Home > Blog Member > Renungan > Catatan Seorang Pejuang
Catatan Seorang Pejuang Cetak Email
Kontributor: Bonefasius Sambo   
Kamis, 31 Desember 2009 06:58

Di bukit yang tinggi, di sanalah aku dilahirkan. Lahir dari seorang janda miskin. Kata ibu, ayah meninggal saat usiaku 9 bulan. Sedangkan kakak kandungku meninggal diusia 2 tahun sebelum aku dilahirkan. Aku lebih senang kalau dibilang anak tunggal. Mungkin saja cita-cita ibu ingin suatu saat anaknya bisa menjadi petani ulet, atau seorang buruh tangguh, sesuai kondisi saat itu. Apalagi memikirkan dirinya hanyalah seorang janda miskin.

Ironi memang kisah ibuku. Beliau sejak kecil dijodohkan. Jadi, diusia SD harus tinggal di rumah pu'u (rumah adat). Katanya untuk menjadi istri anak dari turunan mosalaki (sekelas orang bangsawan). Sebenarnya bukan ibuku, tapi kakaknya. Diusia dianggap pas untuk menikah, beliau dinikahkan. Sayangnya belum sampai lima tahun menjalani bahtera rumah tangga, Ayahku harus pergi meninggalkan kami selamanya. Tentunya ibu sangat menderita. Dan akibatnya ibu sakit-sakitan.

Di rumah adat itu aku dibesarkan. Ibuku dan akulah yang paling setia di rumah adat itu. Yang lain merantau, yang lain lagi bersama keluarganya. Di rumah pu'u itu seharus ada tiga kepala keluarga. Aku menyadari bahwa aku dan ibuku bukanlah orang istimewa dikeluarga besar kami. Tapi aku bahagia karena sepupuku begitu peduli padaku, terutama anak-anak dari kakak ibuku tadi. Dua belas tahun lebih aku tinggal di rumah pu'u itu sebelum aku dan ibu pindah ke Kefamenanu untuk mengobati penyakit ibu.

Di tempat baru itu, aku dituntut beradaptasi. Maklum orang kampung turun ke kota. Aku banyak mengalami pengalaman yang cukup berat. Aku harus keluar dari rumah pamanku. Aku akui memang karena aku tak mampu beradaptasi. Hal ini terjadi setelah ibu kembali ke Ende. Dari saat itulah, predikat sebagai anak bandel itu melekat pada diriku. Dihina itu kidung harian. Diusir itu merupakan konsekuensi logis. Tapi karena niat yang kuat untuk sekolah itu menjadi kekuatan untuk bersabar dan bertahan.

Semakin aku mengalami berbagai tantangan itu, aku semakin dekat pada Tuhan dalam doa dan puasa. Semangat dan penyerahan mampu mengalahkan teriknya mentari yang membakar kulitku. Dan mampu mengalahkan lebatnya hujan, dan licinnya jalan kala aku tertatih-tatih. Tempat menangisku ialah gua-gua Maria, gereja, dan buku-buku.

Aku tidak boleh menjadi pecundang yang lari dari masalah. Aku tak akan gentar walau badai menerjang, dan inilah komitmenku. Di masa SMA-ku (1998-2001) namanya pacaran bukan motivasiku. Aku punya teman yang tahu persis tentang itu. Sebenarnya aku adalah pengagum kembang-kembang indah. Kekaguman itu aku patahkan dengan teori logikaku; bahwa segala sesuatu tergantung dari kualitas pengaturan perasaan. Masih segar dlm ingatanku ada teman siswi yang begitu peduli sama aku.

Aku memang pindah dari rumah ke rumah. Tapi sejak kelas 2 SMP dan hingga menamatkan SMA aku tinggal bersama keluarga temanku. Mereka memberikan kebebasan padaku untuk berkreasi. Sebagai persembahan kepada mereka terlepas dari kelemahan manusiawi, aku berusaha bersikap baik, disiplin, tekun, dan rasa penuh kasih sayang.

Ora et labora, Tuhan buka jalan bagi hambanya. Tahun 2001 aku lulus tes masuk Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta. Jakarta telah memberikan gambaran baru bagi hidupku. Prestasi kuliahku biasa, tapi aku ada diantara mereka. Saat itu juga, konsep tentang bunga rumputpun lahir. Dan STP Jakarta adalah jembatan untuk mengapai sukses, itu kataku saat setelah di wisuda. Aku meraih gelar Sarjana Sains Terapan Perikanan (S.St.Pi) tahun 2005. Memang sukses itu adalah proses yang panjang, ia butuh pengorbanan, pantang menyerah, rasa optimistis, dan selalu berserah pada Tuhan. Setelah wisuda ibu pertiwi menanti kedatangan kami, guna mengelola ladangnya.

Awalnya aku adalah guru komite di sebuah SMK di Kupang, sekaligus di salah satu dinas, juga sebagai tenaga lepas. Di dinas itulah aku dibimbing seniorku yang baik budinya. Ia juga seorang dosen saat itu. Beliau saat itu juga punya rencana melanjutkan studi ke S3. Puji Tuhan ia telah meraih impiannya itu. Ketika beliau menjadi atasanku ia memperkenalkan kepada rekan-rekannya, bahkan juga tamunya. Obrolan seperti membangun jejaringan, prosedur kerja yang efektif, kepemimpinan itulah yang dideskripsikan olehnya. Bisa jadi, baginya hal itu biasa-biasa saja tapi bagiku itu luar biasa.

Hidup itu misterius. Hal inilah yang terjadi padaku. Tak terpikirkan oleh ku, kelak aku harus berada di Sumba Timur. Awalnya aku ditawarkan untuk menjadi guru di salah satu SMK di kabupaten itu. Karena SMK itu belum memiliki guru mata pelajaran yang spesifik dengan jurusan itu.

Sumba Timur telah menjadikan aku lebih bertanggungjawab dan lebih dalam memaknai hidup.

Kepala sekolahku adalah orangtuaku, mentorku, kakakku, dan juga sahabatku. Banyak hal yang aku dapatkan darinya. Sebagai seorang kepala sekolah dan juga guru, banyak hal yang kami diskusikan. Tentu hal seperti kepemimpinan, manajemen sekolah, KBM, dan aneka strategi menghadapi masalah adalah ihwal yang ramai didiskusikan. Beliau memang peduli denganku. Masalah makan dan minum tidak lepas dari perhatiannya. Sekarang ini aku telah menjadi bagian dari keluarga besarnya di Sumba Timur bersama saudari cilikku yang aku bawa serta.

Tugasku kini jelas, mengurusi anak bangsa. Sebagian anak bangsa kini dalam tanggungjawabku. Mereka harus bisa karena mereka lebih mampu dariku. Adalah kurang bijak bila mereka gagal, bila kegagalan itu disebabkan minimnya rasa kepedulian dan tanggungjawab. Sudah saatnya aku harus berbuat yang lebih baik dan besar untuk sesama. Kiranya jangan ada air mata, sakit hati, permusuhan, rasa dendam dalam membangun hubungan antar sesama.

Hidup ini tak akan indah tanpa usaha keras dalam ikatan rantai kasih, dan akan lebih indah lagi bila mampu berkarya dan hasilnya berdaya guna bagi sesama.

Kini, aku meyakini bahwa Tuhan punya rencana indah buat Anda dan Saya. Semoga.

Di ambil dari buku catatan harian.

 

Komentar  

 
0 # ety 2010-04-09 14:02
wow hebat....
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 
 
0 # Badl0ok 2010-05-03 21:36
I think s0.
Balas | Balas dengan kutipan | Kutip
 

Tambah komentar

Komentar harus disesuikan dengan isi atau tema artikel. Komentar yang tidak sesuai akan dihapus


Kode keamanan
Refresh