumba Timur, mumpung undang-undangnya juga mendukung! Menurut bapak-bapak peneliti itu sebenarnya juga sudah layak untuk direkomendasikan mekar meskipun ada hal-hal penting yang harus dibenahi dulu.” balas Nyang.

“Makanya Nyang,.....dari pada tasibuk bikin Kabupaten baru, lebih baik kita urus saja yang sudah ada ini. Kita benahi sarana-sarana demi melayani rakyat, kita pacu pembangunan yang lebih dirasa oleh rakyat. Itu akan lebih mudah daripada harus bikin pemekaran kabupaten. Orang pinter bilang perbaikan fasilitas pelayanan publik dan itu menurut saya lebih mudah diwujudkan. Sumba Timur kita ini ibaratnya seperti selembar kain yang mau dipakai serbet terlalu besar, mau pakai taplak meja terlalu kecil. Jadi lebih baik jangan gagi mau mekar-mekaran segala” Nying masih bersikukuh menyanggah.
“Hah..tidak bisa begitu!”,balas Nyang.
Nyong kembali menyela pembicaraan Nyang dan Nying;
“Sudah-sudah, nyimi baribut terus dari tadi. Kalau bagaimana-bagaimana, itu kain kita pakai tera sa biar besar atau kecil pasti tetap enak di kepala”
“Hahaha..yang serius na kakak!” kata Nyang dan Nying.

“Saya serius ini! Coba nyimi punya mau sekarang bagaimana?”jawab Nyong
“Saya mau kita segera benahi diri biar bisa terwujud pemekaran wilayah Sumba Timur kita ini” kata Nyang.
“Saya mau kita benahi diri saja tak usah repot-repot urus pemekaran” kata Nying.
“Nah, sebenarnya Nyimi punya mau itu tidak jauh beda. Nyimi punya mau Sumba Timur itu lebih maju, berbenah demi melayani rakyat, agar kehidupan rakyat bisa lebih baik, syukur-syukur bisa menuju sejahtera, begitu kan? Jelas Nyong.
“Betul kakak!” jawab Nyang dan Nying serentak.
“Terus menurut kakak bagaimana?” tanya Nyang.
“Apa hubungannya dengan tera tadi?tanya Nying.

“Baik ini menurut saya e...lebih baik kita simpan dulu wawana pemekaran itu di kepala kita, biar itu menjadi pe-er kita. Kita benahi semua instrumen yang ada di kabupaten ini agar bila kelak wacana itu muncul lagi, kita sudah benar-benar siap. Siap fisiknya, siap politisinya, siap rakyatnya dan siap semua-muanya. Nah dengan begitu pemekaran nanti akan berjalan lebih mulus tanpa konflik-konflik yang cenderung merugikan rakyat” jelas Nyong berlagak seperti pengamat kepemerintahan.
“Lha tera-nya mana?” tanya Nying lagi.
“Dasar susah nyambung. Wacana pemekaran yang diibaratkan seperti sepotong kain itu tadi kita pakai jadi tera aja alias kita simpan aja dulu di kepala kita masing-masing”
“O...gitu, kalau begitu cocok kak, saya setuju” komentar Nying.
“Terus kapan wacana itu muncul lagi? Kapan bahas pemekarannya?” tanya Nyang lagi.

“Sekali lagi ini menurut saya o....nyimi dengar baik-baik he... wacana ini nanti akan muncul kembali dengan sendirinya. Kapan? Yaitu apabila ada kemauan keras dari sebagian elit kita yang mewacanakan kembali, entah atas dasar memang sudah menjadi keperluan maupun atas dasar kepentingan-kepentingan lain. Kapan itu? Nanti setelah Pilkada tahun depan. Kalau para Kandidat Bupati dan Wakil Bupati yang kalah serta elit-elit kita yang tersingkir nanti masih ingin mewujudkan mimpinya menjadi pemimpin, bisa-bisa wacana pemekaran ini akan menjadi wacana atau alternatif lain untuk mewujudkan mimpi. Itu pun dengan catatan bila antusiasme elit kita benar-benar serius dan ngotot. Tapi ini hanya menurut saya o...bagaimana?”
“Masuk akal juga kakak”,komentar Nyang dan Nying serentak.

“Nah kalau nanti muncul lagi wacana pemekaran itu, kita akan ingat kembali hasil Kajian Pemekaran Sumba Timur seperti yang direkomendasikan oleh bapak-bapak dari Universitas Indonesia itu. Kita akan akan ingat lagi skenario nomer 4 yang membagi Sumba Timur menjadi 1 Kota dan 3 Kabupaten Baru. Bupati yang terpilih akan tetap menjadi Bupati di Kabupaten Kota. Nyang jadi Bupati di Sumba Pojok dan nyumu Nying jadi Bupati di Sumba Ujung”
“Satunya?” tanya Nyang dan Nying kompak.
“Satunya saya. Saya mau jadi Bupati di Kabupaten Sumba Pinggir!”jawab Nyong.
“Hahaha....cocok Bos” Nyang dan Nying kian kompak.

Saat Nyang-Nying-Nyong asyik bercanda, seorang pegawai menghampiri mereka;
“Kakak-kakak manis, permisi pokrol-nya di luar saja e...”
“Hah nyumu ni kenapa juga e tidak bisa lihat orang senang sedikit?” kata Nyang sedikit geram menanggapi pegawai itu.
“ Bukan begitu kakak, saya mau kasih bersih gedung, seminar su bubar dari tadi na!” jawab pegawai itu.
“Haa..??????” Nyang-Nying-Nyong takujuk sadar seminar sudah bubar.

Waingapu, 04 Pebruari 2009

Catatan:

  • Studi kelayakan Pemekaran Kabupaten Sumba Timur dilakukan oleh Tim dari Departemen Ilmu Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia terdiri dari; Dr. Roy V. Salomo,M.Soc,Sc, Dr. Irvan Ridwan Maksum,Msi, Lina Miftahul Jannah,MSi, Muh. Azis Muslim,MSi dan Umanto,MSi.
  • Skenario 4 skor nilai 383,33. Skor diperoleh dari skenario Kabupaten pertama: menggabungkan Kecamatan Lewa, Lewa Tidahu, Haharu, Nggaha Ori Angu, Katala Hamulingu dan Kecamatan Tabundung menjadi. Kabupaten kedua: tandasnya, terdiri dari Kecamatan Kahaungu Eti, Umalulu, Rindi, Pahunga Lodu dan Kecamatan Wula Waijelu.
  • Kabupaten ketiga; Kecamatan Pinu Pahar, Matawai Lapau, Paberiwai, Karera, Ngadu Ngala dan Kecamatan Mahu dan untuk Kota terdiri dari, Kecamatan Kanatang, Pandawai, Waingapu, Kambera dan Kecamatan Kambata Mapa Mbuhang.
  • Meloi; melihat/mengintip
  • Kayaka; tertawa/bersorak-sorai, dalam budaya Sumba (Kambera) sebenarnya adalah pekikan, yel-yel yang biasanya diucapkan kaum lelaki berupa kata: huu..woo...wuu
  • Kakalak; pekikan panjang dengan memain-mainkan lidah, biasanya diucapkan kaum perempuan, seperti pekikan khas tokoh Xena dalam serial film Xena Warior Princes (Pernah ditayangkan stasiun TV swasta SCTV tiap minggu)
  • Tanganga; melongo terheran-heran
  • Anga-anga; asal-asalan
  • Walla; takut
  • Nyimi; kalian
  • Nyumu; Anda/kamu
  • Bagagi/gagi; terburu buru bertindak/bersikap
  • Tasibuk; bersibuk diri
  • Tera; ikat kepala orang Sumba
  • Pokrol; omong-omong/ngobrol
  • Su; pemenggalan dari kata sudah
  • Sa; pemenggalan dari kata saya, saja
  • Na, he, ko, mo, e, o : hanyalah kata sandang untuk mempertegas kalimat dalam dialek sehari-hari orang Waingapu.
  • Tulisan ini publikasikan di Tabloid Waingapu Pos edisi 50 Tgl. 06-22 Maret 2009

 

 

Komentar  

 
0 # Guest 2009-03-16 17:39
hai bung yongky sapa sih lu kok sok2 nulis ttg sumba? emangnye mmimpi mo jdi bupati sumba ye? muke loe jauh mending pulang jawa jualan jamu mas....
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # Dewie 2009-03-16 18:08
Masih mending bung yongky, bukan orang sumba tapi bisa menulis artikel yg berhubungan dgn sumba. La situ? Apa bisa nulis juga? Gue ragu kalo situ jg bs nulis kayak Bung Yongky... bisanya cuma mencela orang doang. Mending lu baca dulu apa yg tertulis di awal tulisan ini: PARODI...
Namanya jg parodi (atau jgn2 situ gak ngerti ya apa arti parodi?). Sebaiknya kalo mau berkomentar, pikir2 dulu, jangan asal berkomentar. Komentar seseorang akan menunjukkan juga apakah seseorang itu well-educated atau tidak alias bloon. Kalo menurut gue sih, komentar elu malah makin menunjukkan ke-bloon-an elu.
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # Guest 2009-03-16 23:44
Manusia kian bulan,kian tahun terus bertambah,keper cayaan diri kian menghilang.Masing-masing mengurus dirinya sendiri untuk kebahagiaan hidup dan berkerja setiap hari mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa menengok di sekitar ada apa dan siapa.Iman di nomor duakan yang terpenting harta banyak,makan enak dan berkemewahan baru Iman.Inilah Mimpi dari para pemimpin kita di pulau Sumba atau NTT pada Umumnya.Tapi Ingat Kawan kita tak perlu mendiskriminasi kan orang lain.Telunjuk lurus kelingking berkait.
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # Guest 2009-03-16 23:50
Kalau memang sumba timur untuk kedepanya terjadi pemekaran lagi...saya juga mau jadi calon Bupati Sumba Pinggiran...haha...Tak ada yang tak mungkin terjadi di Bumi ini sahabat...kita tunggu sa...PEACE!!
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # Guest 2009-03-17 16:54
Jangan pernah persoalkan apakah Bung Yongky itu orang Sumba atau tidak. Tulisan dan pemikirannya patut dihargai (Matur Nuwun Mas),karena mungkin saja kita-kita yang Sumba asli tulen 1000 karat atau setengah Sumba belum tentu sudah memikirkan sejauh yang dipikirkan dan dituliskan Bung Yongky (walau hanya sebuah parodi)tetapi tetap menggelitik.

Saya sendiri memang sudah seringkali menulis dalam forum-forum seperti ini (dulu, dulu banget di sumbatimur.go.id almarhum). \\

Ketika wacana pemekaran Kabupaten Sumba Barat baru dimulai. Saya menulis bahwa Sumba Timur memang sudah layak dimekarkan juga paling tidak menjadi : Kab. Sumba Timur - Kabupaten Uma Lulu dan atau Kabupaten Lewa dan Kota Madya Waingapu. Berbanding lurus dengan itu, maka akhirnya sampai kepada ide pembentukan PROPINSI SUMBA. Why Not?

Dunia ini berkembang dan masyarakatnya juga berkembang dan bertambah. Memang banyak persoalan dan masalah akan mengikutinya, tetapi yang pasti dan terjadi adalah, yaitu tadi masyarakatnya berkembang dan bertambah.

Salam dari perbatasan Yogya - Jateng di lereng Gunung Merapi.
Saya : Ki Sapu Jagat
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # Guest 2009-03-17 19:56
to bung yongky maafin gue terlalu sensitif dan terlalu curiga sama kaum pendatang di SUMBA. buat semua yang komen di sini maafin gue ye....
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # Ega_Sumba 2009-03-17 20:06
salut deh sy sm Umsum...Umsum pst dimaafkan kok sm bung yongky n smuanya..krn smua member dsni cinta damaiii..sy yakin ituu..:-))).........mari bersama2 kita membangun Sumba tercinta iniii....!!
peace....(^_^)V.........
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # ONKY HS 2009-03-17 22:01
Ambu mbeni yaka ninnya na ma ndapinya kareuku-na lurimu.....
yaka hamu ramamu,
yaka hamu lakumu,
yaka hamu padihamu,
lai nu la ngia mbawa-mu malawa ta tidung tana la katiku.....
(maaf kalau bahasa Sumba-nya salah2)

buat UMBU SUMBA trimakasih komennya, bagi saya apapun komen Anda saya tetap merasa bersyukur ada yang mau baca tulisan saya. satu lagi saya tetap menghargai kejujuran Anda, sekalipun kejujuran itu justru meragukan kapasitas saya. jadi singkatnya: AMAN SA BOSS
Kecuali satu: hati-hati bila DATANG SA PU GILA.......(hehe becanda Bro itu merupakan judul tulisan saya di Kalumbut untuk edisi berikut)
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # Kaparrak 2009-03-18 13:41
NTT.. sudah minus.. tapi yang punya kedudukan.. korupnya minta ampun. Ngga punya perasaan..
Pemekaran.. ide bagus buat yang lulusan IPDN dan skolah sejenis. Baru, kita yang tir pi skolah macam begitu, mo jadi apa? \"ya jadi korban lah...bagaimana pula kau ini \" sa pu teman ada bilang..
Sedih.. Sungguh sedih dibayangkan..
Apakah tanahku masih bisa melahirkan seorang pemimpin, yang tidak rakus??
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # Guest 2009-03-18 15:07
Mas Yongky, sa jane jengengan niku saking pundi tho mas.
Sapun dangu napa theng Sumba niku?

Maaf ya kalau pakai bahasa Jawa, ya sekaligus belajar bahasa jawa juga.
Maaf kalau salah nulisnya.

Mas bahasa Sumbamu ok deh, ok lah, ok dong.

Untuk Umbu Kaparak, tidak usah pesimis, mari kita buat hari esok lebih baik. Kita ketuk hati teman-teman yang ada di Sumba untuk memperbaiki Sumba agar lebih baik ke depan.
Nah teman-teman kesempatan PEMILU ini digunakan untuk pilih orang-orang yang punya komitmen untuk memperbaiki Sumba kedepan lebih baik. Mungkin Umbu Kaparak mau mempelopinya. Merdeka !!!
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # ONKY HS 2009-03-18 17:56
Ata Zuba, langataka ku-peka-nggau eri hamu na Hilu Njawa-mu.
Padenigu, mandai-ka ku-ndadiku lai yuhu ngalang 18 ndaung.
Nggi weli nyumu la Humba? Salam kenal e...
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # Guest 2009-03-19 20:29
Hamu na pangiamu umbu Tau Jawa. Nggi welingula mu nyumu Hurambaya, Malang, Solo, Yogya?

Nyungga tau Lewa ka -Prai paha.
Nyungga la jawa mbada mandai ngguka. Da ananggu tau madua ha. Nyungga kaweadanggunyak a la Jawa.

Mas, napa jenengan niku tasih saget lancar basa jawi. 18 tahun niku pun dangu lho mas. Napa sisihan jenengan niku nggih saking sumba ngaten? Mangke jenengan niki pun gadah putra utawa malah putu? Panganpunten lho mas.

Salam mawon kagem mboke bocah nggih. Nuwun
Saking tlatar Mataram
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # Guest 2009-03-19 20:32
Kula Ata Zuba mas Yongky theng duwur niku.
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # ONKY HS 2009-03-21 03:19
Dalem ndyan sampun dangu wonten parang, sakmeniko nggih tasih tansah eleng uri2 lan boso Jawi...
Da ana-nggu patailu ana kawini, hi nda mandaika mbinu kabanda-nggu la padang na....hehe
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # Guest 2009-04-03 18:28
Menurut saya, Pulau Sumba Dimekarkan Atau Tdk Bkn Suatu Masalah Krn Yg Terpenting Adlh Pelayanan Publiknya saja Yg Diutamakan....
Sekarang Pelayanan Publiknya Saat Sumba Timur Blm Di Mekar Bagaimana..?? Klu Mmg Sudah Bagus ...Ya Sdh Buat Apa Dimekar Bikin Rugi Dn Pusing Negara sj..
Tp Klu blm..Tentu Solusinya Bkn Sj Melalui Pemekaran... Krn Pemekaran Jg Bisa Terjadi Krn Ada Kepentingan2 Individu2 Tertentu Diderah Ini...
Disisi lain Dgn adanya Pemekaran jg sgt bagus krn pelayan pemerintah kpd masyarakatnya lbh dekat...tapi satu hal lg yg prlu dilihat bhw klu dari segi luas daerah mmg layak.. tp mari kt lihat syarat yg lain... jgn smpi di Sumba Timur yg sdh dws ini akn melahirkan " KABUPATEN2 PREMATUR"...yang mempunyai KETERGANTUNGAN FINANSIAL sangat TINGGI dan mempunyai PAD sangat RENDAH...

Thx..

G B Sumba Timur..!
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # Guest 2009-04-04 03:36
haha, ada yang bilang pulau sumba dimekarkan...lucu amat!!
yang ada kabupaten sumba timur yang dimekarkan kali.....:-)
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # Guest 2009-04-28 03:45
mnrut saya sih sumba jadi brapa kabupaten aja nda masalah aya umbu nama penting nahu nyuta tau humba kita benar2 mbuhang untuk maju terlebih da tau tabundung hiena umbu dama mbana menang gaya tapi otak kosong pamokol pa hakola... hakola lati nahi pamung biar tidak ketinggalan weling la tau luar... i umbu yongki sekalipun tau la nggikau tapi na parodimu mantap langataka pamung... bahkan nyugga tau humba asli jarang a hiku wotu parodi tungu na... nitip salam buat da angu nggu pa tau humba ( khususnya da ana kiada tabundung ambu da pamokol pahakola ) melky umbu tonga ... mahasiswa UNMAS BALI ekonomi manajemen.....
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # Guest 2009-05-11 17:53
Kalau kita ingin sumba timur jangan melihat kekurangan sumba dari seberangan, ngimi mbolu ndabamu mahammu luri, mali la anda mapambolungu maningau la hou nuha kabeli ka la humba. kata pawandang pambapangu awau parenggangu ball, kita buat sumba lebih baek
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # Guest 2009-05-23 16:55
Wao jadi pengen ni balik Sumba lagi...spa taw sa pung kawan ni (Bung Yongky) jadi Bupati Sumba Punggir hoahahahaaaaaaa aa
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # Guest 2009-06-24 09:20
kalau memang kita inginkan sumba berubah lebih baik dari hari2 kemarin mari kita satukankan visi dan misi kita semua dalam satu kata satu perbuatan untuk mewujutkan sumba yang kita cintai dan bagi teman2 mhswa mari kita wujutkan mimpim kita untuk sumba.klu krik blh aja tapi utk membanggun.
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # alfie 2010-01-28 12:05
Saya baru baca posting ini. Jadi teringat waktu dulu ikut penelitian tersebut. Pengalaman di Sumba Timur nggak akan terlupakan.
Bagaimana kabar Sumba Timur saat ini? Semoga Sumba Timur jauh lebih baik dari saat penelitian kami dulu.
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 

Tambah komentar

Komentar harus disesuikan dengan isi atau tema artikel. Komentar yang tidak sesuai akan dihapus


Kode keamanan
Refresh