Namaku Gadis. Aku memang seorang gadis tapi bukan karena itu aku dipanggil Gadis. Namaku sebenarnya adalah Gladys tapi karena satu alasan yang memerintah dalam kepolosan anak-anak maka namaku diubah tanpa ritual khusus menjadi Gadis. Teman sepermainanku memanggil aku Gadis. Teman sekolahku pun demikian. Aku adalah seorang gadis yang tersapa Gadis.
Akhir tahun 1997 merupakan tahun yang amat istimewa dalam hidupku. Saat dimana aku diwisuda. Di antara para wisudan/wisudawati, aku duduk merenung. Seraya mengucapkan kata syukur, “Alhamdulillah”. Disaat itu pula akupun menyadari, ternyata hanya aku anak petani miskin. Ada kebahagian tersendiri buatku. Toh walaupun demikian keadaanku, aku bisa duduk sejajar dengan anak pegawai, anak bupati, bahkan anak dari konglemerat. Saat itu perasaanku campur baur, bangga dan terharu. Inilah buah jerih payah oramg tuaku.
"Cinta-kah yang sedang kau lukiskan?", tanyaku padanya.
Kahlil: “No, aku tak melukis cinta, tapi cinta yang mengukirku kemudian aku menjadi etalasenya”.
Jika manusia bisa mencintai pasangannya tanpa syarat. Bayangkan, bagaimana besarnya cinta Tuhan kepada kita yang adalah ciptaanNya. AanakNya. sahabatNya. saudaraNya... God Bless....
Satu kisah cinta baru-baru ini keluar dari China dan langsung menyentuh seisi dunia. Kisah ini adalah kisah seorang laki-laki dan seorang wanita yang lebih tua, yang melarikan diri untuk hidup bersama dan saling mengasihi dalam kedamaian selama setengah abad.
Selalu kubawa buku agenda pemberian Ngana kemana pun aku pergi. Di Bandara Soekarno-Jakarta kutulis-tulis sambil menanti pesawatku berangkat menuju Frankfurt-Jerman.